LIMADETIK.com, Oleh : Subliyanto

ARTIKEL — Saat ini, kita diselimuti dengan berbagai macam persoalan kehidupan bangsa. Mulai dari masalah sosial, masalah ekonomi, dan pendidikan. Semuanya tidak luput dari permasalahan yang menimpanya dan harus dan terus dicarikan solusinya oleh kita semua.

Dalam bidang pendidikan misalnya, kurang lebih baru genap satu tahun terjadinya perlawanan murid kepada guru yang berakibat pada meninggalnya guru bernama Budi Cahyono di Sampang, kini dunia pendidikan kembali dicederai dengan sikap murid yang tergolong sama yaitu “melawan” guru, yang terjadi di Gresik belum lama ini. Sehingga kejadian tersebut menjadi santer diperbincangkan di dunia pendidikan.

Wajar dikomentari dan harus diatasi, karena yang demikian jika dibiarkan akan menjadikan tercorengnya wajah dunia pendidikan di negeri ini. Memang, kejadian-kejadian semacam itu kalau dipersentasekan tidak banyak, artinya siswa-siswi yang masih punya etika baik masih lebih banyak. Dan itulah aset bangsa ini yang harus dan terus dirawat.

Namun demikian jika moral anak bangsa tidak terus kita dikontrol khususnya dalam dunia pendidikan, maka sikap-sikap yang tidak hormat tersebut akan menjadi warisan dan pada akhirnya menjadi kakakter putra-putri kita. Tentu kita semua tidak menginginkan hal itu terjadi. Karenanya pendidikan moral yang dalam bahasa agama Islam disebut dengan akhlaq sangatlah penting. Karena hal itu akan menjadi penentu baik tidaknya masa depan bangsa ini selanjutnya.

Maka kalau kita safari ke lembaga-lembaga pendidikan tradisional, khususnya di pesantren-pesantren, yang lahirnya lebih awal dari lembaga-lembaga pendidikan yang modern, kita akan menjumpai yang namanya kitab “Ta’limul Muta’allim”. Dimana kitab itu menjadi buku pegangang awal sebagai buku pedoman akhlak bagi para peserta didiknya.

Diantara cuplikan konten dari buku yang disusun oleh BurhanuddinĀ al-Islam Al-ZarnujiĀ tersebut adalah dikatakan bahwa : “Manusia tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecuali dengan menghormati gurunya”. Hal itu menunjukkan bahwa sikap memuliakan guru sangatlah penting.

Guru merupakan sosok orang tua bagi para muridnya. Maka peran guru adalah sama persis dengan peran orang tua. Yaitu mendidik putra-putrinya agar menjadi anak yang baik, yang dalam definisi istilah pendidikan diartikan sebagai pengembangan seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek kognitif, afektif, dan aspek psikomotorik.

“Ketinggian ahlak dan kemajuan seseorang dan kemuliaan budi bisa dilihat dengan cara ia bagaimana memperlakukan dan menghargai seorang guru.” (Ary Ginanjar ESQ).

Maka muliakanlah guru niscaya kita akan mendapatkan keberkahan ilmu. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here