Oleh : Subliyanto

Setiap manusia akan dihadapkan dengan berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Mulai dari skala yang terkecil hingga skala yang besar. Mulai dari lingkup keluarga hingga lingkup berbangsa dan bernegara. Maka tugas manusia adalah bagaimana menyikapi setiap persoalan yang dihadapinya dengan baik. Karena sebagaimana yang telah penulis jelaskan pada artikel sebelumnya yang membahas tentang “kemiskinan”, bahwa semua itu hanyalah bersifat ujian bagi manusia untuk mengukur kualitas iman. Dan tentu ini patut menjadi renungan.

Lantas apakah manusia bisa menjamin atau memberikan jaminan dalam upaya mengatasi persoalan-persoalan hidup yang dihadapi ?

Membahas tentang masalah jaminan, terdapat kisah hikmah yang sangat menarik, dan cukup menggugah, khususnya bagi masyarakat muslim, guna memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada dzat yang maha menjamin. Berikut kisahnya :

Seorang laki-laki masuk ke ruangan”Almanshur” pada hari dia dibaiat menjadi Khalifah umat islam. Almanshur berkata : “Nasihatilah aku”. Laki-laki itu berkata : “Aku nasihati kamu dengan yang aku lihat atau dengan yang aku dengar ?” Berkata Almanshur : “Dengan yang kau lihat”.

Dia berkata : “Wahai Amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz punya 11 anak. Dan ketika matinya meninggalkan 18 dinar. Untuk kafan 5 dinar, untuk urusan kuburnya 4 dinar dan sisanya diberikan pada anak-anaknya.  Sedangkan Hisyam punya 11 anak juga. Setiap anak mendapat bagian sejuta dinar ketika matinya. Demi Allah wahai amirul mukminin, aku melihat pada suatu hari anak-anak Umar bin Abdul aziz bersedekah dengan 100 kuda untuk jihad fi sabilillah. Dan kulihat salah satu anak Hisyam meminta-minta di pasar”.

Disebutkan anak perempuan Umar bin Abdul Aziz masuk ke kamarnya menangis. Maka dia bertanya : “Apa yang membuatmu menangis anakku ?” Dia berkata : “Setiap anak memakai pakaian baru, dan aku anak amirul mukminin memakai pakaian lama.”

Umar kasihan melihat tangis anaknya, maka dia pergi kepada bendahara negara. Dia berkata : “Apakah kau mengizinkanku mengambil gajiku bulan depan?” Bendahara berkata : “Tidak bisa wahai Amirul mukminin”.

Maka Umar menceritakan apa yang terjadi dengan anaknya. Bendahara berkata : “Kalau begitu tidak apa-apa kau ambil gajimu bulan depan. Tetapi dengan satu syarat”. Umar berkata : “Syarat apakah itu ?” Bendahara : “Syaratnya engkau bisa menjamin padaku kau masih hidup bulan depan untuk bekerja dengan gaji yang telah kau ambil lebih dulu”.

Umar meninggalkannya dan kembali ke rumahnya. Anak-anaknya bertanya : “Apa yang terjadi padamu wahai Bapak ?” Dia berkata : “Maukah kalian bersabar dan kita masuk surga bersama atau kalian tidak bersabar dan bapakmu ini masuk neraka ?” Mereka berkata : “Kami akan bersabar wahai Bapak”.

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa, manusia hidup dan menjalankan roda kehidupannya hanyalah mengikuti alur skenaro yang telah diatur oleh Allah, Tuhan semesta alam. Landasan utamanya adalah konsep iman. Maka sejatinya manusia tidak bisa memberikan jaminan apapun dalam hidup dan  kehidupan dengan melupakan atau bahkan mungkin menafikan peran Tuhan. Maka dalam hal ini Allah berfirman :

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu : “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi. kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (QS. al-Kahfi : 23-24)

Dalam tasfir Jalalain, dua ayat ini dijelaskan bahwa (Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu) tentang sesuatu (Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi) lafal “Ghadan” artinya di masa mendatang. (Kecuali dengan menyebut “Insya Allah”) artinya, mengecualikannya dengan menggantungkan hal tersebut kepada kehendak Allah, seumpamanya kamu mengatakan Insya Allah (Dan ingatlah kepada Rabbmu) yaitu kepada kehendak-Nya seraya menggantungkan diri kepada kehendak-Nya (jika kamu lupa) ini berarti jika ingat kepada kehendak-Nya sesudah lupa, sama dengan ingat kepada kehendak-Nya sewaktu mengatakan hal tersebut.

Manusia hanyalah mempunyai kewajiban berikhiyar dalam menjalani roda kehidupannya. Adapun hasil dari jerih payah yang dikeluarkan merupakan hak periogratif Allah segalanya. Maka bagi seorang muslim gerakan ikhtiyar dengan prinsip iman sangatlah penting. Sehingga tidak ada rasa keraguan pada dirinya dalam mengatasi setumpuk persoalan hidupnya.

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (QS. Yunus : 62-63)

Semoga kita senantiasa menjadi orang yang mempunyai kekokohan iman dan mempunyai rasa senang dalam berikhiyar sebagai bentuk implementasi dari ketakwaan. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here