Opini

HMI Kembali Melahirkan Wisuda Terbaik di IAI Al-Khairat Pamekasan: Dialektika Iman, Ilmu, dan Amal

×

HMI Kembali Melahirkan Wisuda Terbaik di IAI Al-Khairat Pamekasan: Dialektika Iman, Ilmu, dan Amal

Sebarkan artikel ini
HMI Kembali Melahirkan Wisuda Terbaik di IAI Al-Khairat Pamekasan: Dialektika Iman, Ilmu, dan Amal
Wisudawati terbaik, Irma Syafitri, Mahasiswi IAI Al-Khairat Pamekasan

HMI Kembali Melahirkan Wisuda Terbaik di IAI Al-Khairat Pamekasan: Dialektika Iman, Ilmu, dan Amal

LIMADETIK.COM – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali menegaskan jati dirinya sebagai organisasi kader yang tidak berhenti pada romantisme gerakan, tetapi konsisten melahirkan kualitas insan akademik. Dalam dua tahun berturut-turut, kader HMI berhasil menorehkan prestasi tertinggi di Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan.

Fakta ini menegaskan bahwa HMI bukan sekadar organisasi perjuangan, melainkan ruang dialektika antara iman, ilmu, dan amal sebagaimana ditegaskan dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP).

Pada tahun 2024, nama Kanda Noris Soleh mencuat sebagai wisudawan terbaik. Capaian tersebut bukan semata prestasi individual, tetapi refleksi dari watak intelektual kader HMI.

Dalam berbagai pernyataannya, Kanda Noris menegaskan bahwa proses akademik harus dibaca sebagai kerja intelektual yang bermuara pada pengabdian. Baginya, ilmu tidak boleh terjebak pada menara gading kampus, melainkan harus berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Pandangan tersebut sejalan dengan NDP HMI yang menempatkan manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki tanggung jawab historis. Prestasi akademik, dalam kerangka ini, bukan tujuan akhir, melainkan instrumen pembebasan dari kebodohan, ketertinggalan, dan ketidakadilan.

Kanda Noris membuktikan bahwa aktivisme dan akademik bukan dua kutub yang saling menegasikan, melainkan dua energi yang saling menguatkan.

Estafet keunggulan itu berlanjut pada tahun 2025 melalui yunda Irma Syafitri, kader HMI yang dinobatkan sebagai wisuda terbaik.

Kehadirannya membawa pesan ideologis yang kuat: bahwa perempuan kader HMI memiliki ruang, kapasitas, dan legitimasi untuk menjadi subjek utama dalam produksi ilmu pengetahuan.

Di tengah realitas sosial yang masih sering meminggirkan peran perempuan, Irma hadir sebagai negasi terhadap narasi subordinatif tersebut.

Yunda Irma Syafitri merepresentasikan kesadaran NDP tentang kesetaraan martabat manusia. Ia menunjukkan bahwa intelektualitas tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kesungguhan dalam proses berpikir dan berjuang.

Prestasinya adalah kritik diam terhadap budaya instan dan pragmatisme akademik yang kerap menjangkiti dunia kampus. Dua capaian ini sekaligus menjadi cermin bagi internal HMI. Bahwa kaderisasi yang berorientasi nilai harus terus dipertahankan dan diperkuat.

Wisuda terbaik bukan sekadar simbol kebanggaan, tetapi indikator keberhasilan sistem pembinaan insan akademis yang berkepribadian Islam dan berwawasan kebangsaan.

Lebih jauh, prestasi ini adalah penegasan bahwa HMI masih relevan dalam menjawab tantangan zaman. Ketika kampus terjebak dalam logika administratif dan pasar, HMI justru menawarkan arah: membangun intelektual profetik yang kritis, transformatif, dan berpihak pada kemanusiaan. Inilah wajah ideal insan cita yang tidak hanya pandai berpikir, tetapi juga berani berpihak.

HMI kembali melahirkan wisuda terbaik. Namun yang jauh lebih penting, HMI sedang dan harus terus melahirkan kesadaran. Kesadaran bahwa ilmu adalah amanah, prestasi adalah jalan, dan perjuangan adalah keniscayaan.

Ditulis di Pamekasan:
Tim Limadetik.com