https://limadetik.com/

Media Online Limadetik.com Akan Menggelar Pelatihan Reportase, Simak Pesan Salah Satu Pemateri

  • Bagikan
Media Online Limadetik.com Akan Menggelar Pelatihan Reportase, Simak Pesan Salah Satu Pemateri

SUMENEP, LimaDetik.Com – Dalamrangka ikut serta membangun generasi bangsa yang cerdas dan berkualitas untuk menghadapi tantangan digitalisasi yang kian canggih, media online limadetik.com akan menyelenggarakan pelatihan reportase jurnalistik bagi mahasiswa dan pelajar serta umum.

Kegiatan pelatihan reportase tersebut akan digelar selama dua hari, di mana untuk hari pertama, Sabtu (27/02/2021) di tempatkan di Warkop Cuan di Jalan Adhirasa Kolor Kota Sumenep. Sedangkan untuk hari kedua Minggu (28/02/2021) di Tabularasa Cafe Jalan Dr.Cipto No.50 Kolor Kota Sumenep.

https://limadetik.com/

Sejumlah materi jurnalistik akan disajikan dan disampaikan langsung oleh para pemateri yang akan hadir di antaranya Wahyudi (Dir.Pemberitaan limadetik.com) Badrur Rosi (pemred maduratoday.com) Syamsul Arifin (Ka Biro Harian Bhirawa) dan Nur Khalis (Junalis Kompas TV).

Wahyudi, salah satu pemateri yang akan membawakan materi reportase terkait penyunting berita menyebutkan beberapa hal yang menjadi kekurangan reportase, di antaranya adalah kurangnya empati dan penjiwaan. Menurutnya, dua hal tersebut menjadi hal yang penting untuk diperhatikan oleh seorang reporter.

“Reporter menggunakan hal-hal seperti apa yang kita rasakan, dengar, sentuh untuk dilaporkan. Namun, kita sebagai wakil pemirsa, kadang masih kurang mewakili dengan cara mencitrakan apa yang kita rasa, dengar, lihat, dan seterusnya,” ungkap reporter senior Ini, Kamis (25/2/2021).

Di samping itu kata Wahyu sapaan akrabnya, melaporkan suatu kejadian yang ditangkap oleh keseluruhan pancaindra, menjadi hal dasar pertama yang perlu diperhatikan oleh seorang reporter. Selain itu, hal dasar kedua yang penting dilakukan adalah perihal penampilan, “TV merepresentasikan audiovisual, jadi ketika menampilkan sesuatu harus menarik. Dalam hal ini, make up adalah sebuah keharusan,” paparnya.

Mantan wartawan memorandum ini mengatakan, teknik dasar reportase ketiga adalah menjadikan pemirsa seperti tidak ada jarak. “Reportase harus turun ke lapangan, untuk melihat kondisi masyarakat langsung. Sehingga, dalam hal ini, kita berusaha mewakili apa yang kita lihat di lapangan kepada pemirsa. Dan usahakan ketika menyampaikan sesuatu, kita seperti sedang ngobrol, biar terasa cair sehingga tidak ada jarak dengan para pemirsa,” imbuhnya.

Wahyudi menyampaikan bahwa teknik dasar reportase selanjutnya adalah kreativitas dalam mencari berita. Ia mencontohkan, ketika harus meliput kejadian yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan narasumber seperti kasus Malaysia Airlines MH370, salah satu cara untuk tetap mendapatkan informasi adalah dengan mencari jurnalis/media setempat untuk diwawancarai demi menggali tanggapan serta pandangan terhadap sikap pemerintah atau kasus yang sedang terjadi.

Lebih lanjut, mantan Pemimpin redaksi limadetik.com ini menjelaskan, teknik dasar yang terakhir yaitu menyebutkan hal-hal yang mengandung konsep 5W+1H. Bahkan, menurutnya, hal ini juga dapat digunakan untuk mengisi keleluasaan waktu reportase yang cukup panjang.

“Yang penting, menjadi jurnalis adalah harus terjun ke lapangan. Menggunakan bahasa yang digunakan oleh setiap orang dengan beragam latar belakang, ini menjadi sebuah tantangan,” pungkasnya.

(ryan/jrl)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan