Kampus STIT Aqidah Usymuni Sumenep Disorot: Sampah Berserakan, Fasilitas Minim, Mahasiswa Angkat Suara
LIMADETIK.COM, SUMENEP – Kondisi lingkungan Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni Sumenep belakangan ini menjadi sorotan. Area yang seharusnya menjadi ruang belajar yang bersih dan nyaman justru dipenuhi sampah yang berserakan di berbagai sudut.
Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan sampah plastik, bungkus makanan, hingga botol minuman menghiasi area taman dan halaman kampus.
Kondisi ini dinilai mengganggu estetika sekaligus kenyamanan civitas akademika dalam menjalankan aktivitas perkuliahan.
Salah satu mahasiswa, Moh Syaiful Anwar, menilai persoalan ini tidak lepas dari minimnya fasilitas pendukung kebersihan di lingkungan kampus.
“Fasilitas kampus belum cukup menunjang, terutama tempat pembuangan sampah. Memang ada, tapi letaknya tidak strategis, sehingga banyak mahasiswa akhirnya membuang sampah sembarangan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Ia juga menyoroti kurangnya perhatian pihak kampus terhadap pengelolaan kebersihan. Menurutnya, kondisi sampah yang menumpuk menunjukkan belum adanya penanganan yang serius.
“Kurangnya kesadaran dari pihak kampus terhadap sampah. Sampai saat ini masih banyak yang menumpuk, dan itu sangat tidak enak dipandang,” tambahnya.
Ipunk sapaan akrabnya juga menegaskan persoalan fasilitas kampus secara umum turut memengaruhi kenyamanan belajar mahasiswa.
Ia menyoroti tidak adanya ruang terbuka yang layak untuk kegiatan mahasiswa. Padahal, sebelumnya kampus memiliki fasilitas gazebo yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat diskusi maupun istirahat.
“Dulu ada gazebo, tapi sekarang rusak dan tidak diganti sampai sekarang. Padahal itu penting untuk menunjang aktivitas mahasiswa di luar kelas,” ungkapnya.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah tuntutan kampus sebagai pusat pendidikan yang semestinya menjadi contoh dalam menjaga kebersihan dan tata lingkungan.
Tidak hanya berdampak pada kenyamanan, persoalan ini juga berpotensi memengaruhi kualitas proses belajar-mengajar.
Masalah sampah di lingkungan kampus sejatinya bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan dari budaya dan kepedulian bersama.
Namun, tanpa dukungan fasilitas yang memadai dan kebijakan yang tegas dari pihak kampus, kesadaran individu kerap sulit tumbuh secara konsisten.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menjaga kebersihan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada mahasiswa.
Pihak kampus dituntut hadir dengan solusi konkret, mulai dari penambahan tempat sampah di titik strategis, perbaikan fasilitas umum, hingga edukasi berkelanjutan terkait pentingnya menjaga lingkungan.
“Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin citra kampus sebagai lembaga pendidikan akan ikut tercoreng oleh persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan langkah sederhana namun konsisten” pungkasnya.












