Artikel

Dilematika Manusia dalam Menghadapi Ragam Keindahan Dunia

×

Dilematika Manusia dalam Menghadapi Ragam Keindahan Dunia

Sebarkan artikel ini
Dilematika Manusia dalam Menghadapi Ragam Keindahan Dunia
Ilustrasi

Dilematika Manusia dalam Menghadapi Ragam Keindahan Dunia

Oleh : Subliyanto
______________________________

LIMADETIK.COM – Sudah menjadi maklum bahwa manusia diciptakan dan dilahirkan ke dunia salah satu tugasnya adalah memakmurkan dunia dan isinya. Dan makna memakmurkan disini adalah menghiasinya dengan berbagai macam kebaikan. Namun mengiringi tugas itu pula tentu manusia juga akan dihadapkan berbagai macam sajian kelezatan dunia dan isinya.

Sajian kelezatan dunia tersebut sudah tentu menjadi “soal ujian” bagi dirinya dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Barang siapa yang dapat menjawab dan menyelesaikan soal ujian tersebut dengan tepat dan benar maka ia akan mendapatkan value dari semua apa yang telah dikerjakannya. Baik di dunia dan terlebih kelak di akhirat.

“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya”. (QS.al-Zalzalah : 7-8).

Lantas bagaimana menyikapi hal itu semua agar kita tidak takut untuk berbuat, berkarya, dan menghasilkan karya sebagai jawaban kongkrit dari pengamalan tugasnya di dunia, yang juga dihadapkan dengan berbagai macam soal ujian tentang kelezatan dunia yang harus dihadapinya ?.

Maka jawaban yang “mungkin” tepat adalah laksanakan tugas dengan ikhlas semata-mata dalam rangka menjalani perintah dari sang Maha Pemerintah, dan mengharap ridhoNya. Adapun hal-hal yang ditemukan dalam pelaksanaan tugasnya, khususnya terkait dengan kelezatan dunia dengan berbagai macam jenisnya, yang hal itu semua sudah fix menjadi soal ujian bagi dirinya yang harus dihadapi, maka skip aja semampu energi kita. Karena manusia bukanlah malaikat yang notabene “focus on his duty”, maka basic dari semuanya tidak lain dan tidak bukan adalah “the power of iman”.

Terkait hal ini, pada diri manusia diilhamkan dua daya magnetik yang melekat pada dirinya, yaitu apa yang disebut dengan “fujur” dan “takwa”. Hal itu sebagaimana telah termaktub dalam firman-Nya ;

“Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”. (QS. al-Syam : 7-10)

“Fujur” merupakan daya magnetik yang melekat pada diri manusia yang bersifat syahwat duniawi. Yaitu kecenderungan-kecendrungan pada kejahatan, kemaksiatan dan segala bentuk turunannya. Dan ini disebut dengan magnet negatif.

Sementara “takwa” merupakan daya magnetik yang melekat pada diri manusia yang lebih bersifat “akhirat oriented”. Yaitu kecenderungan-kecendrungan pada kebaikan yang nilainya bersifat permanen. Sehingga ia menjadikan dunia sebagai fasilitas menuju kehidupan yang hakiki. Dan hal ini disebut dengan magnet positif.

Dengan diilhamkannya dua daya magnetik tersebut pada diri manusia, maka sudah jelas bahwa kita sebagai manusia harus siap melaksanakan yang namanya “jihatun nafsi”. Yakni jihad melawan dirinya sendiri dalam upaya memanaj magnet positif dan magnet negatif yang sudah secara manusiawi melekat pada diri kita.

Dan hal itu tidaklah mudah, harus memiliki pondasi keimanan yang kokoh pada dirinya. Item-item material pondasi keimanan yang kokoh terdiri dari ilmu dan amal, yang keduanya satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan.

Apalagi dalam kehidupan manusia saat ini yang semuanya serba mudah, serba canggih, serba wah, dan serba transparan, dimana kesemuanya itu menjadi dilematika manusia dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Maju kenak, mundur kenak, diampun juga kenak, itulah tantangan nyata kita saat ini. Dan hanya orang-orang beriman dan berilmulah yang bisa menyetirnya agar bisa menjadikan dunia sebagai fasilitas menuju kehidupan yang hakiki.

Maka nikmatilah hidup dan ragam kehidupan dengan berasaskan ilmu. Karena ilmu tidak hanya membahas sebuah definisi, akan tetapi ilmu juga memberikan beragam solusi. Ilmu tidak hanya membahas apa itu mangga, akan tetapi ilmu juga mengajarkan bagaimana cara mengupasnya dengan baik dan benar agar bisa dinikmati.

Karenanya, berusahalah menjadi pengemudi yang baik, yaitu pengemudi yang berilmu. Karena pengemudi yang berilmu akan mudah mengemudikan kendaraannya berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Karena yang menjadi pembeda dari kualitas masing-masing manusia adalah iman dan ilmunya yang tercover menjadi satu kesatuan pada dirinya yang bernama takwa. Atau dalam pembahasan ini bisa disebut dengan energi positif.

Semoga catatan singkat ini bermanfaat. Dan teriring do’a semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan kepada kita dalam melaksanakan tugas insaniyah dalam kehidupan, kendatipun kita dihadapkan dengan beragam soal ujian yang menggoda dan menggelitik kita dalam kehidupan di dunia. Baik dunia nyata maupun dunia maya. Wallahu a’lam bis shawab [*]

Penulis merupakan pegiat literasi di Pamekasan