Pemerintah

Mas Ipin Dukung Pelestarian Biodiversitas di Daerahnya Sebagai Upaya Menjaga Keseimbangan Alam

×

Mas Ipin Dukung Pelestarian Biodiversitas di Daerahnya Sebagai Upaya Menjaga Keseimbangan Alam

Sebarkan artikel ini
Mas Ipin Dukung Pelestarian Biodiversitas di Daerahnya Sebagai Upaya Menjaga Keseimbangan Alam
Bupati Trenggalek Moh. Nyr Arifin saat bersama BBKSDA Jawa.Timur

Mas Ipin Dukung Pelestarian Biodiversitas di Daerahnya Sebagai Upaya Menjaga Keseimbangan Alam

LIMADETIK.COM, TRENGGALEK – Dalam kegiatan penyebarluasan informasi buku Biodiversitas Trenggalek 2025 salah satu pemenang Festival Gagasan Lan Aksi (Galaksi) Kabupaten Trenggalek 2025 di Amphiteather Hutan Kota Trenggalek, Senin (9/2/2026),

Bupati Trenggalek Moh. Nur Arifin mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati di daerahnya. Menurutnya Biodiversitas merupakan salah satu upaya menjaga keseimbangan alam.

Menurut Mas Ipin sapaan akrab kepala daerah muda Trenggalek itu, dalam aktivitas keseharian manusia tidak lepas ketergantungan dari alam. Mulai dari udara, air, tanah dan yang lainnya, sehingga sudah sepatutnya manusia itu harus menjaga keberlangsung alam. Tidak hanya hutannya saja melainkan juga flora dan fauna di dalamnya.

Rantai makanan perlu terjaga, karena bila tidak terjaga maka akan terjadi ketimpangan dimana hewan pemangsa misalnya akan masuk ke pemukiman untuk mencari makan. Kondisi seperti ini tentu akan mengganggu keberlangsungan hidup.

Ditanya mengenai Biodiversitas ini kepala daerah muda itu menegaskan. “Penting karena kita hidupkan tergantung pada alam. Udara yang kita hirup, kemudian air yang kita konsumsi, semua bersumber dari alam,” ucap Mas Ipin di Amphiteather Hutan Kota.

Lebih lanjut kepala daerah yang dipercaya menjadi Wakil Ketua APKASI itu menambahkan “Termasuk keberadaan flora dan fauna di dalam itu juga. Kalau rantai makanannya yang tadi disebut oleh Kepala BKSDA terputus, pasti nanti akan gangguin ke pemukiman,” imbuhnya.

Bupati mengingatkan, kalau tidak ingin sering-sering banyak ular main ke rumah atau kemana, di hutannya harus dijaga. Apalagi indonesia negara agraris, banyak atau hampir 70% penyerbukan itu masih tergantung sama kupu-kupu, sama burung-burung, sama kelelawar maupun hewan-hewan lain yang membantu penyerbukan. Akhirnya masyarakat bisa merasakan panen.

“Jadi ini inventarisasi terus nanti tindak lanjutnya di Huko akan kita bentuk semacam Giants Aviari atau semacam Jaring Aviari. Sehingga satwa-satwa yang ada nanti tidak dikandang lagi” ungkapnya.

Tapi tentu lanjut Bupati, prosesnya akan lama dan itu masuk dalam skema komponen kota atraktif. Jadi tidak atraktif bagi manusianya tapi juga seluruh flora dan fauna yang ada di dalamnya. Sehingga nanti terjadi keseimbangan.

“Yang pertama dan paling penting sekarang kita mempersiapkan Guardian-Guardian atau penjaga-penjaga dulu. Saya senang Mas Ahmat yang tadi bikin bukunya dan menang festival gagasan, dia rajin turun ke sekolah-sekolah dan sebagainya” ujarnya.

Harapannya masih kata Bupati, mahasiswa, semua masyarakat sadar pentingnya menjaga flora dan fauna itu, harapan saya tidak akan diburu. “Karena tadi bentuk burung-burungnya, bahkan saya hampir jarang melihat juga. Banyak yang bagus-bagus dan aneh-aneh. Jangan sampai ditangkap terus dijual belikan. Ya itu yang sangat tidak kita harapkan,” tandas Mas Ipin.

Selain Bupati Trenggalek, turut hadir dalam Diseminasi Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 ini Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Nur Patria Kurniawan, yang juga mendukung dan menegaskan pentingnya Biodiversitas ini.

Dalam kegiatan ini Kepala BBKSDA Jatim itu menyampaikan bawasannya ternyata Trenggalek punya potensi yang namanya Lola Merah. Ini merupakan hewan jenis Siput yang cangkangnya memiliki warna yang sangat menarik dan umumnya digunakan sebagai bahan pembuat kancing dan cat.

Selain potensi keanekaragaman hayati, Nur Patria juga mendukung upaya Bupati Trenggalek yang melestarikan alamnya. Menurutnya nanti ada yang dicari orang, bukan tumpukan uang melainkan kembali ke alam, tegasnya. Karena orang lupa bersyukur, yang paling sederhana saja yaitu bernafas.

“Semakin banyak polusi, maka orang akan mencari tempat dimana udara itu masih segar. Kalau kita sakit bernafas dengan oksigen itu mahal, tandas, Kepala BKSDA Jatim itu” tuturnya.