umroh 12 hari

Produksi Garam Petani di Pamekasan Tembus 6. 541,25 Ton

PAMEKASAN, Limadetik.com – Produksi garam petani pada musim tahun ini, di Kabupaten Pamekasan mencapai 6.541,25 ton. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemkab Pamekasan, Jawa Timur Nurul Widiastutik, Rabu (01/08/2018).

“Jumlah produksi ini, hingga 30 Juli 2018, sesuai hasil pendataan yang dilakukan petugas di lapangan,” Kata Nurul.

umroh 9 hari

Menurutnya, jumlah total produksi garam tersebut dari 15 desa penghasil garam yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Galis, Pademawu dan Kecamatan Tlanakan dengan total luas areal tambak 913,5 hektare.

Di Kecamatan Galis, ada empat desa yang menjadi produsen garam, yakni Desa Lembung, Polagan, Konang dan Desa Pandan, dengan luas tambak garam mencapai 458,6 hektar.

Sementara, di kecamatan Pademawu desa yang memproduksi garam tersebar di delapan desa, yakni Desa Dasuk, Bunder, Pademawu Timur, Tanjung, Padelegan, Majungan, Pegagagan dan Desa Baddurih dengan luas tambak garam mencapai 445,4 hektare.

Sedangkan di Kecamatan Tlanakan, produksi garam di tiga desa, yakni Desa Tlesah, Tlanakan dan Desa Branta Tinggi dengan total luas tambak garam 9,6 hektare.

“Dari 15 desa penghasil garam yang tersebar di tiga kecamatan itu, desa dengan luas tambak garam terbanyak ialah Desa Lembung, Kecamatan Galis, yakni 245 hektare dengan total produksi mencapai 1.581,00 ton, sedangkan yang paling sedikit ialah Desa Tlesah, Kecamatan Tlanakan, yakni 2,6 hektare dengan total produksi 33,00 ton,” tuturnya.

Baca Juga :  Koordinator Forjasi Sumenep: Batas Waktu Diakhir Tahun Membingungkan Masyarakat Jasa Kontruksi

Menurut Nurul Widiastutik, total jumlah kelompok tani yang memproduksi garam kali ini sebanyak 164 kelompok dengan perincian di Kecamatan Galis sebanyak 69 kelompok, Pademawu 72 kelompok dan di Kecamatan Tlanakan sebanyak tiga kelompok.

“Harga jualnya antara Rp800.000 hingga Rp900.000 per ton, bergantung pada kualitas garam, dan harga ini, untuk jenis garam dengan pola produksi tradisional,” tandasnya. (arf/rd)

Tinggalkan Balasan