https://limadetik.com/

Dinilai Merugikan Pelaku Wisata, ASPRIM Protes Kebijakan Penyekatan Pemberlakuan Tes Antigent di Suramadu

  • Bagikan
Dinilai Merugikan Palaku Wisata, ASPRIM Protes Kebijakan Penyekatan Pemberlakuan Tes Antigent di Suramadu
FOTO: Aprim

SUMENEP, LimaDetik.com – Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM) protes atas kebijakan penyekatan pemberlakuan tes antigent bagi semua pengendara yang melintas di Jembatan Suramadu arah Madura menuju Surabaya, yang dilakukan sejak tanggal 6 Juni 2021 hingga sekarang oleh Pemerintah Jawa Timur dan Pemda Surabaya.

Ketua Umum Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM) Achmad Vicky Faisal, memprotes kebijakan Pemerintah Jawa Timur dan Pemda Surabaya atas penyekatan di daerah Suramadu.

https://limadetik.com/

Karena, menurutnya akibat kebijakan tersebut berdampak pada pengunjung wisatawan yang hendak berlibur ke madura merasa ketakutan yang luar biasa, bagi warga Madura dimanapun berada. Seluruh Madura seolah-olah terjangkit semua, sehingga harus dites Antigen semua.

“Sebuah ketakutan yang beredar luas, sehingga wisatawan dan warga luar madura tak satupun yang mau berkunjung ke madura. Padahal, hanya ada tiga kecamatan di bangkalan yang zona merah, kenapa harus seluruh madura disekat” paparnya.

Selain itu, Achmad Vicky Faisal mengatakatan dengan adanya penyekatan itu juga berdampak kepada ekonomi di Madura utamanya bidang pariwisata.

“Akibat penyekatan itu, jelas penurunan omset hingga 90%, banyak karyawan yang dirumahkan sementara. Bus wisata yang rata-rata 30-50 bus masuk ke Madura setiap harinya, jadi tak ada lagi, hunian tamu hotel anjlok,” ujarnya.

Lebih lanjut Achmad Vicky Faisal mengatakan terjadi diskriminasi Plat Nomor dan KTP Madura, jadi sasaran penyekatan dan target tes Antigen.

“Siapapun yang ber-KTP Madura dan Kendaraan Plat M, dicurigai dan menjadi target Tes Antigen” tudingnya.

Achmad Vicky Faisal meminta Pemerintah Jawa Timur dan Pemda Surabaya lakukan tes antigen di sisi Madura, jangan membuat kesan seolah Pemda Surabaya mewaspadai seluruh warga Madura.

“Pindahkan blokade yang asalnya di suramadu ke zona merah saja (arosbaya) sesuai kaidah PPKM yaitu lockdown mikro bukan kaidah PSBB, libatkan Tim Kesehatan dari Madura dan Tokoh Masyarakat Madura untuk edukasi Tes Antigen,” tegasnya.

Serta gunakan GNose untuk tes, jika ada gejala positif bisa dilanjut Antigen dan PCR. Gnose lebih murah, lebih cepat bisa hemat uang negara dan tidak berkesan menakutkan bagi sebagian warga madura

Meminta Pemprov Jatim Untuk mengambil Langkah yang cepat dan tepat serta strategis terhadap sesuatu yang berkaitan dengan Covid-19. Peran serta Pemerintah sangat dibutuhkan, Khususnya Pemkab Bangkalan dan Pemkab se Madura Pada Umumnya dalam melakukan sosialisasi secara intensif dan bersungguh sungguh, Melakukan Pengawasan dan mengambil tindakan yang cepat dan tepat terhadap penanganan Covid-19.

“Kami juga mendesak Pemkab Bangkalan untuk segera menyelesaikan persoalan dengan cepat dan tepat untuk memulihkan kondisi ekonomi. Karena dampak yang dirasakan oleh pelaku usaha pariwisata yang ada di Kabupaten bangkalan pada khususnya dan madura Pada umumnya sangat dirasakan dampaknya dengan penurunan Omset 90 % sejak adanya Blokade di Jembatan suramadu” tuntutnya.

Tambah Vicky, pihaknya juga sekaligus meminta Pemkab Bangkalan untuk memperbaiki kesan yang tidak menguntungkan dengan meningkatnya Kasus Covid-19 di Kabupaten Bangkalan.

“Meminta Masyarakat Madura untuk mempunyai kesadaran dalam mematuhi Protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Pemerintah, serta memberikan kesan yang baik agar orang diluar Madura mau berkunjung ke Madura,” tambahnya.

(Bahri/yd)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan