Scroll Untuk Membaca Artikel
Nasional

Dilema Pemilihan Rektor UIM Pamekasan, Mahasiswa Gelar Aksi Terkait Perubahan Statuta Mencurigakan

×

Dilema Pemilihan Rektor UIM Pamekasan, Mahasiswa Gelar Aksi Terkait Perubahan Statuta Mencurigakan

Sebarkan artikel ini
Dilema Pemilihan Rektor UIM Pamekasan, Mahasiswa Gelar Aksi Terkait Perubahan Statuta Mencurigakan
FOTO: Mahasiswa saat aksi di Kampus hijau UIM Pamekasan

LIMADETIK.COM, PAMEKASAN – Dilema pemilihan Rektor Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, Jawa Timur, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus (AMPK) menggelar aksi unjuk rasa, mereka meminta klarifikasi sekaligus menuntut keterbukaan tim Panitia Pelaksana Pemilihan Rektor (P3R) terkait pemilihan Rektor yang dinilai ada kejanggalan.

Mahasiswa dengan semangatnya menyuarakan aspirasi mereka dalam menjaga keterbukaan dan kejujuran dalam proses pemilihan Rektor yang akan dilaksanakan Hari ini, Rabu (21/12/22).

GESER KE ATAS
SPACE IKLAN

Koorlap aksi, Suadi Ansori mengatakan, kedatangan mereka ingin menyampaikan beberapa permasalahan yang terjadi, itu karenanya mereka menuntut, pertama, mahasiswa meminta P3R untuk memberikan klarifikasi kepastian keabsahan statuta untuk bakal calon rektor, yaang kedua, mereka meminta P3R tidak menetapkan bakal calon yang melanggar statuta nomor 2 tahun 2020 dan statuta nomor 1 thn 2022.

“Selain dua hal yang diatas, kami juga meninta agar P3R mendiskualifikasi bakal calon rektor yang tidak sesuai dengan statuta. Kemudian, senat Universitas Islam Madura tidak mengusulkan kepada yayasan terhadap bakal calon yang tidak sesuai dengan statuta” kata Suadi dengan lantang.

Apabila kata Suadi, point 1 sampai dengan poin 4 tidak diindahkan, maka mereka akan mencari keadilan di luar kampus termasuk diantaranya LLDIKTI, KOPERTAIS, DIKTI dan juga DIKTIS.

Hal ini lanjut dia, berawal dari perubahan statuta secara mendadak, tandatangan Ketua Yayasan yang terindikasi palsu dan ketertutupan tim P3R terkait pemilihan rektor UIM.

“Sebagai suara Tuhan, mahasiswa tidak tinggal diam dan menyampaikan aspirasi mereka lewat aksi demonstrasi yang dilaksankan di depan Gedung Rektorat UIM” tandasnya.

Dengan penuh semangat, para mahasiswa menyuarakan semua aspirasi, namun ternyata tidak ada satupun dari pihak kampus yang datang menemui. Baik dari Plt Rektor, P3R dan bahkan suara mereka hanya dianggap tidak ada artinya.

Tidak mau menyerah begitu saja, mahasiswa tetap menunggu sampai mereka ditemui, namun, lagi lagi hasilnya tetap nihil hingga akhirnya sebagai jalan alternatif akibat kekecewaan mahasiswa, mereka menyegel Kantor Senat, BAAK dan BAUK sampai mereka mau menemani massa aksi.

Berbicara masalah aturan yang dilanggar, salah Suadi Ansori, orator aksi menyatakan, bahwa akibat dari pemalsuan tandatangan maka pelaku bisa dikenai Pasal 263 ayat (1) KUHP disebutkan. Barangsiapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat menerbitkan sesuatu hak, sesuatu perjanjian (kewajiban) atau sesuatu pembebasan utang, atau yang boleh dipergunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan.

Dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat-surat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan Maka kalau mempergunakannya dapat mendatangkan sesuatu kerugian dihukum karena pemalsuan surat, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun.

“Atau singkatnya, mantan Rektor UIM bisa dipenjara sebab hal ini jika kecurigaan mahasiswa terbukti benar” tukasnya

× How can I help you?