Kampus yang Terlalu Sibuk Menghasilkan, Terapi Lupa Membentuk Manusia
Oleh : Rohaili
IAI Al-Khairat Pamekasan
________________________________
OPINI – Bayangkan sebuah kampus yang setiap tahun menghasilkan ribuan lulusan, menerbitkan ratusan penelitian, memperoleh berbagai penghargaan, dan terus menaikkan posisinya dalam berbagai pemeringkatan. Dari luar, semua itu tampak sebagai bukti keberhasilan. Namun, di balik deretan angka dan pencapaian tersebut, terdapat pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: berhasil untuk siapa dan untuk tujuan apa?.
Pertanyaan ini penting karena pendidikan hari ini semakin sering dinilai berdasarkan apa yang mudah dihitung, seperti jumlah publikasi, tingkat kelulusan, akreditasi, serapan kerja, dan peringkat institusi. Sementara itu, persoalan yang jauh lebih mendasar justru sering tersisih: apakah mahasiswa semakin berani berpikir, semakin mampu mempertanyakan ketidakadilan, dan semakin merdeka dalam menentukan sikap?
Barangkali, inilah paradoks pendidikan modern: kampus semakin berkembang secara fisik dan administratif, tetapi keberanian intelektual justru semakin langka. Mahasiswa semakin sibuk, tetapi belum tentu semakin reflektif. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kemampuan memahami persoalan secara mendalam tidak selalu ikut berkembang.
Bahkan, ketika teknologi memungkinkan manusia memperoleh jawaban dalam hitungan detik, kita justru perlu bertanya apakah pendidikan masih benar-benar mengajarkan manusia untuk berpikir. Jangan sampai kampus menjadi tempat yang sangat produktif menghasilkan lulusan, tetapi gagal membentuk manusia yang mampu menggunakan akal budinya secara mandiri.
Krisis pendidikan saat ini bukan hanya persoalan metode pembelajaran atau kualitas fasilitas. Krisis yang lebih mendalam terletak pada perubahan cara kita memahami pendidikan. Pendidikan semakin sering diperlakukan sebagai investasi ekonomi, sementara mahasiswa diposisikan sebagai individu yang harus meningkatkan nilai jual dirinya.
Kampus kemudian bekerja seperti lembaga produksi: menerima mahasiswa, memberikan kompetensi, mengukur hasil, lalu mengirim lulusan ke pasar tenaga kerja. Dalam logika seperti ini, manusia berisiko dipahami berdasarkan kegunaan ekonominya. Pertanyaan tentang kebijaksanaan, keadilan, kebebasan, dan tanggung jawab sosial perlahan dianggap kurang penting dibandingkan keterampilan, produktivitas, dan daya saing.
Tidak mengherankan jika mahasiswa saat ini semakin sibuk, tetapi belum tentu semakin merdeka dalam berpikir. Mereka dibebani tugas, proyek, organisasi, sertifikasi, magang, dan berbagai tuntutan untuk membangun portofolio. Sejak awal, mahasiswa didorong untuk terus membuktikan bahwa dirinya produktif dan layak bersaing.
Namun, mereka tidak selalu memiliki ruang untuk bertanya apakah perlombaan yang mereka ikuti memang perlu dimenangkan. Mereka diajarkan bagaimana menjadi kompetitif, tetapi tidak selalu diajarkan untuk mempertanyakan sistem kompetisi itu sendiri.
Pendidikan akhirnya berisiko melahirkan generasi yang sangat terampil beradaptasi, tetapi kehilangan keberanian untuk menolak sesuatu yang memang perlu ditolak.
Di sinilah persoalan kepatuhan menjadi penting untuk dibicarakan. Sistem pendidikan sering kali memberikan penghargaan kepada mereka yang mampu mengikuti aturan, memenuhi standar, dan menjawab sesuai harapan.
Sebaliknya, mahasiswa yang terlalu banyak bertanya dapat dianggap merepotkan, sikap kritis dianggap sebagai pembangkangan, dan perbedaan pendapat sering dipandang sebagai gangguan terhadap ketertiban. Padahal, pendidikan yang tidak memberikan ruang bagi ketidaksetujuan pada dasarnya sedang melatih kepatuhan, bukan kecerdasan.
Kampus dapat menghasilkan lulusan yang sangat disiplin mengikuti prosedur, tetapi belum tentu mampu mengambil sikap ketika prosedur tersebut bertentangan dengan akal sehat dan kepentingan kemanusiaan.
Situasi ini semakin kompleks ketika teknologi digital dan kecerdasan buatan masuk ke dalam kehidupan akademik. Hari ini, mahasiswa tidak lagi hanya bergantung pada buku atau dosen untuk memperoleh jawaban. Informasi tersedia hampir tanpa batas, dan teknologi dapat membantu mencari, merangkum, bahkan menyusun tulisan dalam waktu singkat.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa persoalan baru: ketika jawaban dapat diperoleh secara instan, manusia berisiko kehilangan kesabaran untuk menjalani proses berpikir. Kita mulai terbiasa memperoleh kesimpulan tanpa mengalami perjalanan intelektual menuju kesimpulan tersebut. Padahal, pendidikan bukan hanya tentang menemukan jawaban yang benar, melainkan juga memahami bagaimana sebuah jawaban dapat dibangun.
Karena itu, ancaman terbesar teknologi terhadap pendidikan bukan hanya plagiarisme atau kecurangan akademik. Ancaman yang lebih serius adalah lahirnya ketergantungan intelektual. Seseorang mungkin mampu menghasilkan jawaban yang baik tanpa benar-benar mengetahui bagaimana jawaban itu disusun. Ia dapat membuat argumentasi yang terlihat meyakinkan tanpa memahami dasar logisnya.
Dalam kondisi seperti ini, teknologi tidak lagi sekadar membantu manusia berpikir, tetapi perlahan dapat mengambil alih sebagian proses berpikir itu sendiri. Jika pendidikan hanya berfokus pada hasil akhir, kita mungkin tidak menyadari bahwa mahasiswa sedang kehilangan kemampuan yang paling mendasar: kemampuan untuk menghadapi persoalan, mengalami kesulitan, meragukan jawabannya sendiri, dan membangun pemahaman secara mandiri.
Kampus juga menghadapi persoalan berupa budaya kecepatan. Semua harus segera selesai. Tugas harus cepat dikumpulkan, penelitian harus cepat menghasilkan luaran, mahasiswa harus cepat lulus, dan institusi harus cepat menunjukkan pencapaian.
Budaya ini membuat pendidikan semakin sulit memberikan ruang bagi proses yang lambat. Padahal, tidak semua pengetahuan dapat dipahami dalam waktu singkat. Membaca secara mendalam membutuhkan kesabaran. Menulis gagasan yang kuat membutuhkan perenungan.
Berpikir kritis membutuhkan keberanian untuk tidak langsung puas dengan jawaban pertama. Ketika pendidikan terlalu tunduk pada kecepatan, manusia mungkin menjadi semakin efisien, tetapi belum tentu menjadi semakin bijaksana.
Persoalan berikutnya adalah kecenderungan kampus untuk mengukur hampir semua hal. Prestasi harus berbentuk angka, kualitas harus diterjemahkan menjadi skor, produktivitas harus masuk ke dalam laporan, dan keberhasilan harus dapat ditampilkan melalui indikator.
Pengukuran memang diperlukan, tetapi sesuatu yang dapat diukur tidak selalu merupakan sesuatu yang paling penting. Bagaimana mengukur keberanian intelektual? Bagaimana mengukur perubahan cara berpikir seseorang?.
Bagaimana menghitung kemampuan mahasiswa untuk menolak manipulasi, memahami penderitaan orang lain, atau mengambil posisi terhadap ketidakadilan? Ketika pendidikan hanya menghargai apa yang terlihat dalam angka, terdapat bahaya bahwa manusia akan mulai bekerja bukan untuk belajar, melainkan hanya untuk memenuhi apa yang dapat dinilai.
Di titik inilah literasi harus dipahami secara lebih radikal. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan untuk tidak mudah percaya. Mahasiswa harus belajar membaca bukan hanya teks, tetapi juga kepentingan di balik teks. Mereka perlu memahami bahwa pengetahuan tidak selalu hadir dalam ruang yang sepenuhnya netral.
Sebuah informasi dapat dibentuk oleh kepentingan politik, ekonomi, ideologi, bahkan kepentingan institusional. Karena itu, pendidikan harus mengajarkan keberanian untuk bertanya: siapa yang berbicara, dari posisi apa ia berbicara, bukti apa yang digunakan, apa yang tidak disebutkan, dan siapa yang mungkin diuntungkan dari sebuah cara berpikir tertentu. Tanpa kemampuan semacam ini, manusia yang memiliki banyak informasi justru dapat menjadi sasaran yang lebih mudah bagi manipulasi.
Namun, berpikir kritis tidak boleh berhenti pada kebiasaan mencurigai segala sesuatu. Kritik yang hanya mampu menunjukkan kesalahan tanpa menawarkan kemungkinan baru pada akhirnya dapat berubah menjadi sinisme.
Pendidikan harus melahirkan manusia yang tidak hanya mampu membongkar persoalan, tetapi juga memiliki imajinasi untuk membayangkan alternatif. Kita perlu mempertanyakan apakah kampus harus selalu tunduk pada logika pasar, apakah keberhasilan selalu harus diterjemahkan menjadi angka, dan apakah teknologi harus selalu diterima sebagai bentuk kemajuan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan imajinasi, sebab perubahan sosial tidak akan pernah dimulai jika manusia hanya mampu menerima dunia sebagaimana adanya.
Karena itu, kampus perlu kembali menjadi ruang publik bagi gagasan, bukan sekadar tempat memperoleh ijazah.
Mahasiswa dan dosen seharusnya dapat bertemu dalam hubungan intelektual yang memungkinkan keduanya belajar, berdebat, dan saling menguji pemikiran. Ruang diskusi independen, kelompok membaca, forum lintas disiplin, dan komunitas intelektual perlu dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan akademik.
Justru dari ruang-ruang kecil semacam itulah keberanian berpikir dapat tumbuh. Kampus yang sehat bukan kampus yang tidak memiliki konflik pemikiran, melainkan kampus yang mampu mengelola perbedaan tanpa membungkamnya. Pendidikan harus memberikan ruang bagi manusia untuk salah, berubah pikiran, mempertanyakan otoritas, dan membangun gagasan baru.
Pada akhirnya, persoalan paling besar bukan terletak pada kurangnya teknologi, fasilitas, atau indikator keberhasilan. Persoalan yang lebih mendalam adalah hilangnya keberanian untuk mempertanyakan arah pendidikan itu sendiri. Kampus dapat terus berkembang secara fisik, meningkatkan peringkat, memperbanyak publikasi, dan menghasilkan lulusan setiap tahun.
Namun, semua itu akan kehilangan makna apabila kampus tidak lagi mampu melahirkan manusia yang merdeka secara intelektual. Pendidikan seharusnya tidak menjadikan manusia semakin mudah dikendalikan oleh pasar, teknologi, kekuasaan, atau opini mayoritas.
Pendidikan justru harus memberikan kemampuan untuk berpikir sebelum mengikuti, mempertanyakan sebelum mempercayai, dan bertindak berdasarkan pertimbangan yang sadar. Sebab kampus yang benar-benar hidup bukan kampus yang hanya sibuk menghasilkan, melainkan kampus yang berani membentuk manusia yang mampu mengganggu kemapanan, mempertahankan akal sehat, dan membayangkan dunia yang lebih adil.
Penulis : Rohaili
Editor : Wahyu








