Mobilitas Sosial dan Perjalanan sebagai Modal Kognitif: Menimbang Relasi Pengalaman, Interaksi, dan Kecerdasan Manusia
Oleh: Moh. Hamdan Rois, S.Pd.
Praktisi Pendidikan
______________________________________
ARTIKEL – Kecerdasan manusia tidak lagi sekadar kemampuan menghafal atau penguasaan pengetahuan formal di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks. Dunia pendidikan modern menekankan pengalaman sosial, interaksi lintas budaya, dan kemampuan adaptasi sebagai komponen penting dari kecerdasan.
Satu tesis menarik muncul dalam konteks ini: bertemu dengan banyak orang dan bepergian kemana saja dapat membuat seseorang itu menjadi cerdas.
Kecerdasan dalam Perspektif Multidimensional
Teori kecerdasan modern telah lama meninggalkan pandangan tunggal tentang inteligensi. Howard Gardner melalui Multiple Intelligences Theory menegaskan bahwa kecerdasan mencakup berbagai dimensi, seperti kecerdasan linguistik, interpersonal, intrapersonal, hingga kecerdasan budaya (Cultural Intelligence).
Dalam kerangka ini, interaksi sosial dan mobilitas geografis berpotensi besar mengasah kecerdasan interpersonal dan intrapersonal seseorang.
Robert Sternberg juga memperkenalkan konsep successful intelligence, yakni kecerdasan yang mencakup kemampuan analitis, kreatif, dan praktis. Bepergian dan bertemu banyak orang menyediakan ruang nyata bagi individu untuk mengembangkan kecerdasan praktis kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata yang kompleks dan tidak terstruktur.
Pengalaman sebagai Sumber Pembelajaran Kognitif
Dari sudut pandang psikologi pendidikan, pembelajaran paling bermakna terjadi ketika individu terlibat langsung dengan pengalaman. Teori Experiential Learning yang dikemukakan David Kolb menegaskan bahwa pengetahuan dibangun melalui siklus pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen aktif. Bepergian ke lingkungan baru dan berinteraksi dengan orang-orang berbeda secara sosial maupun budaya menyediakan pengalaman konkret yang kaya untuk proses tersebut.
Penelitian neurosains juga menunjukkan bahwa plastisitas otak dapat ditingkatkan dalam lingkungan yang penuh dengan stimulus sosial dan budaya. Dalam lingkungan baru, otak perlu membangun koneksi sinaptik baru, terutama dalam hal bahasa, pemecahan masalah, dan regulasi emosi. Dengan kata lain, mobilitas sosial dan geografis meningkatkan kemampuan kognitif.
Dimensi Sosial: Perspektif, Empati, dan Berpikir Kritis
Berinteraksi dengan banyak orang dari latar belakang berbeda memperluas sudut pandang individu. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan perspective-taking, yang merupakan komponen penting dalam berpikir kritis dan pengambilan keputusan etis.
Studi dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa individu yang sering berinteraksi lintas kelompok cenderung memiliki tingkat empati dan toleransi yang lebih tinggi, serta lebih mampu menghindari bias kognitif.
Dalam konteks pendidikan kewargaan dan global citizenship, mobilitas dan interaksi sosial memperkaya cultural intelligence, yaitu kemampuan memahami dan berfungsi secara efektif dalam konteks budaya yang beragam. Kecerdasan jenis ini semakin relevan di era globalisasi dan masyarakat multikultural.
Pengalaman Tidak Selalu Berujung Kecerdasan
Meskipun demikian, penting untuk menegaskan bahwa pengalaman sosial dan perjalanan tidak secara otomatis meningkatkan kecerdasan. Tanpa refleksi kritis, pengalaman justru dapat menjadi dangkal atau bahkan memperkuat prasangka. Paulo Freire mengingatkan bahwa pengalaman harus disertai kesadaran reflektif (Critical consciousness) agar benar-benar membebaskan dan mencerahkan.
Dalam dunia pendidikan, fenomena ini terlihat ketika mobilitas hanya dimaknai sebagai gaya hidup konsumtif berpindah tempat tanpa proses belajar, observasi, dan refleksi. Oleh karena itu, kualitas interaksi dan kedalaman refleksi jauh lebih menentukan daripada kuantitas perjalanan.
Relevansi dengan Tradisi Keilmuan Islam
Menariknya, gagasan ini memiliki resonansi kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Konsep rihlah ilmiah yang dilakukan para ulama klasik menunjukkan bahwa bepergian bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan strategi epistemologis untuk memperluas ilmu, memperkaya perspektif, dan melatih kerendahan hati intelektual. Imam al-Ghazali, Ibn Batutah, hingga Imam Bukhari menjadikan perjalanan sebagai bagian integral dari pembentukan keilmuan dan kebijaksanaan.
Pada akhirnya, perjalanan dan mobilitas sosial hanya dapat berfungsi sebagai modal kognitif yang bermanfaat apabila dilakukan dengan tingkat kesadaran dan penghayatan yang tinggi. Perjalanan tidak lebih dari sekadar perpindahan ruang tanpa makna di era modern yang ironis.
Perjalanan yang terburu-buru mungkin memberikan lebih banyak tempat untuk dilihat, tetapi belum tentu memberikan lebih banyak akal. Sebaliknya, perjalanan yang dipenuhi dengan keterbukaan, diskusi, dan refleksi dapat mengubah pengalaman menjadi pengetahuan dan interaksi menjadi kebijaksanaan sosial.
Dengan demikian, kecerdasan manusia berasal dari kemampuan mereka untuk memahami setiap situasi yang mereka hadapi, bukan dari seberapa jauh mereka berjalan.












