Artikel

Mulia Merupakan Keniscayaan, Istiqamah Kuncinya

×

Mulia Merupakan Keniscayaan, Istiqamah Kuncinya

Sebarkan artikel ini
Mulia Merupakan Keniscayaan, Istiqamah Kuncinya
Ilustrasi

Mulia Merupakan Keniscayaan, Istiqamah Kuncinya

Oleh : Subliyanto
_________________________________

Bismillah wal hamdulillah. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. La haula walaquwwata Illa Billah. Waba’du ;

LIMADETIK.COM – Mungkin tidak asing di telinga kita sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa ; “Al Istiqamah ‘ainul karomah”. Yang artinya adalah “Keistiqamahan dari seseorang merupakan jendela kemuliaan”.

Disini penulis memaknai istiqamah dengan disiplin. Yaitu melakukan suatu secara konsistensi dan kontinuitas berdasarkan ilmu pengetahuan. Dan menjadi Insan yang disiplin merupakan kewajiban setiap insan agar gelar mulia dan kemuliaan ia dapatkan.

Memang hal itu bukanlah sebuah tujuan dan jangan pula dijadikan tujuan. Namun gelar mulia dan kemuliaan merupakan “tsamrotul yad” atau buah tangan dari keistiqamahan itu sendiri. Ibarat seseorang menanam sesuatu yang didisiplinkan prosesnya maka ia akan mendapatkan buah dari apa yang ia tanam.

Hal itupun juga sudah diedukasikan oleh sang guru utama manusia, Baginda Rasulullah SAW. melalui pesannya ; “Qul amantu billahi tsumma istaqim”. Yang maknanya adalah “Katakanlah (wahai manusia) aku beriman kepada Allah, kemudian (lanjut Rasulullah) istiqamahlah”. (HR. Muslim)

Pesan cinta sang tauladan di atas merupakan asas atau pondasi dari segala sesuatu adalah Iman kepada Allah. Kemudian istiqamah atau disiplin atas segala bentuk implementasi keimanannya yaitu berupa ketakwaan dan ketaatan dalam segala bentuk dan jenis kebaikan.

Sehingga iman dan istiqamah atau disiplin dalam segala bentuk kebaikan menjadi keharusan bagi kita semua sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mempunyai tugas pokok sebagai makhluk individu dan juga makhluk sosial.

Manusia yang istiqamah merupakan insan yang membuka bagi dirinya pintu-pintu kemuliaan dalam hidup dan kehidupannya. Baik di dunia dan terlebih kelak di akhirat. Sungguhlah benar Firman Allah SWT. yang mengatakan bahwa ;

“Demi masa, sungguh manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran”. (QS. al-‘Ashr : 1-3).

Mulia dan kemuliaan merupakan sebuah keniscayaan yang otomatis akan di dapatkan oleh orang-orang pilihan. Maka jangan jadikan kemuliaan sebagai tujuan. Tapi raihlah kemuliaan melalui sajian-sajian yang telah disediakan. Sehingga mulia dan kemuliaan dengan sendirinya hal itu akan kita dapatkan. Salah satunya adalah dengan istiqamah atau disiplin dalam setiap kebaikan yang kita lakukan.

Disiplin dalam melakukan suatu kebaikan mungkin terasa capek dan jemu bagi kita, dan hal itu tidak bisa kita nafikan karena hal itu merupakan hal yang bersifat manusiawi. Namun jangan sampai kita merasa lelah. Karena ketika kita merasa lelah kita enggan untuk melakukannya kembali. Capek dan lelah merupakan dua hal yang serupa tapi tidak sama. Capek bersifat sementara. Sementara lelah merupakan rasa “enek” bersifat permanen.

Nikmatnya cinta akan dirasakan oleh orang-orang yang paham makna cinta. Demikian juga nikmatnya iman akan dirasakan oleh orang-orang yang paham makna iman. Jamu sekilas memang terasa pahit di lidah, namun jamu itu akan menyehatkan badan setelah zat-zat amunitif yang terkandung di dalamnya diserap oleh sel-sel tubuh kita.

Karenanya, yuk jangan pernah merasa lelah dalam melakukan kebaikan. Lakukanlah dan istiqamahlah agar gelar mulia dan kemuliaan yang memang sudah menjadi hak kita akan kita dapatkan. Washallahu ‘ala sayyidina Muhammad. Wal hamdulillahi rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bis shawab [*]

Penulis merupakan pegiat literasi di Pamekasan