Daerah

Saat Debat Publik, Cabup Trenggalek Mochamad Nur Arifin Pamerkan Konsep Pertanian di Desa Sukorejo

×

Saat Debat Publik, Cabup Trenggalek Mochamad Nur Arifin Pamerkan Konsep Pertanian di Desa Sukorejo

Sebarkan artikel ini
Saat Debat Publik, Cabup Trenggalek Mochamad Nur Arifin Pamerkan Konsep Pertanian di Desa Sukorejo
Debat publik cabup-cawabup trenggalek

Saat Debat Publik, Cabup Trenggalek Mochamad Nur Arifin Pamerkan Konsep Pertanian di Desa Sukorejo

LIMADETIK.COM, TRENGGALEK – Calon Bupati (Cabup) Trenggalek Mochamad Nur Arifin pamerkan konsep pertanian di Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari. Hal itu disampaikannya saat debat publik di Surabaya, itu diklaim mampu meningkatkan produksi hingga menghemat air dan pupuk.

Menurutnya, demplot pertanian berkelanjutan itu telah diterapkan di Desa Sukorejo, Gandusari, Trenggalek. Lahan yang sebelumnya kering saat ini dapat ditanami padi, bahkan pada saat musim kemarau panjang.

Untuk menerapkan konsep tersebut cukup sederhana, yakni dengan menggali area lahan sedalam 60 sentimeter dan melapisi dengan plastik. Selanjutnya galian ditimbun lagi menggunakan tanah. “Ini bisa menghemat air dan pupuk, karena tidak menyebar ke mana-mana,” kata M Nur Arifin, Kamis (7/11/2024).

Penerapan pertanian berkelanjutan itu mendapatkan apresiasi dari kalangan akademisi. Dosen Fisip Universitas Airlangga, Irfa’i Afham mengatakan wacana pelestarian lingkungan dalam bidang pertanian telah menjadi isu nasional. Bahkan pertanian berkelanjutan telah dicanangkan Kementerian Pertanian sejak 2022. Namun eksekusi yang dijalankan dinilai belum sukses.

“Langkah Kabupaten Trenggalek dalam mengharmonisasi pembangunan khususnya di sektor pertanian patut diapresiasi. Berdasarkan ekosistem alami yang telah ada, sektor pertanian Trenggalek memiliki potensi sangat besar untuk mengembangkan perekonomian ramah lingkungan,” kata Irfa’i Afham.

Lanjut dia, pertanian kehutanan dan perikanan saat ini menjadi penopang 24,98 persen pertumbuhan ekonomi, disusul oleh sektor industri pengolahan 18,51 persen. Sedangkan di Trenggalek secara umum pertaniannya fokus pada komoditas padi, jagung serta holtikultura.

“Di bawah kepemimpinan Bupati Mochamad Nur Arifin dan Syah Muhammad Natanegara berani menargetkan Net Zero Emission di 2025. Langkah ini perlu dicermati secara positif sebagai upaya nyata pembangunan daerah berbasis lingkungan yang pada jangka panjang akan memperkuat realisasi agenda-agenda Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia,” jelasnya.

Langkah Ipin dalam mengawali pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan dinilai cukup positif, terlebih upaya itu juga melibatkan akademisi dan praktisi di bidangnya. Sehingga harapannya kolaborasi itu akan mampu mewujudkan impian Net Zero Karbon.

“Agenda rintisan ini diwujudkan misalkan dalam bentuk promosi dan perluasan penggunaan pupuk organik dan promosi penggunaan metode lahan hemat air untuk pertanian,” paparnya.

Kata dia pertanian berkelanjutan bukanlah perkara instan yang bisa dengan mudah diwujudkan, namun hal itu dinilai bisa terwujud jika seluruh komponen yang terlibat dapat berkolaborasi dengan baik.

“Sektor pertanian berbasis lingkungan akan lebih berdampak positif terhadap keberpihakan terhadap ekonomi rakyat dan peningkatan signifikansi agenda politik lingkungan secara bottom-up dibandingkan sektor ekstraktif seperti pertambangan dan pengeboran minyak,” jelasnya.

Irfa’i menambahkan untuk menumpang sektor pertanian, Cabup Ipin juga harus mendorong kemajuan UMKM dan industri pengolahan. “Langkah ini tidak cukup hanya melibatkan petani dan pekerja di bidang pertanian, namun juga pihak swasta” pungkasnya.