SURABAYA, Limadetik.com – Perhelatan Pilkada 2018 secara serentak dibeberapa kota,kabupaten dan provinsi terlihat akan semakin menarik,dimana masing-masing pasangan calon (paslon) sudah pasti menyiapkan diri untuk bertarung dipentas politik lima tahunan nanti.

Tak terkecuali para calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur yang sudah pasti di ikuti dua petarung antara pasangn Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno kemudian pasangan Khofifah Indar Parawansan dengn Emil Dardak.

Namun dimata pengamat, peluang pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno untuk menang lebih besar dibanding pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak sebagaimana dilansir dari merdeka.com.

Pengamat Politik Universitas Wijaya Putra (UWP), Agus Wahono mengatakan bahwa sangat besar untuk menang pasangan calon yang didukung koalisi partai PKB, PDIP, Gerindra, dan PKS ini dipengaruhi faktor ketokohan kedua pasangan tersebut.

“Melihat perkembangan yang ada, peluang Gus Ipul (Saifullah Yusuf) menang lebih besar dari pada Khofifah,” kata Pengamat Politik Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya, Agus Wahono,Jumat(19/1/2018).

Menurutnya, Gus Ipul lebih memiliki peluang yang sangat besar. Hal ini dipengaruhi dengan sistem politik ketokohan yang berkembang di Jatim. Gus Ipul mencerminkan tokoh NU yang pernah menjabat sebagai pejabat struktural, belum lagi Gus Ipul memiliki garis keturunan dari KH Bisri, salah satu pendiri NU.

Sementara wakilnya, Puti Guntur Soekarno memiliki pegangan ketokohan yang cukup kuat. Dia tercatat sebagai cucu Presiden RI pertama, Soekarno. Di mana Soekarno merupakan tokohmarhaen di Indonesia, yang memiliki banyak pengikut.

“Di Jatim inikan massa darimarhaen sangat besar. Kemunculan Puti ini akan menyatukan marhaen,” kata Dosen FISIF UWP Surabaya ini.

Belum lagi, lanjut dia mesin politik yang akan bergerak dari partai-partai yang mendukung Gus Ipul-Puti. Dari partai-partai ini masing-masing telah menyiapkan strategi untuk kemenangan pasangan calon ini.

“Mesin politik ini juga menentukan. PDIP dan PKB tidak akan tinggal diam, mereka akan berjuang sekuat tenaga supaya bisa menang, notabenenya mereka adalah kader internal partai,” ujarnya.

Selain itu, kekuatan organisasi masyarakat (Ormas) juga memiliki kekuatan yang kuat untuk memenangkan calon gubernur. PDIP dan PKB yang memiliki ikatan emosional dengan ormas-ormas yang ada di Jatim.

Sementara di kubu lawannya, pasangan Khofifah-Emil, tokoh yang bisa di jual tidak ada, kecuali Khofifah sendiri sebagai Ketua Muslimat NU. Sementara wakilnya, Emil Dardak dinilai kurang menggigit karena Emil yang menjadi Bupati Trenggalek masih bersifat sebagai tokoh lokal.

Untuk itu, keinginan untuk menggaet massa anak muda juga sulit karena ketokohannya masih lokal.

“Sulit untuk menambah massa, Khofifah cukup memiliki massa dari Muslimat, Emil tidak jelas area mana yang akan dibidik sebagai ladang mengeruk massa,” jelasnya.

Agus mengatakan, dari kalkulasi yang dilakukan, kekuatan Khofifah akan terfokus pada massa dari Muslimat NU. Massa tersebut yang menjadi senjata, untuk ditawarkan menggaet tambahan massa. Namun, upaya tersebut akan terhambat karena Indonesia apalagi Jawa Timur masih menganut sistem politik ketokohan.(mdk/ld)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here