Scroll Untuk Membaca Artikel
Opini

Menyoal Pendidikan Kita

×

Menyoal Pendidikan Kita

Sebarkan artikel ini
Menyoal Pendidikan Kita
FOTO: Rom Kaesar Malatesta

Oleh: Rom Kaesar Malatesta
(Catatan Kecil Finland Education)
______________________________

OPINI – Mungkin sudah menjadi catatan lekat dalam setiap benak bangsa kita bahwa Ki Hajar Dewantara dan R.A. Kartini sebagai tokoh penggagas wajah baru pendidikan di Indonesia. Meski kedua tokoh ini memiliki latar belakang berbeda, intinya semua memiliki – untuk mengkonstruksi pendidikan, baik mekanismenya melalui universalitas pendidikan (karakter) dan sisi gender yang berani disetarakan sebagai gagasan baru dalam pendidikan.

GESER KE ATAS
SPACE IKLAN

Pertanyaannya, kemana hasil gagasan tokoh di atas? Padahal yang sangat substansial dalam pendidikan ialah pembentukan karakter dan tentu tiada penafian pula dari pemerataan pendidikan yang digagas oleh R.A. Kartini.

Mengaca terhadap data laporan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang termasuk di dalamnya Human Development Report, tentu tidak lain juga dari indeks pembangunan manusia (Human Development Index—HDI) di tahun 2007, bahwa Indonesia menempati posisi ke-112 dari 175 negara dunia.

Kondisi yang sangat memprihatinkan karena belahan negara di ASEAN saja seperti Kamboja (130), Myanmar yang senantiasa diterpa masalah (131), dan Laos (135). Keadaan seperti ini sangat selaras sekali dengan kualitas SDM dalam bidang pendidikan. Indonesia berada pada posisi yang sama dari 154 negara, di bandingkan Vietnam di peringkat ke-96, Malaysia ke-56, dan Philipina berada pada peringkat ke-76 (Ngainun Na’im, 2010: 6-7).

Begitulah kondisi pendidikan kita yang selalu tertinggal. Semisal bagaimana kita mencoba mengevaluasi sodoran gerak pendidikan yang muram ini dengan suasana belajar di negara Finlandia. Mungkin ini akan menjadi sebuah perbandingan dari negara mungil yang pernah meraih skor tertinggi pertama PISA (Programme for International Student Assessment) di tahun 2001.

Sudah jangan tanya lagi betapa kita mengenyam pendidikan dengan sebuah sistem parsial, yang berakibatkan pada sebuah keterbenturan sistem, baik dengan sistem yang menolaknya, ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan sepak lapangan kerja, dan tak pelak lagi akan menjadi sebuah anggapan depopulasi guru figur, dan hal inilah sumber yang menjadikan peserta didik bertindak amoral. Maka akan sesuai hal ini dengan sebuah celoteh, bahwa tiada siswa yang bodoh melainkan guru yang tidak tahu mengajar.

Selanjutnya, sadarkah kita soal kurikulum yang setengah progres, bukan sungguh-sungguh progres. Begitu cepatnya bergulir dari kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 13, dan sekarang Kurikulum Merdeka Belajar. Masalahnya, sudahkah kita matang untuk menerima sebuah mekanisme baru tanpa mengevaluasi hasil sesudahnya. Dan yang menjadi sebab lagi akses negatif media kepada anak didik. Seterusnya nalar egoisme yang dimiliki orangtua dan mabuk gelarnya para pelajar kita.

Mari kita bandingkan dengan kasus di atas apa yang telah dilakukan oleh negara Finlandia.

Alangkah lebih tepatnya, Finlandia meningkatkan rasa memiliki yang tinggi sebab hal demikian salah satu bahan utama kebahagiaan menurut literatur akademik. Di Finlandia untuk melakukan dobrakan baik mereka menggunakan lima cara dan satu untuk kebebasan pelajar—sisanya bagaimana terbebankan pada sebuah instansi dan orang yang terlibat di dalamnya.

Pertama, pemerataan kurikulum sekolah. Di dalamnya mencakup jenjang umur dan tingkat sosial. Dari sinilah pola pikir semua masyarakat Finlandia menganggap baik pada pendidikan.

Kedua, para guru terbentuk dengan ahlinya. Tentu sebuah peluang bagus untuk pelajar menemukan sosok figur yang baik.

Ketiga, ialah mematenkan suatu sistem kesejahteraan dengan cara membuat kelompok kesejahteraan yang terdiri dari ahli, guru, dan pemimpin yang mumpuni menangani sebuah polemik. Dan semisal ini dianggap permainan maka beban akan ditanggung instansi tersebut sebab pembiayaan yang mesti dikontribusikan.

Keempat, cara hierarki kepemimpinan sekolah—dalam artian, pemimpin/kepala sekolah ikut mengajar dan dapat mengetahui problem dari berbagai kelas.

Kelima, pola kebebasan. Maksudnya, mengaca terhadap berbagai eksperimen yang dilakukan oleh guru Finlandia, sebuah kelas bebas. Hal ini akan menemukan satu dari hobi pelajar yang memang menonjol dalam dirinya, ditambah lagi dengan aktifnya pelajar dengan kelompok-kelompok kepemudaan di luar kelas dan perpustakaan umum yang tersebar di bumi Finlandia, kesemuanya memiliki misi perihal pengembangan diri. Sangat cocoklah poin kelima ini dengan teori Tri Pusat Ki Hajar Dewantara bahwa pelajar dapat dibentuk dari tiga hal: keluarga, instansi dan kepemudaan.

Permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan tidak boleh lepas dari kesejahteraan, rasa memiliki, kemandirian, penguasaan dan membentuk pola pikir. Tentu, poin-poin ini akan sedikit merubah pola pendidikan kita sehingga dapat menghasilkan bahwa pendidikan memang senjata ampuh untuk merubah dunia. Seperti itulah Nelson Mandela berkomentar soal pendidikan.

Sepuluh Jari, 2022

Rom Kaesar Malatesta
Lelaki yang suka berbicara pada angannya sendiri.

× How can I help you?