https://limadetik.com/
Opini  

PART 2: LAGU CIPTAAN BUPATI TETAP BERBAHAYA (?)

PART 2: LAGU CIPTAAN BUPATI TETAP BERBAHAYA (?)
FOTO: Nur Khalis (Jurnalis KompasTV)

OLEH : Nur Khalis

LIMADETIK.COM – Alhamdulillah, ragam respon atas lagu ciptaan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, terus mengemuka. Banyak kawan-kawan yang mengirimkan catatan berisi pandangan demi pandangan.

https://limadetik.com/

Satu persatu saya baca pelahan, untuk menjaga kehangatan pikiran. Sebab, kebetulan saja, saya ikut nimbrung membuat catatan yang menawarkan pandangan berbeda.

Dari sekian wacana yang muncul ke permukaan, saya mengambil banyak pelajaran. Misalnya, bagi oposan, bupati akan selalu jadi sorotan. Bagi pembisik, bupati akan diupayakan jadi percontohan dan bagi pemuja, bupati akan jadi tuan, yang jauh dari kesalahan(?).

Ragam cara pandang di atas, sebenarnya adalah ujian bagi kita, misalnya, seberapa jernih dan objektif kita menilai persoalan? Ini yang menjadi nilai masing-masing kita. Bukan hanya soal sebutan oposan atau pujaan semata.

Bagi saya, lagu cinta yang dinarasikan sebagai promosi wisata, sulit dicerna akal awam setiap orang. Sisipan visual yang tak membangun kontruksi cerita, apalagi nuansa wisata, jangan kemudian ditafsiri penuh hiperbola. Ceritakan saja apa adanya.

BACA JUGA: PART 1 : KATANYA, LAGU CIPTAAN BUPATI SUMENEP BERBAHAYA

Membuat profil bupati tampak menawan dan membanggakan, tentu saja, itu adalah tugas pembisiknya. Jika karya dan narasi yang ada tak beraturan, pembisiknya pada kemana? Bupati sendiri harus membuat kilah-an.

Lewat lagu yang diciptakan, bupati seperti punya beban untuk menjelaskan bagaimana dan untuk apa lagu itu diluncurkan. Karena untuk promo wisata, namun visualnya begitu adanya, hampir seluruh orang awam macam saya berkata: hiyaaa…

Lewat lagu itu, bupati seakan menanggung ragam kecerobohan para pembisik yang mungkin hanya hidup dari anggukan kawan dan hitung-hitungan pendapatan.

Mereka mungkin lupa, bahwa, sebaik-baiknya bupati, akan tetap berpotensi dicela. Apalagi setelah membuat lagu cinta, yang katanya untuk promosi wisata.

Lepas dari itu, saya rispek pada bupati yang masih ada waktu untuk membuat lagu. Mungkin itu adalah salah satu cara menenangkan dan menghibur diri, di tengah desakan agar segera menuntaskan kemiskinan di kota Sumenep ini.

Terakhir, hemat saya, bupati harus punya oposan yang berusaha objektif. Bukan sekedar untuk “menyeimbangkan” arah pembangunan. Lebih dari itu, agar orang awam macam saya tahu, bagaimana tuannya dibela hingga berlebihan (?)

Sumenep,
31 Juli 2022

Tinggalkan Balasan