https://limadetik.com/

Lailatul Ijtima’ Wadah Silaturahmi dan Sinergitas Jama’ah dan Jam’iyyah

  • Bagikan
20200301 215121 scaled

JAKARTA, Limadetik.com — Lailatul Ijtima’ adalah kegiatan bulanan yang hanya ada di NU. Kegiatan ini sebagai pondasi dan akar kegiatan perkumpulan Nahdliyyin yang sudah lama ada.

Dalam kegiatan Lailatul Ijtima’ ini biasa diisi dengan istighosah, ngaji kitab, dan diskusi bersama. Hal ini disampaikan oleh ketua MWC NU Kecamatan Kemayoran Ust. Ahmad Muhajir dalam sambutannya. Minggu, (1/3/2020).

https://limadetik.com/

Imam Rawatib Masjid Akbar Kemayoran ini menambahkan sebagai wadah silaturahmi dan sinergitas jama’ah dan jamiyyah. “Lailatul ijtima’ akan kami adakan terus agar kaum nahdliyyin faham lebih dalam tentang aswaja an-nahdliyyah, ubudiyyah NU dan wawasan islam nusantara” katanya.

Sementara itu, Ketua PCNU Jakarta Pusat Gus Syaifudin mengatakan menurut lembaga survei yang dikeluarkan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) jumlah NU ada 45,5 persen. “Jika 20 persen saja aktif menyumbang ke kotak koin NU, saya yakin di setiap kecamatan atau MWC  Insya Allah punya mobil ambulance untuk masyarakat yang membutuhkan” terangnya.

Gus Syaifuddin juga menambahkan gerakan kemandirian NU itu ciri dari adat kebiasaan masyarakat indonesia, jika masyarakat indonesia terkenal dengan gotong royong untuk kerja bakti, bangun masjid, dan bantu bersama korban bencana alam. “Gerakan kemandirian NU ini wajah baru yang berasal dari umat dan untuk umat” imbuhnya.

Selain Ketua PCNU Jakarta pusat, pengurus masjid Nurussalam Serdang H. Bambang Budiono juga mengatakan bahwa masjid ini selalu siap bersinergi dengan NU. “Sebagai tempat ibadah, dalam sejarahnya masjid juga berfungsi untuk kegiatan sosial yaitu berdiskusi dan memikirkan umat” ujarnya.

Sedangkan KH. Zulfa Mushtofa dalam ceramahnya menyampaikan, kebahagiaan seseorang itu ukurannya sering mengaji. Dan di acara lailatul ijtima’ ini selain silaturahmi, kita juga mengaji. Penelitian kompas beberapa tahun lalu disebutkan indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia lebih tinggi dari pada Jepang dan Singapura.

“Bisa jadi itu sebab umat muslim Indonesia sering mengaji, Karena dengan mengaji, hati kita bisa lebih dikendalikan jika ada masalah” paparnya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Jargon kota Jakarta “Maju Kotanya, Bahagia Warganya” jika ingin terwujud, kita sebagai warga Jakarta harus sering-sering ngaji al-qur’an di rumah dan ikut hadir ke majlis-majlis pengajian. Kalo maju kotanya, itu urusan pemerintah di bidang infrastruktur”. tutur Kiyai Zulfa.

Katib Syuriyyah PBNU ini menambahkan ada tiga pilar dalam NU yang semuanya harus berjalan bersama dan saling bersinergi. Yaitu pilar keilmuan, ekonomi, dan kebangsaan. Dari tiga pilar ini embrio pendirian dan lahirnya NU. Yaitu dari Tashwirul Afkar, Nahdlotut Tujjar, dan Nahdlotul Wathon.

“Oleh karena itu kajian bulanan di PBNU baik pengajian atau diskusi tentang kebangsaan selalu ada. Dan juga gerakan kemandirian NU melalui kotak koin selalu digaungkan”. tukas Kiyai Asal Jakarta Utara ini. (Farhan Maksudi/yd).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan