https://limadetik.com/

Ribuan Mahasiswa Aksi Penolakan RUU KPK dan KUHP Di Pamekasan Berakhir Ricuh

  • Bagikan
pmk 1

PAMEKASAN, Limadetik.com — Aksi penolakan ribuan mahasiswa terhadap RUU KPK yang disahkan DPR RI dan RUU KUHP dan lainnya di Kabupaten Pamekasan berakhir ricuh.

Aksi itu berlangsung panas saat dialog antar korlap dengan negosiator tak menemukan titik temu. Para demonstrasi tak hanya dari kalangan mahasiswa saja, namun puluhan pelajar SMA ikut meramaikan aksi di depan kantor gedung DPRD Pamekasan.

https://limadetik.com/

Kericuhan bermula saat terjadi lempar batu dari massa aksi, kemudian hujan batu smakin banyak. Sehingga, pihak keamanan dari kepolisian terpaksa memukul mundur demonstrasi menggunakan gas air mata.

Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo menjelaskan, aksi dari berbagai elemen kampus di Pamekasan awalnya berlangsung tertib.

“Namun, menjelang pukul 10.30, ada eskalasi yang meningkat, disana kita lihat ada beberapa massa yang melemparkan batu ke arah petugas,” katanya.

Kemudian, lanjut Kapolres, personel terpaksa harus mengambil sikap untuk membubarkan demonstran dengan SOP yang berlaku. Sebagai ia menilai aksi itu sudah berlangsung anarkis.

Kapolres Teguh juga melihat, pelemparan batu hanya dilakukan oleh sebagian peserta aksi saja.

“Untuk membubarkan massa aksi, kita lakukan lintas ganti, lalu penyemprotan Water Canon,” ungkapnya.

Hingga para massa bubar, tak ada yang diamankan dari peserta aksi itu.

Sementara, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan, Moh. Sahur menuturkan, pihaknya mengapresiasi atas gerakan mahasiswa yang berlangsung. Hal itu sabagai bagian dari kontrol masyarakat.

“Bagi kami, apapun yang disampaikan aspirasi mereka sangat kami apresiasi, apapun yang tidak menjadi kepuasan rakyat di Pamekasan, tentu DPRD wajib untuk menyampaikan ke pusat,” katanya.

Sebab, yang mengesankan Undang-undang itu adalah pusat (DPRRI). Jadi, DPRD hanya akan menyampaikan apa yang menjadi tuntutan masyarakat di bawah.

Meski begitu, Sahur mengaku, massa aksi yang ingin masuk semua ke kantor DPRD, tidak akan muat. Sebab, keterbatasan ruangan.

Sementara, massa aksi di luar mencapai ribuan orang. “Tadi kami sudah minta perwakilan dari stiap kampus masing-masing 5 (lima) orang, tetapi mereka tidak mau, maunya masuk semua,” katanya.

Soal terjadi anarkis, hal itu dianggap wajar, apalagi kondisi dan situasi di lapangan panas. Sehingga, dinamika seperti itu bisa menjadi pemicu utamanya.

Berdasarkan pantauan, sejumlah fasilitas Negara seperti pot bunga hancur dirusak oleh para pendemo.

Bahkan, batu kerikil bertebaran di jalan raya dan depan kantor DPRD Pamekasan.

Sebagai informasi, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Pamekasan menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD Pamekasan.

Mereka start dari Monomen Arek Lancor dengan berjalan kaki. Berbagai poster tulisan penolakan terhadap RUU KUHP terpampang jelas.

Mereka menyampaikan aspirasinya di depan pintu keluar DPRD Pamekasan. Sejumlah anggota dewan sempat menemui mereka sebelum akhirnya ricuh dan terjadi anarkis. (Arf/Yt)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan