oleh

Setiap Manusia adalah Pendidik

Oleh : Subliyanto

Limadetik.com – Diantara tugas setiap manusia adalah mendidik atau menjadi seorang guru, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Sehingga tugas-tugas yang bersifat edukatif harus selalu melekat pada dirinya dalam setiap gerak langkah dan “maqalahnya”.

Pendidik dalam skala kecil adalah dalam lingkungan keluarga. Sehingga peran ayah dan bunda sebagai guru dalam lingkungan keluarga harus mencerminkan nilai-nilai kebaikan. Dan menghindari dalam performa nilai-nilai kejelekan kendatipun hal itu tidak bisa dinafaikan adanya karena memang demikin sifat yang melekat pada manusia biasa. Namun demikian setidaknya hal tersebut bisa diatasi dengan konsep-konsep parenting yang bisa dipelajari secara mandiri baik secara teori literasi maupun kajian-kajian parenting.

Dalam skala besar, manusia sebagai pendidik hendaknya memainkan perannya dalam segala aspek lini sosial kehidupan, baik secara formal maupun non formal. Sehingga apapun aktivitasnya selalu menyampaikan pesan-pesan kebaikan, baik secara tersurat maupun tersirat, yang semuanya tercover dalam visi edukasi dan terimplentasikan dalam “uswatun hasanah” dalam kehidupan sehari-hari dimanapun berada dan sedang apapun aktivitasnya, serta dengan siapapun ia berinteraksi.

Kebiasaan-kebiasan sehari-hari manusia yang mudah diindera oleh manusia lainnya merupakan materi edukasi yang sudah menjadi kurikulum baku dalam diri manusia. Jika kurikulum yang ada pada dirinya baik maka publikasinya akan mencerminkan nilai-nilai kebaikan. Demikian juga sebaliknya. Karena kurikulum diri manusia merupakan kumpulan-kumpulan kebiasan yang sudah mengkristal secara otomatis pada dirinya, yang dalam istilah religinya disebut dengan “tabiat”. Atau dalam konteks kekinian disebut dengan istilah karakter.

Karakter tercipta berdasarkan kebiasaan. Dan karakter bak sebuah stempel yang mana ketika stempel tersebut sudah ditempelkan maka akan susah untuk dihapusnya. Maka menanamkan dan melatih diri dengan kebiasaan baik merupakan sebuah ikhtiyar terbaik bagi manusia dalam upaya menjadikan dirinya sebagai insan “shaleh”.

Tidak hanya itu akan tetapi menularkan nilai-nilai keshalehannya kepada publik dengan contoh yang baik juga menjadi hal yang tidak kalah pentingnya, sehingga dirinya tidak hanya menjadi insan yang “shaleh” akan tetapi juga menjadi insan yang “mushleh”. Yaitu orang yang senantiasa ikut serta dalam menebar kebaikan dengan harapan guna semakin banyak orang-orang yang “shaleh”.

Peran manusia yang demikian, apabila dilakukan dengan niat yang tulus, secara otomatis ia memiliki Investasi dengan laba yang tidak terhingga. Pasalnya setiap orang yang melakukan kebaikan, baik karena orang tersebut mencontoh “by hidden camera” (edukasi tersirat), ataupun melakukan kebaikan karena berbasis ilmu yang diperoleh melalui edukasi secara langsung, maka bagi sang guru pahala sebagaimana orang tersebut melakukannya. Semakin banyak follower kebaikannya semakin banyak pula laba dari investasinya.

Maka sebagai motivasi bagi diri kita, penulis akhiri tulisan ini dengan sebuah hadits Rasulullah SAW. Beliau bersabda “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Semoga catatan singkat ini bermanfaat. Wallahu a’lam (*).

Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan.

Komentar

Berita Terkini