Agar Bantuan Gempa NTT Tak Menumpuk, Pakar Logistik ITICM Dorong Local Sourcing
LIMADETIK.COM, SIDOARJO — Gelombang solidaritas untuk penyintas gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengalir. Namun, di tengah derasnya bantuan yang digerakkan masyarakat dan pemerintah, persoalan logistik justru menjadi salah satu kunci agar bantuan benar-benar tiba cepat, tepat, dan sesuai kebutuhan di lapangan.
Kepala Program Studi S-1 Teknik Logistik Institut Teknologi Insan Cendekia Mandiri (ITICM) Sidoarjo, Sutrisno Harianto, S.T., M.T., mengingatkan bahwa bantuan bencana tidak cukup hanya bermodal kepedulian. Pengelolaan rantai pasok (supply chain) yang tepat diperlukan agar bantuan tidak justru menambah beban relawan di lokasi terdampak.
Menurut Sutrisno, pada fase tanggap darurat atau golden period, bantuan yang dikirim harus benar-benar mempertimbangkan kebutuhan paling mendesak dan kemudahan distribusinya.
“Di sana situasinya sangat urgent. Daripada mengirim pakaian bekas dan mi instan, kita malah jadi butuh waktu ekstra untuk memilah barang mana yang layak dan tidak. Pakaian bekas itu menuntut kita untuk menyortir, lalu mem-packing ulang,” ujar Sutrisno saat dikonfirmasi, Minggu (16/8/2026).
Ia menilai air bersih untuk kebutuhan minum dan sanitasi, termasuk mandi, cuci, kakus (MCK), harus menjadi prioritas utama. Setelah itu, bantuan dapat diarahkan pada makanan siap saji, kebutuhan medis, serta perlengkapan tempat tinggal sementara.
Sebaliknya, pengiriman bahan mentah yang masih membutuhkan air, bahan bakar, peralatan, dan proses memasak dinilai kurang efisien apabila kondisi di lokasi masih dalam situasi darurat.
Jangan Semua Bantuan Dikirim dari Jakarta
Pemerintah pusat sebelumnya telah mengirimkan sekitar 27 ton bantuan logistik dari Jakarta. Langkah tersebut menjadi bentuk respons cepat terhadap kebutuhan penyintas.
Namun, dari perspektif manajemen logistik, Sutrisno mengatakan terdapat strategi lain yang dapat dipertimbangkan agar distribusi bantuan lebih efisien, yakni local sourcing atau pengadaan barang dari wilayah terdekat yang aman.
“Langkah pengiriman bantuan jarak jauh tentu wujud kepedulian yang luar biasa, namun jika ditinjau dari efisiensi rantai pasok darurat, ada baiknya kita juga mempertimbangkan opsi local sourcing atau pengadaan dari daerah terdekat yang aman,” jelasnya.
Menurut dia, pengadaan kebutuhan dari wilayah penyangga seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) maupun Sulawesi Selatan berpotensi memangkas lead time atau waktu tunggu pengiriman.
Strategi tersebut juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap moda transportasi jarak jauh yang kompleks, sekaligus menekan biaya distribusi.
“Cara ini dapat memangkas waktu tempuh atau lead time serta menekan kompleksitas moda transportasi yang berlapis, baik darat maupun udara,” imbuhnya.
Selain mempercepat bantuan tiba di lokasi, pengadaan lokal juga memiliki dampak ekonomi. Perputaran belanja kebutuhan pokok dapat tetap berlangsung di wilayah sekitar daerah terdampak, selama daerah pemasok berada dalam kondisi aman dan memiliki ketersediaan barang yang memadai.
Kemasan Jangan Jadi Masalah Baru
Sutrisno juga menyoroti persoalan pengemasan yang kerap luput dalam pengiriman bantuan bencana.
Menurutnya, kondisi medan, cuaca, proses bongkar muat, hingga kemungkinan penumpukan barang harus menjadi pertimbangan sejak bantuan dikemas dari daerah asal.
Ia menyarankan penggunaan kardus baru dengan konstruksi lebih kuat, termasuk jenis double wall, dibandingkan kardus bekas yang lebih mudah rusak ketika terkena tekanan atau kelembapan.
“Kita jangan gunakan kardus bekas. Ini kenapa? Karena ini mudah hancur. Kita gunakan kardus baru, atau misalkan kita double kardus, itu kan ada double wall,” katanya.
Kemasan juga sebaiknya dilengkapi lapisan pelindung terhadap air. Label isi barang harus dibuat jelas sehingga relawan dapat segera mengidentifikasi paket tanpa harus membuka seluruh kemasan.
Ukuran dan berat paket pun perlu diperhitungkan. Paket yang terlalu besar atau terlalu berat akan menyulitkan proses pemindahan, terutama ketika tenaga relawan terbatas dan fasilitas penanganan barang di lokasi bencana tidak memadai.
Paletisasi dan Zonasi Posko
Persoalan tidak berhenti ketika bantuan tiba di posko pengungsian. Penataan barang menjadi tahap penting berikutnya.
Sutrisno menyarankan penggunaan palet sebagai alas untuk mencegah barang bersentuhan langsung dengan tanah atau permukaan yang lembap.
“Dengan adanya palet ini kita aman, jadi tidak sampai langsung barang itu menyentuh tanah atau tempat-tempat yang lembap. Jadi paletisasi ini penting,” terangnya.
Di dalam posko, barang juga perlu ditata berdasarkan zonasi. Misalnya, zona pangan, non-pangan, serta zona khusus kebutuhan medis. Pemisahan tersebut akan memudahkan proses pencarian, pencatatan, pengawasan, hingga distribusi bantuan kepada penerima.
Untuk barang yang memiliki masa kedaluwarsa, relawan juga perlu menerapkan prinsip First In, First Out (FIFO). Barang yang lebih dahulu datang dan memiliki masa kedaluwarsa lebih dekat harus diprioritaskan untuk didistribusikan.
Prinsip ini menjadi penting terutama untuk susu, makanan bayi, obat-obatan tertentu, serta produk pangan lainnya yang memiliki batas konsumsi.
Semua Barang Masuk dan Keluar Harus Tercatat
Satu hal lain yang tak kalah penting adalah pencatatan. Sutrisno menilai setiap barang yang masuk dan keluar dari gudang atau posko bantuan harus terdokumentasi.
Pencatatan tidak harus selalu menggunakan sistem digital. Dalam kondisi darurat, buku harian atau logbook sederhana tetap dapat digunakan selama dilakukan secara disiplin.
“Kita juga bisa pakai logbook atau catatan harian, artinya nanti kita bisa tahu barang-barang mana untuk distribusi awal dan akhir, sehingga barang masuk dan keluar tercatat secara rapi dan manual, jadi bisa memanajemen distribusi barang dengan bagus,” pungkasnya.
Menurut Sutrisno, prinsip utama dalam logistik kebencanaan bukan sekadar seberapa banyak bantuan yang dikirim, melainkan seberapa cepat, tepat, aman, dan sesuai kebutuhan bantuan tersebut sampai kepada penyintas.
Dengan perencanaan rantai pasok yang baik, solidaritas masyarakat diharapkan tidak berhenti pada pengumpulan bantuan, tetapi benar-benar berujung pada manfaat nyata bagi warga yang tengah menghadapi situasi darurat.
Penulis : Amrizal
Editor : Wahyu











