Opini

Krisis Pendidikan Moral di Tengah Kemajuan Zaman

×

Krisis Pendidikan Moral di Tengah Kemajuan Zaman

Sebarkan artikel ini
Krisis Pendidikan Moral di Tengah Kemajuan Zaman
Noris Soleh

Krisis Pendidikan Moral di Tengah Kemajuan Zaman

Oleh: Noris soleh
Mahasiswa Pascasarjana IAI Al-Khairat Pamekasan

__________________________________

LIMADETIK.COM – Berkat kemajuan modern, umat manusia telah mencapai kemajuan luar biasa dalam sains dan teknologi. Kehidupan manusia menjadi lebih efisien, informasi mengalir bebas, dan inovasi muncul satu demi satu. Namun di balik kemajuan ini, muncul kekhawatiran yang semakin besar: apakah kemajuan ini sesuai dengan perkembangan moral kita? Ketika kita melihat keadaan pendidikan saat ini, pertanyaan ini menjadi sangat relevan.

Pendidikan sejati bertujuan untuk mengembangkan karakter dan kepribadian di samping kecerdasan intelektual. Tanpa landasan moral, kompetensi intelektual dapat menghasilkan orang-orang yang terampil secara teknis tetapi kurang memiliki tanggung jawab sosial dan empati. Dalam situasi ini, pendidikan moral harus menjadi inti dari proses pendidikan, bukan hanya sebagai pelengkap kurikulum.

Salah satu akar krisis pendidikan moral terletak pada pergeseran orientasi pendidikan. Sekolah dan lembaga pendidikan sekarang cenderung menekankan prestasi akademik, keterampilan kerja, dan daya saing global. Indikator keberhasilan pendidikan diukur melalui nilai ujian, peringkat, dan statistik kelulusan.

Sementara itu, dimensi moral dan karakter seringkali dipinggirkan karena dianggap sulit diukur dan tidak menghasilkan hasil instan. Akibatnya, pendidikan berisiko kehilangan jiwanya. Proses pembelajaran berubah menjadi aktivitas mekanis yang berorientasi pada hasil, bukan pada pengembangan karakter. Siswa diajarkan untuk “berhasil,” tetapi tidak selalu dibimbing untuk menjadi “baik.”

Sejarah peradaban sebenarnya menunjukkan bahwa krisis moral, bukan ketidaktahuan, seringkali menjadi penyebab kehancuran suatu masyarakat.

Masalah pengajaran moral menjadi lebih sulit karena perkembangan teknologi digital. Pola pikir generasi muda dengan cepat dibentuk oleh media sosial, kecerdasan buatan, dan budaya kepuasan instan. Di satu sisi, teknologi memungkinkan untuk menjadi kreatif dan memperoleh berbagai pengetahuan. Di sisi lain, teknologi juga memperkenalkan nilai-nilai baru yang tidak selalu sesuai dengan standar moral dan budaya regional.

Misalnya, budaya populer seringkali mendukung kebajikan integritas dan ketekunan. Jumlah “like” dan “follower,” dibandingkan dengan kejujuran dan kontribusi yang tulus, digunakan untuk mengukur persetujuan sosial. Dalam konteks ini, sangat sulit bagi pendidikan moral untuk tetap relevan dan menyesuaikan diri dengan laju perubahan yang cepat.

Selain itu, keadaan pendidikan moral diperburuk oleh krisis panutan. Kontradiksi antara perkataan dan perbuatan umum terjadi dalam konteks sosial tempat siswa tinggal. Pendidikan moral di sekolah hanya menjadi wacana normatif dan kehilangan vitalitasnya ketika cita-cita moral tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah tidak dapat menangani situasi ini sendiri. Guru, keluarga, dan masyarakat semuanya memiliki tanggung jawab bersama untuk pendidikan moral. Guru memiliki fungsi strategis sebagai panutan moral. Tanpa contoh spesifik dalam sikap dan tindakan pendidik, pendidikan moral akan sia-sia jika hanya disampaikan melalui ceramah atau hafalan.

Pendidikan moral paling awal seorang anak berasal dari keluarganya. Kejujuran, empati, dan tanggung jawab sosial adalah kualitas yang awalnya diajarkan di rumah. Sekolah menghadapi lebih banyak kesulitan ketika pengajaran moral di rumah menurun. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan moral bergantung pada kolaborasi antara keluarga dan sekolah.

Pendidikan moral harus diperbarui agar tetap mutakhir dan relevan dalam menghadapi kemajuan kontemporer. Pendidikan moral harus diintegrasikan ke seluruh proses pendidikan daripada diajarkan sebagai mata pelajaran yang terpisah. Prinsip-prinsip moral yang dimaksudkan untuk diajarkan harus tercermin dalam setiap mata pelajaran, kegiatan sekolah, dan kebijakan pendidikan.

Pengalaman dunia nyata dan pemikiran kritis juga harus diprioritaskan dalam pendidikan moral Peserta didik harus didorong untuk berdiskusi, berdebat, dan berpikir tentang dilema moral yang mereka hadapi setiap hari. Dengan cara ini, prinsip-prinsip moral diinternalisasi secara menyeluruh selain dipahami secara kognitif.

Dilema moral yang dihadapi pendidikan dalam menghadapi kemajuan kontemporer adalah masalah penting yang tidak dapat diabaikan. Kemajuan ilmiah dan teknologi akan menjadi sia-sia tanpa kematangan moral. Pendidikan memiliki peran besar dalam memastikan bahwa generasi penerus tidak hanya cerdas dan berbakat, tetapi juga sopan dan beradab.

Pada akhirnya, pendidikan moral bertujuan untuk mengembangkan orang-orang yang dapat membuat keputusan yang bijaksana dan bertanggung jawab tentang apa yang benar dan salah. Pendidikan moral berfungsi sebagai jangkar yang menjaga peradaban manusia tetap bergerak ke arah yang benar terlepas dari arus kemajuan yang tak terhindarkan.