Merawat Akal, Menyelamatkan Masa Depan

- Penulis

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Noris Soleh

Noris Soleh

Merawat Akal, Menyelamatkan Masa Depan

Oleh: Noris soleh
Mahasiswa Pascasarjana IAI Al-Khairat Pamekasan

___________________________________

OPINI – Manusia menghadapi hambatan baru dalam menghadapi perubahan sosial yang cepat dan melimpahnya informasi. Tantangan ini seringkali bersifat moral dan intelektual, bukan material. Kebutuhan untuk menyaring, memahami, dan mencerna informasi dengan benar kini menjadi isu utama, bukan lagi kekurangan informasi. Dipercaya bahwa memupuk penalaran adalah cara utama untuk mengamankan masa depan bagi individu dan masyarakat secara keseluruhan.

Pikiran yang terabaikan rentan terhadap kelelahan, ketumpulan, dan reaktivitas. Hoax, sudut pandang yang memecah belah, budaya saling kritis di ruang digital, dan standar debat publik yang memburuk semuanya merupakan tanda-tanda kecerdasan yang dangkal.

Hanya sedikit individu yang benar-benar berpikir, namun banyak yang berbicara. Banyak yang bereaksi, tetapi enggan merenungkan diri sendiri. Jika situasi ini berlanjut, masa depan akan ditandai dengan keputusan-keputusan yang memiliki konsekuensi jangka panjang.

Akal sehat bukan hanya tentang kecerdasan intelektual; tetapi juga mencakup sikap mental. Pikiran yang sehat tumbuh dari kebiasaan membaca secara kritis, terlibat dalam dialog terbuka, dan bersedia mendengarkan perspektif yang berbeda.

Dalam pendidikan, memelihara pikiran harus menjadi tujuan utama, bukan hanya mengejar nilai, peringkat, atau sertifikat. Pendidikan yang hanya melatih hafalan tanpa melatih penalaran berisiko menghasilkan generasi yang patuh tetapi kurang memiliki kebebasan berpikir.

Tantangan memelihara pikiran bahkan lebih menantang di era digital. Media sosial mendorong budaya berpikir yang serba cepat, instan, dan emosional.

Algoritma memperkuat bias, bukan memperkaya perspektif. Akal sehat dipaksa untuk beroperasi dengan cara yang singkat dan dangkal, dan seringkali dikalahkan oleh sensasionalisme. Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk berpikir jernih, sabar, dan reflektif menjadi keterampilan yang sangat berharga dan langka.

Membina akal sehat juga berarti menanamkan pemikiran etis. Tidak semua yang dapat dikatakan perlu dibagikan, dan tidak semua yang menjadi viral layak dipercaya. Pikiran yang terpelihara akan selalu bertanya: apakah ini benar, apakah ini adil, dan apakah ini bermanfaat?.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini adalah benteng peradaban melawan kerusakan yang lahir dari pemikiran yang gegabah.

Menyelamatkan masa depan tidak dapat hanya bergantung pada kemajuan teknologi atau pertumbuhan ekonomi. Tanpa akal sehat, kemajuan berpotensi menjadi bumerangMasalah umat manusia muncul dari kecerdasan tanpa moralitas, dan teknologi tanpa kompetensi mengakibatkan dehumanisasi.

Oleh karena itu, membina para pemikir, bukan hanya orang-orang yang berpengetahuan, adalah investasi paling berharga untuk masa depan.
Pada akhirnya, keluarga, sekolah, komunitas, dan bangsa semuanya memiliki peran dalam membina akal sehat. Ini membutuhkan ketekunan, perilaku moral, dan keberanian untuk menolak tren dangkal.

Pikiran yang terdidik dan jernih yang berfokus pada kebaikan bersama lebih mungkin memiliki masa depan yang cerah daripada pikiran yang kacau. Harapan dan keselamatan untuk masa depan ditemukan di sana.

Facebook Comments Box

Penulis : Noris Soleh

Editor : Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjadi Mahasiswa atau Sekadar Berkuliah: Reorientasi Kesadaran Intelektual di Perguruan Tinggi
Revitalisasi Pemikiran Kritis Mahasiswa
Sudut Pandang Dinamika Perkembangan Pendidikan
Rakyat Turun ke Jalan, Negara Mengelola Narasi: Catatan Kritis atas Pemerintahan Prabowo–Gibran
Saran Ringan UU Politik “2029”
Meresapi Nilai Hukum Tata Negara sebagai Kompas Smart and Good Citizenship di Indonesia
Kampus yang Terlalu Sibuk Menghasilkan, Terapi Lupa Membentuk Manusia
Organisasi Mahasiswa, Ruang Belajar untuk Mengasah Soft Skill
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 16:30 WIB

Menjadi Mahasiswa atau Sekadar Berkuliah: Reorientasi Kesadaran Intelektual di Perguruan Tinggi

Kamis, 17 September 2026 - 12:12 WIB

Revitalisasi Pemikiran Kritis Mahasiswa

Kamis, 17 September 2026 - 12:02 WIB

Sudut Pandang Dinamika Perkembangan Pendidikan

Senin, 14 September 2026 - 15:34 WIB

Rakyat Turun ke Jalan, Negara Mengelola Narasi: Catatan Kritis atas Pemerintahan Prabowo–Gibran

Senin, 14 September 2026 - 15:18 WIB

Saran Ringan UU Politik “2029”

Berita Terbaru

Noris Soleh

Opini

Revitalisasi Pemikiran Kritis Mahasiswa

Kamis, 17 Sep 2026 - 12:12 WIB

Noris Soleh

Opini

Sudut Pandang Dinamika Perkembangan Pendidikan

Kamis, 17 Sep 2026 - 12:02 WIB