https://limadetik.com/

Hari Tani Nasional, Mahasiswa Sumenep: Setop Alih Fungsi Lahan

  • Bagikan
IMG20190924093302
Para mahasiswa saat aksi di depan kantor DPRD Sumenep (Nikam Hokiyanto)

SUMENEP, limadetik.com — Pada peringatan Hari Tani Nasional yang jatuh pada hari ini, Selasa (24/9/2019) sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Brigade Rakyat dan Pemuda Nusantara (Bribda) melakukan aksi demontrasi di Kantor DPRD Sumenep, Jawa Timur.

Para aktifis mahasiswa ini selain membawa hasil pertanian seperti kacang panjang dan terong, juga dalam salah satu poster yang dibentangkan tertulis ‘Setop alih fungsi lahan’. Pasalnya, selama 4 (empat) tahun terakhir ini banyak lahan pertanian beralih fungsi menjadi tambak udang.

https://limadetik.com/

Selain itu, mereka menuntut agar Pemerintah tidak menutup mata terhadap persoalan yang dialami para petani. Salah satunya suplai pupuk yang tidak terkontrol secara maksimal. Akibatnya kebutuhan pupuk tidak terpenuhi dengan baik.

“DPRD juga harus mengeluarkan regulasi terkait harga jual pada setiap masa panen, termasuk tembakau dan gabah,” kata Koordinator aksi, Baihaqi.

Menurutnya, Pemerintah Daerah bersama wakil rakyat juga harus tegas agar lahan produktif tidak beralih fungsi. Sebab, sejak beberapa tahun terakhir ini, banyak lahan produktif marak dialih fungsikan.

“Penanganan daerah yang selama ini sering terjadi kekeringan juga harus dilakukan dengan maksimal. Sebab, masyarakat hanya menginginkan kehidupannya terus berlanjut dengan baik,” tegasnya.

Aksi mahasiswa ini ditemui langsung Ketua DPRD Sumenep, Hamid Ali Munir dan Kepala Dispertahorbun, Arif Firmanto. Politisi senior PKB ini mengungkapkan, bahwa sekarang Sumenep sedang membahas Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW).

“Silahkan sampaikan masukan mahasiswa. Sedangkan kalau bicara pupuk, masih terserap 32 persen. Artinya persediaan pupuk kita masih mencukupi. Tetapi pupuk tidak bisa dijual bebas, karena pupuk bersubsidi. Jadi harus melalui kelompok tani,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dispertahorbun, Arif Firmanto. Pihaknya meminta supaya masyarakat tidak khawatir persediaan pupuk. Apalagi sebagian sudah menggunakan kartu tani.

“Jadikan hari tani sebagai refleksi. Yang belum baik, mari perbaiki bersama-sama,” tukasnya. (hoki/yt)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan