SUMENEP, Limadetik.com – Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur mengawali visit year 2018 dengan menggelar event “Sumenep Mengukir”. Acara yang digelar di lapangan Desa Karduluk, Rabu (31/1/2018) berjalan dengan lancar.
Hanya saja, pagelaran yang ditargetkan dapat menyedot banyak wisatawan itu tidak sesuai keinginan. Padahal event tersebut merupakan gong pembuka dari berbagai event yang bakal digelar dalam rangka “Visit Year 2018” ini.
Buktinya, dari rencana awal akan melibatkan tidak kurang dari 652 peserta yang terdiri dari pengrajin seni yang asli berasal dari Desa Karduluk, serta dua desa tetangga, yakni Desa Aeng Panas dan Guluk Manjung. Namun kenyataannya, Sumenep Mengukir hanya diikuti tidak lebih dari 300 pengrajin. Sehingga, praktis taget memecahkan rekor untuk Museum Rekor Indonesia (Muri) gagal total.
“Acaranya sukses, tapi pemecahan rekor yang ingin kita capai tidak terlaksana,” kata Ketua Paguyuban Parjhughe (paguyuban pengrajin ukir desa setempat), Moh. As’adi.
Menurutnya, gagasan Sumenep Mengukir sejatinya sudah digagas sejak 2016 lalu oleh para pemuda setempat dan diajukan ke Disparbudpora. Namun rencana itu gagal terlaksana lantaran tak adanya dana.
Kemudian pada 2017, agenda Sumenep mengukir mendadak muncul dalam list event Disparbudpora tanpa pemberitahuna dan koordinasi dengan Paguyuban Parjhughe selaku penggagas awal, tapi lagi-lagi agenda itu gagal digelar.
“Baru pada tahun ini acara yang dimaksudkan untuk mendongkrak kerajinan ukir Karduluk sukses terlaksana. Tapi ya itu, persiapannya mendadak dan saya merasa tidak maksimal,” terangnya.
Ia menceritakan, dirinya dan generasi muda lainnya di Desa Karduluk berambisi dapat memecahkan rekor mengukir terbanyak dalam satu tempat yang saat ini masih dipegang Jepara dengan 502 pengukir.
“Satu sisi kami bangga acara ini akhirnya terlaksana, tapi disisi lain kami menyayangkan acara semacam ini tidak digelar maksimal oleh Pemkab. Apalagi saya dengar ini adalah gong Visit Year” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Disparbudpora Sumenep, Sufiyanto saat masih di lokasi kegiatan menuturkan, bahwa jumlah pengrajin dari Karduluk sendiri sebanyak 597 orang, didukung dari Desa Aeng Panas dan Guluk Manjung.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Karduluk yang telah melestarikan budaya ukir. Kedepan Ukiran Karduluk kita akan jadikan destinasi wisata minat khusus, setelah batik dan pembuatan garam,” kata Sofi. (Hoki/yd)