Saran Ringan UU Politik “2029”

- Penulis

Senin, 14 September 2026 - 15:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anas Urbaningrum

Anas Urbaningrum

Saran Ringan UU Politik “2029”

Oleh : Anas Urbaningrum
_______________________________________

LIMADETIK.COM – Sudah ada yang ancang-ancang nyapres?.

Jika para pimpinan partai mau nyapres, itu hal biasa. Justru ganjil, jika tidak menyiapkan diri untuk itu.

Bahkan, bukan pimpinan partai pun tidak terhalang juga. Yang penting adalah memenuhi syarat dan ada yang mencalonkan.

Tetapi, perangkatnya dulu yang musti segera disiapkan. Perbaikan aturan mainnya, yakni Undang-undangnya.

Misalnya, terkait waktunya. Saya (tetap) berpendapat bahwa pilpres dan pileg sebaiknya dipisahkan waktu penyelenggaraannya. Seperti pemilu tahun 2004.

Baca Juga  Revitalisasi Pemikiran Kritis Mahasiswa

Tentang pemisahan ini, banyak argumentasi bisa diterangkan. Yang paling sederhana adalah syarat partai pengusung. Bahwa partai atau gabungan partai pengusung adalah yang menjadi peserta pemilu 2029 berikut hasilnya.

Dengan menggunakan hasil pileg 2029 itulah yang menjadi “tiket” masuk lapangan pertandingan. Tegasnya, tiket politik gres yang baru saja dicetak pada pileg. Bukan tiket usang yang dicetak 5 tahun sebelumnya. Sama halnya jika pembentuk UU mengadopsi putusan MK bahwa seluruh parpol peserta pemilu berhak mengajukan capres-cawapres, yang dimaksudkan adalah parpol peserta pemilu 2029.

Baca Juga  Mahasiswa Sebagai Agent Of Change Harus Kritis Bukan Anarkis

Itu sekadar satu contoh saja. Banyak isu lain terkait dengan pileg yang musti dituntaskan, seperti sistem pemilunya, alokasi kursi untuk setiap dapil, angka parlementary treshold, dan sebagainya.

Intinya, perlu segera memperbaiki, menyempurnakan dan mengesahkan paket UU yang akan digunakan penyelenggaraan pemilu 2029 dengan melibatkan partisipasi publik secara serius.

Perundingan politik antar partai untuk membahas substansi-substansi penting UU itu hal yang lazim. Pasti terjadi. Tetapi, membuka ruang dan mengajak publik terlibat, jelas akan membuat UU tersebut lebih baik dan diterima secara luas.

Baca Juga  Menegakkan Konstitusi, Membangun Warga Digital yang Cerdas dan Berkarakter

Pemilu yang dipercaya publik, jelas penting. Termasuk bagaimana aturan mainnya dirumuskan dan ditetapkan.

Hak legislasi ada pada eksekutif dan legislatif. Tetapi, melibatkan publik adalah cara paling baik dan bisa diterima dalam legislasi yg demokratis dan berkualitas.

Facebook Comments Box

Penulis : Anas Urbaningrum

Editor : Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ilmu Tidak Cukup di Ruang Kelas, Belajar Kesejahteraan Karyawan dari PT Otsuka
Tidak Semua Orang Takut “Hantu”
Sumpah Pemuda: Satu Nadi di Tengah Perbedaan Masa Kini
Pesantren di Tengah Badai Zaman: Antara Warisan Peradaban, Kritik Publik, dan Pertaruhan Masa Depan
Santri GEN-Z: Menjaga Akhlak, Menguasai Teknologi, dan Menjawab Tantangan Zaman
Perguruan Tinggi Hanyalah Sarana Menuju Kesuksesan: Memaksimalkan Proses Pembelajaran untuk Masa Depan
Menagih Kepastian Hukum Rp85,2 Miliar: Ada Apa dengan Kejati Jatim?
Melek Konstitusi, Cerdas Berdemokrasi: Peran Hukum Tatanegara dalam Kehidupan Warga Negara
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:21 WIB

Ilmu Tidak Cukup di Ruang Kelas, Belajar Kesejahteraan Karyawan dari PT Otsuka

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:59 WIB

Tidak Semua Orang Takut “Hantu”

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:42 WIB

Sumpah Pemuda: Satu Nadi di Tengah Perbedaan Masa Kini

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:20 WIB

Pesantren di Tengah Badai Zaman: Antara Warisan Peradaban, Kritik Publik, dan Pertaruhan Masa Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:18 WIB

Santri GEN-Z: Menjaga Akhlak, Menguasai Teknologi, dan Menjawab Tantangan Zaman

Berita Terbaru