Jejak Toleransi Tionghoa di Dungkek Sumenep Disebut Berakar Sejak Era Majapahit
LIMADETIK.COM, SUMENEP — Jejak keberadaan masyarakat Tionghoa di Dungkek, Kabupaten Sumenep, disebut telah berlangsung jauh sebelum berdirinya Masjid Jami’ Sumenep. Bahkan, hubungan antara masyarakat pribumi dan komunitas Tionghoa di kawasan tersebut disebut telah tumbuh melalui perdagangan, perkawinan hingga kehidupan sosial lintas agama sejak masa lampau.
Tenaga Ahli Bupati Sumenep Bidang Kebudayaan, H. Ibnu Hajar, M.Pd, mengungkapkan, Dungkek memiliki posisi penting dalam sejarah interaksi masyarakat Sumenep dengan komunitas Tionghoa.
Hal itu disampaikannya pada saat bincang santai di sebuah warung kopi di Sumenep, Sabtu (19/9/2026) saat mengulas jejak sejarah keberadaan komunitas Tionghoa di Sumenep.
Menurut Ibnu Hajar, salah satu petunjuk penting mengenai usia sejarah Dungkek adalah temuan peninggalan yang dikaitkan dengan masa Majapahit di kawasan pelabuhan tersebut. Peninggalan itu kini disebut tersimpan di museum Sumenep.
“Dungkek itu salah satu pelabuhan tertua yang ada di Sumenep yang komunikasinya dengan Cina,” ujar Ibnu Hajar.
Ia menjelaskan, aktivitas pelabuhan tersebut diduga menjadi salah satu pintu masuk interaksi antara masyarakat lokal dengan orang-orang dari Cina. Bahkan, keberadaan komunitas Tionghoa di Dungkek disebut telah berkembang jauh sebelum pembangunan Masjid Jami’ Sumenep.
Sejarah tersebut kemudian bersinggungan dengan pembangunan Masjid Jami’ Sumenep pada masa Panembahan Raja Sultan Abdurrahman.
Ibnu Hajar menuturkan, seorang keturunan Tionghoa bernama Lau Kuntung disebut pernah tinggal di Pasongsongan. Ketika pembangunan Masjid Jami’ Sumenep dimulai, Lau Kuntung disebut diundang untuk terlibat sebagai arsitek.
Namun, pembangunan masjid tersebut kemudian dilanjutkan oleh cucunya, Lau Piangu, setelah Lau Kuntung meninggal dunia.
“Karena arsiteknya Cina, dia juga banyak mempekerjakan orang-orang Cina yang ada di Sumenep, terutama di Dungkek. Mereka juga ahli bangunan,” ungkapnya.
Keterlibatan masyarakat Tionghoa dalam pembangunan tersebut, lanjut Ibnu Hajar, tidak berdiri sendiri. Sebab, kawasan Dungkek disebut telah menjadi tempat bermukim komunitas Tionghoa yang memiliki keterampilan di bidang perdagangan maupun pekerjaan bangunan.
Bahkan, sejumlah material pembangunan Masjid Jami’ Sumenep disebut berasal dari kawasan Dungkek. Salah satunya batu dari kawasan perbukitan yang sejak lama menjadi sumber material bangunan.
Toleransi Tumbuh dari Perdagangan dan Perkawinan
Ibnu Hajar menilai hubungan antara masyarakat pribumi dan etnis Tionghoa di Dungkek tidak hanya terbentuk karena aktivitas ekonomi.
Interaksi tersebut juga berkembang melalui perkawinan. Sejumlah warga keturunan Tionghoa disebut menikah dengan masyarakat pribumi dan sebagian di antaranya kemudian memeluk Islam.
“Jadi toleransi di situ sudah terbangun sejak lama. Pertama melalui jalan dagang, perdagangan. Yang kedua melalui perkawinan,” jelasnya.
Menurut dia, aktivitas perdagangan menjadi salah satu faktor penting yang mempertemukan komunitas Tionghoa dengan masyarakat lokal. Komoditas seperti gula merah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang berkembang di kawasan tersebut.
Jejak kehidupan komunitas Tionghoa juga disebut masih dapat ditemukan hingga sekarang, salah satunya melalui kompleks pemakaman Tionghoa di kawasan Dungkek.
Ibnu Hajar menyebut tanah yang digunakan sebagai kompleks pemakaman tersebut merupakan pemberian Sultan Abdurrahman dan pada masa itu dibebaskan dari pajak.
“Sekarang difungsikan menjadi kuburan Cina. Bahkan di Dungkek juga ada gereja dan tidak ada masalah dengan masyarakat sekitarnya,” katanya.
Menurut Ibnu Hajar, keberadaan kompleks pemakaman dan rumah ibadah tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang kehidupan masyarakat Dungkek yang hidup berdampingan dengan latar belakang etnis dan agama berbeda.
Komunitas Tionghoa dari Dungkek juga disebut kemudian menyebar ke sejumlah kawasan lain. Jejaknya antara lain disebut pernah terlihat di sekitar perempatan Andulang dan Longos melalui aktivitas perdagangan dan keberadaan toko milik warga keturunan Tionghoa.
Dungkek Disebut Lebih Tua dari Jejak Tionghoa Pasongsongan
Dalam penuturannya, Ibnu Hajar juga membedakan latar belakang keberadaan komunitas Tionghoa di Dungkek dengan Pasongsongan.
Menurut dia, keberadaan komunitas Tionghoa di Pasongsongan dalam kisah sejarah yang berkembang berkaitan dengan gelombang pelarian warga Tionghoa dari Semarang setelah tragedi pembantaian.
Sementara Dungkek, kata dia, memiliki jejak yang dikaitkan dengan periode jauh lebih awal.
“Kalau berdasarkan temuan itu, Dungkek lebih dulu. Arca peninggalan Majapahit ditemukan di pelabuhan Dungkek dan sekarang tersimpan di museum,” ujarnya.
Karena itu, Ibnu Hajar menyebut terdapat dugaan bahwa keberadaan komunitas Tionghoa di Dungkek lebih tua dibandingkan komunitas Tionghoa di Pasongsongan.
Namun, ia menekankan bahwa kronologi tersebut perlu dibaca berdasarkan temuan sejarah dan kajian lebih lanjut.
Bagi Ibnu Hajar, sejarah Dungkek menunjukkan bahwa toleransi antaretnis dan antaragama di Sumenep bukan fenomena baru. Interaksi melalui perdagangan, perkawinan, pembangunan dan kehidupan sosial telah menciptakan ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat sejak masa lampau.
“Bicara toleransi di Dungkek itu sudah mulai sejak Pramajapahit,” tegasnya.
Berlanjut…..
Penulis : Wahyu
Editor : Wandi








