oleh

Nama RS. Abuya Ditolak, Tokoh Masyarakat: Tidak Ada Hubungannya dengan Sejarah

SUMENEP, limadetik.com – Rumah Sakit (RS) yang diberi nama Abuya di Kepulauan Sumenep, Jawa Timur mendapat penolakan warga. Sebab nama itu identik dengan nama Bupati Abuya Busyro Karim.

”Mayoritas warga kepulauan khususnya Pulau Kangean keberatan rumah sakit itu dinamai Abuya. Sama sekali tidak mengandung filosofis Kangean, apalagi sejak awal rumah sakit itu adalah rumah sakit Kepulauan,” tegas Kordinator Komunitas Warga Kepulauan (KWK), Syafiuddin, Jumat (30/10/2020).

Menurutnya, penamaan Abuya pada Rumah Sakit Kepulauan melukai hati masyarakat. Banyak nama tokoh bersejarah yang ada di Pulau Kangean seperti, Arya Jasa penemu pertama Pulau Kangean, KH Abdul Adzim Kholil perintis pertama Pondok Pesantren, atau Hamzah tenaga kesehatan pertama di bertugas di wilayah yang dikenal dengan Pulau bekisar tersebut.

”Lalu, kenapa kemudian dinamai Abuya? Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan sejarah, budaya, dan aspek lainnya yang melekat dengan Kangean,” ujarnya dengan nada kecewa.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, penamaan rumah sakit itu diduga melanggar peraturan menteri kesehatan (Permenkes) nomor 3 tahun 2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan. Dalam pasal 54 ditegaskan bahwa nama rumah sakit dilarang menggunakan nama orang yang masih hidup, tapi harus memperhatikan nilai dan norma agama, budaya, dan etika termasuk kekhusan dari rumah sakit.

Hanya saja, Pemkab melalui Dinas Kesehatan membantah jika nama rumah sakit menggunakan nama Bupati. Nama Abuya merupakan nama gelar atau sebutan bagi orang yang dituakan, bukan nama orang atau Bupati.

”Dinas Kesehatan boleh saja menyatakan bukan nama bupati, melainkan gelar tapi realitasnya banyak orang memanggil bupati dengan sebutan Abuya. Saya misalnya di KTP Syafiuddin, tapi memanggil saya pak Piu, apakah boleh rumah sakit dinamai rumah sakit Piu,” ungkapnya.

Dari itu pihaknya mendesak agar nama rumah sakit Abuya di Kepulauan diganti karena sangat jelas menggunakan nama orang hidup yang dilarang Permenkes. Cukup banyak nama yang diusulkan beberapa tokoh Kepulauan dan memiliki nilai sejarah dan filosofis Kepulauan.

(hoki/yd)

Komentar

Berita Terkini