Women Center Sumenep Gelar Aksi Simbolik Perdana Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026: “Give to Gain” Jadi Semangat Kolaborasi Lokal
LIMADETIK.COM, SUMENEP – Di tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret lalu, Kabupaten Sumenep tak tinggal diam. Women Center Sumenep menggelar aksi simbolik spesial pada Sabtu, 14 Maret 2026, pukul 13.00 WIB di Taman Bunga Sumenep.
Kegiatan ini menjadi tonggak bersejarah sebagai aksi simbolik pertama di wilayah tersebut yang secara khusus merayakan momentum global tersebut dengan nuansa lokal Madura yang kuat.
Mengusung tema “Give to Gain” yang sejalan dengan kampanye International Women’s Day 2026 yang menekankan pemberian (waktu, pengetahuan, sumber daya, solidaritas) sebagai kunci memperoleh kemajuan bersama menuju kesetaraan gender.
Dari perspektif para aktivis dan korban yang selama ini berjuang di garis depan, kegiatan ini terasa sangat relevan. “Kami tidak hanya ingin bicara tentang hak perempuan, tapi benar-benar memberikan bantuan konkret,” ujar Aliya, koordinator Women Center Sumenep.
Aksi ini menyoroti realitas pahit di Sumenep: kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang masih sering tersembunyi, akses sanitasi menstruasi yang terbatas bagi remaja putri di desa-desa terpencil, serta minimnya dukungan pemulihan bagi korban.
Melalui sajian panggung ekspresi, distribusi pembalut gratis lewat kampanye #haidbukanaib dan open donasi khusus korban kekerasan & pelecehan seksual.
Keunikan aksi ini terletak kolaborasi lintas komunitas yang sangat inklusif, melibatkan organisasi dari berbagai latar belakang:
1. KPI Sumenep
2. LKK PCNU Sumenep
3. PII Sumenep
4. Binar JHS
5. Setara Perempuan
6. PMII Sumenep
7. LBH Achmad Madani
8. FPR Sumenep
9. Pioner Indonesia
10. PII-Wati Sumenep
Puluhan aktivis, relawan, dan warga masyarakat hadir dengan dress code pink atau putih, menciptakan suasana penuh kehangatan dan solidaritas. Banyak peserta yang datang bukan hanya sebagai penonton, melainkan turut menandatangani komitmen anti-kekerasan seksual sebagai bentuk aksi nyata.
Dari sudut pandang gerakan perempuan di tingkat akar rumput, aksi ini bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan berkelanjutan di wilayah Madura yang kental dengan nilai-nilai tradisional, inisiatif seperti ini diharapkan mampu membuka ruang diskusi terbuka tentang isu-isu sensitif tanpa menghilangkan identitas lokal.






