AI di Ruang Kelas: Menggeser Peran Dosen atau Memperkaya Literasi Mahasiswa?
Oleh : Ach. Hambali
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) IAI Al-Khairat Pamekasan
________________________________
LIMADETIK.COM – Dalam era digital saat ini, kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) telah merambah ke berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Alat seperti ChatGPT, Perplexity, atau sistem AI lainnya telah menjadi bagian dari rutinitas mahasiswa, membantu dalam penulisan esai, penelitian, dan bahkan simulasi diskusi.
Namun, integrasi AI ini memicu perdebatan: apakah AI hanya menggeser peran dosen sebagai sumber utama pengetahuan, atau justru memperkaya literasi mahasiswa dengan cara yang lebih efisien dan inovatif?
Manfaat AI dalam Pendidikan
Salah satu keunggulan utama AI di ruang kelas adalah kemampuannya untuk mempersonalisasi pembelajaran. Tidak semua mahasiswa belajar dengan cara yang sama; beberapa lebih cepat memahami konsep melalui teks, sementara yang lain membutuhkan visual atau simulasi.
AI dapat menganalisis pola belajar individu berdasarkan data interaksi, seperti waktu respons atau kesalahan yang sering dibuat, untuk menyediakan materi yang disesuaikan. Misalnya, platform seperti Perplexity atau Blackbox menggunakan AI untuk menyesuaikan kurikulum, memungkinkan mahasiswa belajar sesuai kecepatan mereka sendiri.
Ini memperkaya literasi mahasiswa karena mereka dapat mengakses pengetahuan yang lebih luas dan mendalam tanpa terbatas oleh jadwal kelas tradisional.
Selain itu, AI mempercepat akses ke informasi. Di masa lalu, mahasiswa harus menghabiskan jam-jam di perpustakaan untuk mencari referensi. Sekarang, dengan AI, mereka bisa mendapatkan ringkasan artikel, penjelasan konsep kompleks, atau bahkan generasi ide dalam hitungan detik.
Ini tidak hanya meningkatkan efisiensi tetapi juga mendorong eksplorasi literasi digital. Mahasiswa belajar untuk mengkritisi sumber informasi, memverifikasi fakta, dan mengintegrasikan data dari berbagai sumber.
Dalam konteks ini, AI bertindak sebagai katalisator untuk literasi yang lebih tinggi, di mana mahasiswa tidak lagi pasif menerima pengetahuan dari dosen, tetapi aktif mencari dan mengolah informasi.
Contoh nyata adalah penggunaan AI dalam penelitian akademik. Alat seperti Grammarly atau Turnitin membantu mahasiswa memperbaiki tulisan dan mendeteksi plagiarisme, sementara AI seperti Elicit atau Semantic Scholar menganalisis literatur ilmiah untuk menemukan pola atau hubungan antar topik.
Ini memperkaya literasi mahasiswa dengan melatih keterampilan analitis dan kreatif. Alih-alih menggantikan dosen, AI membebaskan waktu dosen untuk fokus pada aspek yang lebih manusiawi, seperti diskusi etis atau pengembangan soft skills.
Tantangan dan Risiko
Namun, integrasi AI tidak tanpa risiko. Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi plagiarisme dan ketergantungan berlebihan. Mahasiswa mungkin tergoda untuk menggunakan AI untuk menulis tugas secara otomatis, yang mengurangi pengembangan keterampilan literasi asli seperti berpikir kritis dan kreativitas.
Jika AI dianggap sebagai “jawaban instan”, mahasiswa bisa kehilangan kemampuan untuk berargumen secara mandiri atau mengembangkan ide orisinal. Ini bukan hanya masalah etika, tetapi juga menggeser peran dosen dari mentor menjadi pengawas plagiarisme, yang bisa membebani mereka.
Selain itu, ada isu kesenjangan digital. Tidak semua mahasiswa memiliki akses ke perangkat atau koneksi internet yang stabil, sehingga AI memperlebar jurang antara yang mampu dan tidak. Di negara berkembang seperti Indonesia, di mana infrastruktur teknologi belum merata, AI bisa memperburuk ketidaksetaraan pendidikan.
Literasi mahasiswa yang diperkaya oleh AI mungkin hanya terbatas pada segelintir elit, sementara yang lain tertinggal. Ini menimbulkan pertanyaan etis: apakah AI benar-benar memperkaya literasi secara inklusif, atau hanya untuk mereka yang sudah memiliki keuntungan?
Risiko lain adalah bias dalam AI. Sistem AI dilatih pada data yang mungkin tidak netral, sehingga bisa menghasilkan informasi yang bias gender, ras, atau budaya. Misalnya, jika AI dilatih terutama pada sumber Barat, mahasiswa di Asia mungkin menerima perspektif yang terdistorsi.
Ini bisa mengurangi kualitas literasi mahasiswa jika mereka tidak diajari untuk mengenali dan mengoreksi bias tersebut. Tanpa intervensi dosen, AI mungkin justru menyesatkan daripada memperkaya.
Peran Dosen di Era AI
Meskipun AI menawarkan banyak manfaat, peran dosen tetap krusial dan tidak boleh digeser sepenuhnya. Dosen dapat beradaptasi dengan menjadi fasilitator yang lebih efektif. Alih-alih memberikan kuliah satu arah, mereka bisa menggunakan AI untuk mendukung pembelajaran kolaboratif.
Misalnya, dosen dapat meminta mahasiswa menggunakan AI untuk menghasilkan draf esai, kemudian membimbing mereka untuk merevisi dan memperbaiki berdasarkan umpan balik manusia. Ini memperkaya literasi mahasiswa dengan menggabungkan efisiensi AI dan kedalaman wawasan dosen.
Dosen juga berperan dalam pendidikan etika AI. Mereka harus mengajarkan mahasiswa bagaimana menggunakan AI secara bertanggung jawab, seperti menghindari plagiarisme dan memverifikasi informasi. Dengan demikian, AI tidak menggeser peran dosen, melainkan memperluasnya.
Dosen bisa fokus pada pengembangan keterampilan lunak seperti empati, kepemimpinan, dan pemikiran kritis, hal-hal yang AI belum bisa tiru dengan baik. Dalam skenario ideal, dosen menjadi “pemandu” yang membantu mahasiswa menavigasi dunia AI, memastikan bahwa teknologi ini memperkaya literasi tanpa mengorbankan nilai-nilai pendidikan manusia.
Institusi pendidikan perlu mendukung ini dengan kebijakan yang jelas. Misalnya, universitas bisa mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum sambil menekankan evaluasi manusia. Penelitian dari UNESCO menunjukkan bahwa pendidikan yang sukses di era AI adalah yang seimbang, di mana teknologi mendukung, bukan mendominasi.
Kesimpulannya, AI di ruang kelas bukanlah ancaman yang menggeser peran dosen, melainkan peluang untuk memperkaya literasi mahasiswa. Dengan manfaat seperti personalisasi pembelajaran dan akses cepat ke informasi, AI dapat meningkatkan efisiensi dan kedalaman pengetahuan.
Namun, tantangan seperti plagiarisme, kesenjangan digital, dan bias harus diatasi melalui pendekatan yang bijak. Peran dosen tetap penting sebagai mentor etis dan fasilitator kreativitas.
Jika digunakan sebagai alat pendukung, AI akan memperkuat pendidikan, mempersiapkan mahasiswa untuk dunia yang semakin digital. Pada akhirnya, kesuksesan tergantung pada keseimbangan antara teknologi dan interaksi manusia.












