Nasional

FAKULTAS PERTANIAN UNIBRAW MENGAJAK PETANI MUDA PONCOKUSUMO KEMBALI KE PHT

×

FAKULTAS PERTANIAN UNIBRAW MENGAJAK PETANI MUDA PONCOKUSUMO KEMBALI KE PHT

Sebarkan artikel ini


Malang, 9 Februari 2026
Keberadaan tanaman apel yang sempat menjadi penopang ekonomi masyarakat desa Poncokusumo kabupaten Malang, saat ini hampir mengalami kepunahan.
Tanaman apel yang pada awal tahun 2000 masih memiliki luasan 600 hektar lebih, sekarang hanya terisa beberapa hektar saja.
Sisa2 kejayaan apel ini masih bisa dinapaktilasi dengan banyaknya rumah2 megah dan mewah yang bertebaran di desa poncokusumo.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hampir punahnya tanaman apel ini, diantaranya terjadi perubahan iklim, ledakan hama dan penyakit, pemasaran hasil produksi, kenaikan harga sarana produksi berupa pupuk, pestisida dan usia tanaman yang sangat tua, sehingga mempengaruhi produktifitas dan ketanahan fisik tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Fakultas pertanian universitas brawijaya malang merasa prihatin dan terpanggil untuk kembali bersama sama petani muda di poncokusumo, agar kejayaan pertanian apel tidak menjadi sekedar sejarah saja, tetapi menjadi pengalaman yang berharga agar tidak terulang lagi.
DR Gatot Mujiono seorang dosen senior dari fakultas pertanian jurusan HPT unibraw didampingi dua orang dosen muda mengajak para petani muda poncokusumo untuk bertani dengan menerapkan prinsip2 ekologi agar tercapai tujuan pertanian berkelanjutan.
Gatot Mujiono saat berkunjung dan berdiskusi dengan para petani muda di desa poncokusumo pada Rabu 4 Februari 2026 mengingatkan, bertani dengan pendekatan dan penerapan prinsip2 ekologi akan memberikan timbal balik yang dignifikan antara petani sebagai pemilik tanaman budidaya dengan kemampuan alam untuk meregenerasi dirinya sendiri.
” Penggunaan pestisida kimia dan herbisida yang berlebihan, dalam kurun waktu tertentu akan membunuh keaneka ragaman hayati didalam tanah dan dampaknya tingkat kesuburan tanah terganggu ” ungkap Gatot.
Ilmu PHT ( Pengelolaan Hama Terpadu ) saat ini sudah berkembang jauh dan dampaknya sudah dirasakan sebagian petani padi di kabupaten Lamongan dengan tingkat produksi minimal 7 ton/hektar.
Desa poncokusumo yang saat ini sudah dipenuhi dengan tanaman jeruk, tidak menutup kemungkinan akan mengalami nasib yang sama seperti yang terjadi pada tanaman apel.
“Secara perlahan tapi pasti, jika terjadi lagi kesalahan masa lalu, maka kesulitan2 dalam mengatasi problem hama penyakit tanaman akan terulang lagi ” pungkas Gatot Mujiono.( M. Irwan )
Nasional

Banser Apresiasi Gerakan Penghijauan BPBD Bondowoso, 2.000 Bibit…