Kredit UMKM Melambat, Achsanul Qosasi Dorong BI Perkuat Transmisi Kebijakan ke Tingkat Bawah

- Redaksi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Dr. Achsanul Qosasi

Prof. Dr. Achsanul Qosasi

Kredit UMKM Melambat, Achsanul Qosasi Dorong BI Perkuat Transmisi Kebijakan ke Tingkat Bawah

LIMADETIK.COM, JAKARTA – Proses pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) membawa harapan sekaligus tantangan besar bagi perekonomian nasional. Calon Gubernur BI yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto, Destry Damayanti, dinilai menghadapi pekerjaan rumah (PR) utama, yakni memastikan transmisi kebijakan moneter tidak hanya berdampak di pasar keuangan, tetapi benar-benar terasa hingga ke tingkat bawah (sektor riil).

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Achsanul Qosasi, menyoroti adanya jurang (gap) antara efektivitas kebijakan stabilitas makro dengan penyaluran akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan mikro.

“Pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab oleh pimpinan BI berikutnya adalah: sampai di mana kebijakan moneter itu berhenti?” ujar Prof. Achsanul Qosasi, Kamis (13/8/2026).

BACA JUGA  PFII Solusi Krisis Fiskal Daerah: Dr. Agus Syabarrudin Ajak SMSI dan BPD Kawal Transformasi Pembiayaan Daerah

Dilema Sisi Biaya dan Akses Kredit

Menurut Achsanul, transmisi kebijakan moneter memiliki dua dimensi utama, yakni sisi biaya (cost) dan sisi akses (access).

Dari sisi biaya, langkah pengetatan moneter yang diambil BI — seperti kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 100 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen untuk menahan tekanan terhadap rupiah — berhasil meredam volatilitas nilai tukar dan disambut positif oleh pasar finansial.

Namun, ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan di pasar modal atau stabilitas nilai tukar tidak serta-merta mencerminkan kondisi di lapangan. Di saat rupiah menguat dan pasar keuangan merespons positif, data penyaluran kredit modal kerja untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) justru menunjukkan tren penyusutan.

BACA JUGA  Mandat Baru dari Djakarta Theater: Menjaga Gizi dan Kas Desa, ABPEDNAS-SMSI Bangun Kerjasama

“Sinyal biaya bekerja dengan cepat di pasar keuangan. Namun, sinyal akses bagi sektor usaha bawah justru tersendat. Ketika indikator makro tampak membaik, penyaluran kredit modal kerja untuk usaha kecil malah mengalami perlambatan. Di sinilah letak kemacetan transmisi moneter kita,” jelas Achsanul.

Prof. Achsanul menekankan, Bank Indonesia di bawah kepemimpinan baru tidak boleh hanya berfokus pada instrumen stabilitas jangka pendek dan respons terhadap pasar keuangan global. Gubernur BI baru dituntut menciptakan skema serta dorongan kebijakan makroprudensial yang lebih efektif agar perbankan nasional berani melonggarkan dan menyalurkan likuiditas ke sektor riil.

BACA JUGA  Taufiequrrachman Ruki Terima Bintang Kehormatan dari Presiden Prabowo, SMSI: Pengakuan atas Integritas dan Pengabdian untuk Bangsa

Ia menambahkan, keterbatasan akses pembiayaan bagi UMKM akan menghambat daya beli masyarakat dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

“Uji kelayakan di DPR mungkin akan banyak membedah isu suku bunga, inflasi, dan stabilitas rupiah. Tetapi tugas riil Gubernur BI di lapangan adalah memastikan agar keputusan suku bunga dan instrumen likuiditas yang dirumuskan di ruang rapat Dewan Gubernur bisa sampai ke meja pemilik usaha kecil yang membutuhkan modal kerja,” tegasnya.

Dengan kepemimpinan baru mendatang, Achsanul berharap BI mampu memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memastikan kebijakan moneter berorientasi pada inklusivitas dan pertumbuhan ekonomi yang merata hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.

Penulis : Lisa

Editor : Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sambut Suasana Kemerdekaan RI Ke-81, TISI Luncurkan Buku Antologi Bersama Puisi Dwi Bahasa ‘Bahasa Ibu, Bahasa Darahku’
PFII Solusi Krisis Fiskal Daerah: Dr. Agus Syabarrudin Ajak SMSI dan BPD Kawal Transformasi Pembiayaan Daerah
Anna Ruswan Latuconsina Mengangkat Suara Perempuan Melalui Buku “Arum Jeram Pernikahan”
Mandat Baru dari Djakarta Theater: Menjaga Gizi dan Kas Desa, ABPEDNAS-SMSI Bangun Kerjasama

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:21 WIB

Sambut Suasana Kemerdekaan RI Ke-81, TISI Luncurkan Buku Antologi Bersama Puisi Dwi Bahasa ‘Bahasa Ibu, Bahasa Darahku’

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:45 WIB

PFII Solusi Krisis Fiskal Daerah: Dr. Agus Syabarrudin Ajak SMSI dan BPD Kawal Transformasi Pembiayaan Daerah

Jumat, 17 Juli 2026 - 21:33 WIB

Anna Ruswan Latuconsina Mengangkat Suara Perempuan Melalui Buku “Arum Jeram Pernikahan”

Sabtu, 4 Juli 2026 - 03:55 WIB

Mandat Baru dari Djakarta Theater: Menjaga Gizi dan Kas Desa, ABPEDNAS-SMSI Bangun Kerjasama

Berita Terbaru