UA-110482044-1, G-W7VVX1GT8W
Opini  

Pejabat Tak Tahu Diri

Pejabat Tak Tahu Diri
FOTO: Sulaisi Abdurrazaq (kanan)

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq
(Penasehat Hukum Fauzi)

______________________________

SAFIUDDIN adalah tokoh, yang berani menyalakan api, dan tak kuasa memadamkannya.

Tulisan ini hanya pendapat, pesan, kesan dan penilaian. Semacam _raport_ yang nilainya diberikan publik secara bebas kepada pejabat yang makan dan hidupnya dari duit hasil keringat rakyat.

Bahasa-bahasa dalam tulisan ini semacam satire, metaforik, terkadang sarkastik. Jangan samakan dengan sajian fakta dalam kaidah hukum. Agar tidak tersesat.

Tindakan Safiuddin cenderung “menjijikkan”. Sekali meludah, tiga dunia sekaligus bisa bau amis: dunia peradilan, dunia LSM dan dunia Pers.

Dunia peradilan adalah tempat ia mencurahkan tugas negara, karena ia seorang ASN, tepatnya Panitera Pengganti di lembaga peradilan.

Dunia LSM, ia jadikan sebagai sarana personal branding, sarana agar bisa berlagak aktifis, bersikap kritis, bahkan sarana memuji-muji kekuasaan-untuk tidak mengatakan cari muka dan licik.

Selain berprofesi sebagai Panitera Pengganti di Pengadilan Agama Pamekasan, manusia ini juga Ketua LSM.

Biasanya bertindak sebagai: Ketua Komunitas Warga Kepulauan (KWK) Sumenep, Ketua Lembaga Penelitian, Mediasi, Advokasi dan Bantuan Hukum (BANHUM MERDEKA) Sumenep, Pengurus Lembaga Perlindungan Konsumen dan Kebijakan Publik (LPK KP).

Dunia pers ia jadikan alat agitasi dan propaganda. Alat menebar fitnah, alat menyerang kehormatan “mangsa”, agar “mangsa” tunduk pada skenario atau skema yang ia susun sendiri. Alat memuji dan “menjilat pantat” kekuasaan.

Saya curiga, ada pamrih atau keuntungan yang ia kejar dari propaganda-propaganda yang ia lakukan.

Entah untuk kepentingan biaya membuat istri lebih glowing, atau kepentingan lain berkaitan dengan orbitisasi pasangan yang kebetulan juga advokat.

Baca Juga :   Keistimewaan Ramadan Telah Sirna

Jurnalsekilas.com dan KWK News salah satu media yang patut diduga dalam kendali dirinya.

PT. Media Kaweka Merdeka adalah badan hukum Jurnal Sekilas, Direkturnya bernama Nur Jannah, SH.,MH, istri Safiuddin sendiri. KWK News berkantor di alamat yang sama dengan Jurnal Sekilas.

Cukup menjadi penanda, bagaimana Safiuddin mengatur skema dan skenario sendiri untuk tujuan tertentu yang hanya Allah, dia sendiri dan malaikat yang tahu ultimate goal nya kemana.

Safiuddin menyalakan api dan membuat peta konflik. Paling mutakhir, memilih lawan Fauzi As, yang ia kira mudah dijagal. Ia lupa, Fauzi anak besi. Fauzi bukan manusia, ia dinamit yang bisa meledak atau diledakkan kapan saja.

Jurnal Sekilas yang dikomandani Tammo selaku Pimred, bawahan Nur Jannah, istri Safiuddin, sempat menyerang dan menggores nama baik Fauzi.

Fauzi dicitrakan sebagai penipu dan makelar kasus. Tapi akhirnya Tammo menyebut bahwa isi berita itu tidak benar.

Tammo minta maaf dan menyatakan isi berita bukan berasal dari dirinya, melainkan intervensi seseorang. Dugaan saya diintervensi Safiuddin.

Mengapa begitu? Karena media dan wartawan-wartawan lainnya telah mengakui siapa yang mengkoordinir skenario untuk “menjagal” Fauzi. Berapa duit mereka terima.

Sudah ada rekaman permintaan maaf sekaligus testimoni, serta surat-surat lain yang isinya klarifikasi dan minta maaf.

Tammo menyatakan akan keluar dari Jurnal Sekilas, karena ia merasa tidak punya kemerdekaan sebagai Pimred.

Nama Tammo digunakan dalam posisi yang rawan pidana pada pemberitaan fitnah, tak hanya menabrak KEJ.

Isi berita sudah ada yang atur. Bahkan tanpa nara sumber. Skenario fitnah berjalan sesuai intervensi.

Baca Juga :   Opini: Guru, Pengabdian yang Mulai Dilupakan

Sunanto, Kepala Desa Buddi Arjasa Sumenep, yang diakui Safiuddin sebagai ponaannya, bahkan menyatakan tidak pernah jumpa pers, tidak pernah memberikan rilis dan tidak pernah menjadi nara sumber media manapun.

Tapi, media-media yang patut diduga dikoordinir Safiuddin itu menyusun judul dan isi berita yang menghakimi Fauzi, seolah-olah Fauzi makelar kasus dan menipu. Meski akhirnya meminta maaf pada Fauzi.

Safiuddin yang rajin share berita-berita fitnah itu. Badan hukum Jurnal Sekilas yang ia jadikan alat penebar fitnah, milik istrinya sendiri. Media – media lain makmum saja. Luar biasa.

Ia lupa dirinya ASN atau Panitera Pengganti yang makan dari uang rakyat. Yang dalam pekerjaannya pasti bersentuhan dengan saya dan tim-tim saya di pengadilan.

Kami tahu bagaimana lambannya tugas-tugas Safiuddin di pengadilan. Karena perkara itu perkara-perkara klien yang diurus tim kami.

Seolah-olah, profesi LSM prioritas dan Panitera Pengganti hanya sampingan. Sehingga potensial terjadi conflict of intrrest.

Ketika Pengadilan Agama Pamekasan mau diserbu unras oleh aktifis-aktifis Gerakan Mahasiswa Merdeka (GMM), yang notabene merupakan aksi protes publik terhadap perilaku Safiuddin, detik1.com nyerempet saya.

Media itu mengaitkan nama saya dengan skema aksi, meski saya tak mengenal siapa aktifis-aktifis GMM dan apa tujuannya.

Seolah-olah, detik1.com digunakan untuk memberi sinyal, bahwa Safiuddin dapat mengendalikan warga kepulauan untuk mengepung Kodim Sumenep. Tujuannya hanya satu, unras GMM batal. Rasanya pret amat.

Nara sumber detik1.com itu Abdul Waris, dicitrakan sebagai tokoh muda kepulauan Sumenep, yang ternyata wartawan Jurnal Sekilas, media istri Safiuddin.

Baca Juga :   Opini: Judical Corruption

Setelah serempet saya lewat detik1.com, Safiuddin juga menyeret nama saya kedalam grup WA Pengadilan Agama Pamekasan yang menggambarkan bahwa saya sebagai PH Fauzi As dinilai buntu logika.

Safiuddin menyatakan telah berhasil menekan, bahkan mengancam Dandim Sumenep agar unras urung. Meski setelah saya konfirmasi ke Dandim, ternyata pernyataan itu palsu.

Namun disisi lain, Safiuddin mengaku ditekan agar Pelapor mencabut laporan. Tak jelas, siapa yang menekan. Padahal, Fauzi As justru meminta laporan diteruskan dan dibuktikan. Jika Fauzi bersalah menurut hukum, ia akan patuh dan kooperatif.

Tapi, jika tak terbukti, Sunanto hendaknya juga patuh hukum dan kooperatif, jika Fauzi As mengambil langkah pidana karena laporan palsu. Jadilah lelaki jantan.

Manusia Pi’u ini trouble maker. Pejabat tak tahu malu. Pejabat tak tahu diri. Berusaha ambil kesempatan dalam kesempitan.

Jika terus nyampah, dia pasti terseret gelombang besar dan masuk kedalam tubir yang gulita. Akan sulit bangkit dan pasti dijauhi teman.

Jika Safiuddin tidak percaya, teruslah nyampah. Kita lihat tahun depan, gelombang apa yang menyeretnya.
_______________________________
Catatan: Seluruh diksi dalam tulisan (Opini/Artikel) diatas, sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis. Media ini tidak ikut dalam persilisihan yang ditimbulkan dan hanya punya hak menerbitkan

Tinggalkan Balasan