Sumpah Pemuda: Satu Nadi di Tengah Perbedaan Masa Kini
Oleh: Siti Ainiyah
Mahasiswa Al-Khairat Pamekasan
______________________________________
OPINI – Sumpah Pemuda merupakan peristiwa bersejarah yang memiliki nilai esensial bagi bangsa Indonesia. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul di Jakarta. Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari suku, bahasa, hingga adat istiadat. Namun, mereka memiliki satu kesamaan, yakni keinginan kuat untuk bersatu demi mewujudkan bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Momen tersebut melahirkan ikrar Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Sebuah janji bahwa perbedaan bukanlah tembok pemisah, melainkan kekuatan yang menyatukan.
Lebih dari sembilan dekade telah berlalu. Penjajahan sudah lama berakhir. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah semangat persatuan itu masih hidup di tengah-tengah kita?
Di masa kini, kita menghadapi tantangan yang berbeda. Tidak ada lagi tentara asing yang melarang kita berkumpul. Namun, perpecahan justru kerap datang dari dalam diri kita sendiri.
Dunia maya yang seharusnya menjadi ruang untuk saling terhubung, sering kali justru berubah menjadi tempat untuk saling menjatuhkan. Kita menyaksikan masyarakat terbelah hanya karena perbedaan pandangan politik, keyakinan, bahkan sekadar selera. Berita bohong menyebar lebih cepat daripada kebaikan. Perbedaan pendapat yang semestinya menjadi ruang bertukar pikiran justru kerap berubah menjadi permusuhan.
Sesama anak bangsa saling mencurigai, seolah lupa bahwa kita lahir dari tanah yang sama, menghirup udara yang sama, dan memiliki harapan terhadap masa depan Indonesia yang sama.
Sebagai pemuda, saya meyakini bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar kisah masa lalu yang layak dikenang setahun sekali. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda adalah kompas yang kita butuhkan di tengah zaman yang kerap kehilangan arah.
Di tengah kebisingan yang berpotensi memecah belah, Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa ada jauh lebih banyak hal yang menyatukan daripada yang memisahkan.
Persatuan bukan berarti kita harus sama dalam segala hal. Kita boleh berbeda pendapat, berbeda suku, dan berbeda agama. Justru, keberagaman itulah yang menjadi salah satu keindahan bangsa Indonesia.
Persatuan berarti bahwa meskipun berbeda, kita tetap memilih untuk berjalan bersama. Ibarat untaian benang berwarna-warni, ketika disatukan, benang-benang itu akan membentuk kain yang indah sekaligus kuat.
Sumpah Pemuda hari ini menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada kemajuan teknologi atau kekayaan alam, tetapi juga pada cara kita memperlakukan satu sama lain.
Ketika kita menghargai teman yang berbeda latar belakang, tidak mudah terprovokasi oleh berita yang memecah belah, serta mengulurkan tangan untuk membantu sesama tanpa mempersoalkan suku maupun agama, pada saat itulah kita sedang menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda.
Mari kita jadikan Sumpah Pemuda bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan pedoman dalam bersikap dan bertindak sehari-hari. Sebab, pada akhirnya, kita adalah satu bangsa. Ketika Indonesia maju, kita semua turut berbangga. Ketika Indonesia terluka, kita semua ikut merasakannya.
Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Bukan sekadar sumpah, melainkan cara kita hidup.
Penulis : Siti Ainiyah
Editor : Wahyu








