https://limadetik.com/

Matematika untuk Apa.?

Penulis: Faishol RidhoEditor: Wahyu
  • Bagikan
Matematika untuk Apa.?
FOTO: Ilustrasi

OLEH: Faishol Ridho

Matematika untuk Apa.?

https://limadetik.com/

LIMADETIK.COM – Semenarik apa matematika untuk diketahui dan dipahami ?. pada masa kejayaan Islam atau keemasan islam (the golden age) dinasti Abbasyiah oleh Al Mansur Ar Rasyid Al-Ma’mun, Matematika menjadi ilmu pengetahuan yang sangat penting untuk dipelajari, dan menjadi landasan dasar bagi masyarakat saat itu. Sehingga siapapun dan mendapat pekerjaan apapun harus memahami dasar-dasar matematika sebagai pengantar yang wajib. Jika sekarang, setara dengan kebutuhan pemahaman mahasiswa pada filsafat dan teknologi sebagi basic need. Jadi tidak salah jika matematika dikatakan sebagai “ratunya ilmu“.

Matematika itu apa ?, beberapa dari kita menjustifikasi metematika menjadi angka dan rumus-rumus, justifikasi tersebut berlanjut pada persoalan mereka yang tidak mampu menghitung dengan cepat, bukanlah matemtikawan, padahal Thales (624 – 546 SM) sebagai perintis matematika dan filsafat tidak seperti itu, Thales sebagai sorang filsuf mula-mula berfikir tentang gerak matahari yang sewaktu-waktu terjadi gerhana, ia tertarik menegtahuainya karena bangsa Mesir dan Babilonia dapat memperidiksi waktu gerhana matahari dengan alat seadanya.

Thales memepelajari ilmu matemtika yang kita kenal saat ini dengan Geometri dan Astronomi untuk memahami gerhana matahari. Konon ia berdiri dekat Piramid dibawah sinar mathari dengan mengukur bayangan badannya bersamaan dengan bayangan piramid. Keberhasilan itulah yang menjadi awal menghitung secara metmatis tentang alam raya diketahui oleh masyarakat dengan seperti itu akhirnya mampu menghitung waktu terjadi gerhana matahari secara matematis.

Selajutnya penemuan teorema Thales : seperti Lingkaran, besar sudut, sudut-sudut vertical, segitiga secara sederhana. Disusul dengan penemuan rumus Phytagoras ( 572-497 SM ) oleh Phytagoras dengan paham mazhab phytagoreanisme dalam filsafat.. Phytagoras dijuluki sebgai bapak bilangan ( The Father of Number ), sebab meskipun Phytagoras sebagai filsuf tapi filasafat phytagoreanisme didasari dengan ilmu matematika, hal itu dapat ditelisik dari pernyataan bahwa benda-benda jagat raya pasti ada yang memerintah, yaitu bilangan. Bilangan memilki peran penting dalam menentukan gerak benda jagat raya.

Pemikiran phytagoras dapat menerobos pada tataran bahwa rasio lebih tinggi dari keyakinan hati belaka, sebab alam dunia tidak sempurna maka ada yang lebih sempurna yaitu tuhan, konklusinya adalah tuhan pasti ahli ilmu pasti. Maka dalam dunia modern pemikiran matemtais muncul sebagai reaksi tehadap kebenaran formal dan rasional yang kadang justru tidak real dalam diskursus kehidupan.

Kemudian matemtika masuk ke dunia muslim (islam dan metemtika ).

Ilmuan muslim mengembangkan pemikiran filosof Yunani ( yang sederhana dalam matematika ) dan menemukan aplikasi baru dalam kehidupan manusia, penemuan inilah yang manjadi ujung tombak kemajauan ilmu matematika modern. Ilmuan muslim seperti Tabit Ibnu Qura, Abu’i Wefa, Ibnu Al-Khaytam dan umat muslim lainnya mengenai beberapa materi seperti alajabar, geometri, trigonometri, iriasan kerucut dll. Tak terkeculai misal Ibnu Sina ( filsuf muslim ) yang membagi ilmu pada tiga kelompok, metafisik, fisika, dan matematika. juga Ibnu khaldun mampu menghubungkan geometri dan trigonometri yang menjadi satu kesatuan untuk dikembangkan.

Al-kindi dikenal dengan saintis bidang matematika dan fisika yang sekarang banyak digunkan pada tekhnologi seperti sandi-sandi ATM kita. Al-farabi dengan titik fokus pada geometri yang saat ini banyak berperan dalam kemajuan di Eropa. Kemudian Al jabar (salah satu cabang ilmu matematika ) yang tercantum dalam buku Al-Khawarizmi yang dikenal sebagi ahli matematika, atronomi, geografi dan astrologi.

Masa kejayaan umat islam sangat memepengaruhi kemjuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi saat ini yang telah kita rasakan bersama. Kita bisa melihat salah satu pengaruh angka Nol Al-Khawarizmi yang menyempurnakan matematika bangsa Yunani dan menjadi referensi kemajuan tekhnologi. algoritma misalanya merumuskan aplikasi- aplikasi dalam media atau handphone yang banyak dimainkan oleh anak-anak usia dini dan orang tua. Facebook yang ditemukan oleh Mrk Zuckerberg tidak lain berkat ilmu penegtahuan muslim Al Goritma Al khawarizmi. Beberapa progamer yang banyak dipelajari melalui rumus-rumus mateika, termasuk lahirnya rumus rumus fisika.

Matematika dibeberapa negara mejadi tolak ukur keberhasilan dalam sektor pendidikan. Abad 21 ini Indonesia masih tergolong pendatang baru dalam dunia tekhnologi yang cukup pesat, dibuktikan dengan gagapnya penggunaan tekhnologi saat pemebelajaran daring yang tidak maksimal. Penguasaan matematika yang mengarah pada tekhnologi secara nasional masih tergolong belum mampu bersaing.

Sementara kemjuan teknologi semakin cepat dan mudah melindas mereka yang bermalas-malasan. Ketidaksiapan itu pula dibuktikan engan pengendalian dapak negatif dari tekhnologi tidak maksimal, akhirnya tekhnologi bisa dikatakan “ mejajah “para pelajar di negeri ini. Tantangan mahasiswa jurusan matematika menjadi sentral menetukan sejauh mana keberhasilan yang akan memberikan dampak pada masyrakat luas.

“Kritik saya terhadap matematika sebagian rumus mengalami abtraksi yang tidak realitas sehingga menimbulkan kebenaran tekstual yang tak mempu meneyetuh terhadap perilaku manusia secara meneyeluruh”

Kedepan kita mecoba mereorientasi lagi tentang matematika sebagai kebutuhan real bagi kehidupan masyrakat utamanya pulau Madura. Bagaimana memahami matematika sacara kontekstual seperti kebutuhan pendidikan nasioanl saat ini harus nyata.

Ingin banyak mengulas tentang matematika yang memberikan pengaruh terhadap pemikiran-pemikiran mahasiwa lewat logika matematika yang diracik dengan ilmu penegtahuan lain seprti Filasafat dan matematika, matematika dan ekonomi, matematika dan pendidikan, matemtikia dan budaya, politik dan hal lainnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan