https://limadetik.com/

PART 1 : KATANYA, LAGU CIPTAAN BUPATI SUMENEP BERBAHAYA

Penulis: Nur KhalisEditor: Wahyu
  • Bagikan
PART 1 : KATANYA, LAGU CIPTAAN BUPATI SUMENEP BERBAHAYA
FOTO: Nur Khalis (Jurnalis KompasTV)

Oleh : Nur Kholis

LIMADETIK.COM – Mendengar Bupati Sumenep, Achmad Fauzi menciptakan lagu, saya langsung teringat pentolan Partai Demokrat, Pak SBY, saat menjabat presiden, dulu.

https://limadetik.com/

40 lagu dalam 5 album yang diciptakannya, mendapat respon beragam. Bahkan, meskipun sudah pensiun, setiap lagu yang diciptakan SBY masih terus mendapat komentar.

Diantaranya dari Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. Oktober 2021, detik.com menulis, Hasto dan Demokrat sedang saling sindir soal lagu yang diciptakan SBY.

Hasto menyebut, komunikasi politik presiden tidak bisa dilakukan dengan mengarang lagu atau menulis buku tebal. Namun harus dilakukan proporsional, efektif dan menyentuh hal-hal yang bersifat strategis.

Namun, bagi saya, lagu yang diciptakan oleh bupati Achmad Fauzi tidak perlu ditanggapi serius seperti yang disampaikan Hasto pada pak SBY. Ini hanya kreatifitas seorang bupati. Bukan model komunikasi politik mantan presiden yang pernah memimpin negeri ini.

Lagi pula, seluruh partai oposisi di Sumenep, yang kalah di Pilkada lalu, diduga tidak punya waktu untuk menjelma jadi kritikus lagu. Meskipun, diantara mereka saya kenal baik. Ada yang suka rock, jazz, dll.

Mungkin mereka sedang sibuk di jalur lobi, agar bisa terlibat dalam “pembangunan” kabupaten ini. Mungkin mereka juga sedang mempersiapkan kekuatan perang untuk 2024 mendatang. Entahlah.

Bagi saya, lagu ini bisa diperbincangkan dengan biasa-biasa saja. Misalnya, andai hari ini bupati masih duduk di bangku SMA, lirik lagu berjudul “Mencintai tanpa Dicintai” ini, sangat menye-menye sekali. Tidak puitis sedikit pun.

Saya juga menduga bupati Sumenep sangat menyukai lagu-lagu ST12. Nuansa pop melayu dalam lagunya terasa cukup kuat. Mungkin saja, lagu ini ingin menyamai lagu ST12 yang berjudul “Jangan pernah Berubah.” Sebab hampir mirip, misalnya, nada awalnya.

Namun karena bupati adalah seorang politisi, apa boleh buat, lahirnya lagu ini tetap menuai respon serius dan cukup kuat.

Misalnya, selama ini PDI Perjuangan selalu menyatakan diri sebagai partai wong cilik. Partai yang memberi kesan tidak ada waktu untuk healing. Apalagi, maaf, membuat lagu yang tidak penting.

Tetapi, di tengah angka kemiskinan yang cukup tinggi, khususnya di Sumenep, bupati malah punya waktu untuk mengeluarkan lagu yang menye-menye ini.

Karenanya, bagi pihak oposisi, lahirnya lagu ini bisa dibiaskan dalam banyak hal. Pertama, ada kesan pemerintah sedang mengidap hedonisme; menari di atas kemiskinan. Apalagi, lagunya tak membawa empati apapun untuk 200 ribu lebih warga maskin di Sumenep.

Kata seorang kawan, jika ingin healing, mustinya bupati tak perlu membuat lagu. Cukup maksimalkan perdin dan jalanlah sampai jauh, sampai tak ada yang tahu.

Kedua, kalau pun lagu ini adalah isyarat politik, tentu juga membawa rugi. Sebab lirik lagunya tidak mengesankan konsistensi. Akan tapi menyiratkan perasaan putus asa yang menjadi-jadi. Itu pun dengan menye-menye. Tidak puitis dan elegan sama sekali.

Lagu ini juga telah merusak citra tegar bupati sendiri. Di tahun 2019, dia mengaku bisa lebih baik dan tak akan galau lagi lewat buku “Saatnya Move On”. Tapi nyatanya, karya bupati selanjutanya adalah lagu yang menye-menye belaka. Rusak kan?.

Terakhir, semoga seluruh orang miskin di kota ini tetap sehat dan bisa terhibur dengan lagu yang diciptakan oleh bupati. Amin. Upaya bupati harus tetap diapresiasi. Meskipun tidak begitu berarti (?) Salam pop melayu.

Gapura,
29 Juli 2022

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan