SUMENEP, LimaDetik.Com – Keluh kesah pengelola cafe dan resto di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur saat situasi pandemi covid-19 yang hingga kini masih belum diketahui kapan akan berakhir.
Seperti halnya pengelola cafe Tabularasa Faiqul Khairal Qudus, atau yang dikenal dengan Ra Faiq, ia bercerita betapa sulitnya mengelola tempat usaha ketika situasi dalam pandemi saat ini.
“Kesulitan kami (pengelola cafe) di Sumenep dimana kami harus berani bangkit dalam situasi pandemi seperti sekarang ini” katanya, Kamis (11/2/2021).
Namun sambung Ra Faiq, pandemi ini juga ada asyiknya, karena mereka bisa membangun komunikasi bersama beberapa pengunjung Tabularasa.
“Asyiknya itu ketika kita melayani pengunjung. Komunikasi aktif dan terbangun, seperti halnya ketika kita menyarankan pengunjung untuk mencuci tangan dan menjaga jarak saat masuk di Tabularasa” ungkapnya.
Lebih lanjut Ra Faiq mengatakan, pihaknya sangat mendukung peraturan pemerintah dalam menekan dan memutus rantai penyebaran covid-19 di Kabupaten Sumenep, namun ia meminta pemerintah juga harus jujur dengan basis data yang dipakai untuk Kabupaten dengan julukan kota keris tersebut.
“Kalau soal peraturan pemerintah Kabupaten Sumenep dalam memperketat protokol kesehatan (Prokes) covid-19 ini kami sangat mendukung sekali, dan itu sudah kami lakukan untuk setiap pengunjung, dari memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Sekarang basis data yang dipakai pemerintah kita ini data yang mana, padahal kitakan bukan masuk wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)” terangnya dengan nada bertanya.
Jika data yang dipakai Pemerintah Sumenep lanjut Ra Faiq sudah sesuai untuk diberlakukan di Sumenep, maka tentunya tidak akan membuat pengelola juga kebingungan,
“Kami (pengelola) cafe hingga saat juga bingung data mana yang dipakai pemerintah kabupaten sumenep untuk menentukan aturan jam malam hingga jam 20.00 WIB. Padahal kalau data yang dipakai ini merujuk ke zona, sementara kita di sini (Sumenep) zona nya seperti apa. Apakah kita masuk PPKM atau tidak, nah kalau tidak kenapa harus sama waktu kita dengan melaksanakan PPKM” seloroh Ra Faiq semabari bercanda.
Pihaknya sebut Ketua GusDurian Sumenep ini, berharap pemerintah mengkaji ulang peraturan zona berdasarkan basis data yang falid dan jelas, Jangan sampai cafe dibatasi dengan waktu yang singkat di malam hari, sedangkan acara pesta pernikahan justru biasa saja.
“Semoga saja peraturan pemerintah saat ini terkait pembatasan waktu buka cafe di malam hari bisa dikaji ulang dan dipertimbangkan kembali, agar kami juga bisa menghidupkan para karyawan yang saat ini menggantungkan harapannya di mana mereka bekerja” pungkasnya.
(yd/yd)