Oleh : Eka Hadi Prasetio
(Universitas Muhammadiyah Malang)
Makin menjamurnya bisnis waralaba di Indonesia saat ini, menunjukkan bahwa banyak masyarakat Indonesia tidak hanya ingin menjadi karyawan kantoran biasa dengan upah standar, namun juga mulai gencar melirik bisnis yang dibangun sendiri mulai dari modal kecil hingga modal besar.Mulai bisnis rumahan hingga bisnis dengan skala besar, ataupun melirik bisnis online yang sedang marak maraknya saat ini, serta tidak ketinggalan untuk beramai ramai
mendirikan usaha yang dapat dibuat wara labanya atau sebaliknya membeli dari usaha yang sudah ternama/menjadi terwaralaba.
Salah satu usaha yang sudah ternama adalah Alfamart. Alfamart adalah jaringan minimarket bahan pokok sehari-hari terkemuka di Indonesia, dengan kualitas tinggi namun tetap terjangkau.Kemajuan Alfamart yang pesat saat ini ditentukan oleh strategi pihak manajemen Alfamart yang tepat dan unik.
Didirikan pada tanggal 22 Pebruari 1989 oleh Djoko Susanto, PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamart/Perseroan) selama 20 tahun tetap setia melayani berjuta keluarga Indonesia dengan menyediakan kebutuhan sehari-hari yang berkualitas namun dengan harga terjangkau.
Dari sudut pandang industri bidang usaha minimarket mampu bertahan di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi, seperti resesi. Konsumen berupaya menjaga konsumsi kebutuhan pokok, walaupun di tingkat yang lebih rendah.Dengan demikian, tingkat penjualan di gerai-gerai ritel konsumen seperti Alfamart tidak terpengaruh secara drastis.
Nah salah satu strategi yang digunakan oleh pihak Alfamart itu sendiri yaitu Psychological pricing, yang mana dalam hal ini Pengaruh alam bawah sadar memang seringkali menjadi faktor yang ikut menentukan keputusan tindakan seseorang, termasuk dalam keputusan belanja. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar yang berkaitan dengan belanja adalah harga psikologis, atau psychological pricing.
Memang, psikologi adalah ilmu pikiran yang cakupan ilmunya sangat luas. Bahkan ilmu psikologi bisa diadopsi dalam ilmu perdagangan terkait dengan penentuan harga. Harga psikoligis atau psychological pricing adalah strategi penetapan harga berdasarkan teori bahwa harga tertentu dapat memiliki dampak psikologis pada seseorang.
Biasanya, harga psikologis diberlalukan oleh para pedagang dengan cara menetapkan harga ganjil pada produknya. Penetapan harga ganjil ini akan membuat efek pada pembeli bahwa harga yang ditawarkan lebih murah. Hal ini dikarenakan alam bawah sadar manusia memproses harga ganjil lebih murah daripada harga genap. Selain itu, seseorang juga akan cenderung membulatkan harga ganjil tersebut ke digit yang lebih rendah dengan mengabaikan beberapa digit terakhir.
Misalnya, suatu produk diberi label harga sebesar Rp 19.999. Alam bawah sadar seseorang secara cepat akan memproses bahwa harga produk tersebut adalah sebesar Rp 19 ribu rupiah. Hal ini disebabkan orang-orang cenderung mengabaikan angka-angka pada digit terakhir. Padahal angka Rp 19.999 tersebut lebih dekat jika dibulatkan pada angka Rp 20 ribu.
Dalam penerapannya, harga psikologis memerhatikan beberapa teori di bawah ini :
1. Kerugian Terasa Lebih Berarti daripada Keuntungan
Konsumen akan cenderung berfikir lebih mengenai kerugian yang akan ia terima daripada keuntungan yang akan ia dapatkan. Rasa rugi akan memberikan efek sakit yang membuat seseorang akan cenderung lebih mudah teringat dan cenderung menghindari mendapat kerugian. Hal ini membuat seseorang akan mencari keuntungan walau sangat sedikit dalam keputusannya membeli sesuatu. Misalnya, pada label harga Rp 19.999, seseorang akan berfikir
bahwa harga acuan dari nominal tersebut adalah sebesar Rp20.000, sehingga ia akan memiliki keuntungan sebesar Rp 1. Ini sangat berarti bagi seorang pembeli, walaupun keuntungan yang ia rasa telah ia dapatkan adalah sebesar 1 rupiah saja. Pemanfaatan unsur mendapatkan keuntungan dan kerugian ini sangat efektif dalam strategi penetapan harga.
2. Pembeli Cenderung Mengabaikan Beberapa Digit Terakhir pada Label Harga
Hal ini telah diterangkan pada pembahasan sebelumnya, bahwa pada contoh harga Rp 19.999, pembeli cenderung mengabaikan tiga digit terakhir pada label harga sehingga pembeli akan membulatkan angka tersebut menjadi Rp 19 ribu. Harga yang lebih murah ini akan membuat pembeli akan lebih tertarik untuk membeli produk tersebut. Berkaitan dengan teori ini, Keith Coulter, Associate Professor Marketing di Graduate School of Management, Clark University, menyarankan satu teknik label harga yang dinilai efektif. Profesor tersebut menyarankan untuk
mencetak digit pecahan terkecil dengan ukuran yang lebih kecil. Misalnya, harga Rp 19.999 lebih baik ditulis dengan Rp 19. 999 .
3. Menetapkan Diskon Lain di Samping Menetapkan Harga Psikologis
Salah satu cara untuk memaksimalkan fungsi dari harga psikologis adalah dengan menggabungkan harga psikologis dengan diskon yang lain. Penggabungan dua elemen ini akan membuat pembeli berfikir bahwa ia akan mendapatkan banyak keuntungan dengan membeli produk yang dipasarkan. Misalnya, penjual bisa menggabungkan harga psikoligi dengan promo beli satu gratis satu. Atau pembeli juga bisa memberlakukan diskon 50%, di samping dengan menerapkan harga psikologis.
Dalam penerapannya, penetapan harga psikologis memiliki sejumlah keuntungan, diantaranya :
1. Membuat pembeli lebih tertarik untuk membeli. Hal ini dikarenakan harga psikologis menimbulkan efek bahwa harga yang ditawarkan oleh penjual terasa lebih murah.
2. Label harga bisa dibandingkan, sehingga pembeli dapat memiliki banyak pilihan dalam keputusan belanjanya.
3. Bagi penjual, akan lebih mudah menerapkan diskon saat menetapkan harga psikologis. Penjual bisa saja menyebut harga Rp 19.999 sebagai harga diskon sebesar 50%. Padahal di sisi lain, hara tersebt bukanlah harga diskon yang sebenarnya. Karena dari efek harga psikologis yang membuat harga tersebut terlihat lebih murah, maka terasa akan baik- baik saja jika penjual menyebut harga tersebut sebagai harga yang telah didiskon.
Pada dasarnya setiap usaha yang ada ataupun yang kita jalankan punya strategi masing masing dalam menjalankan usahanya tersebut, akan tetapi menurut saya suatu usaha tidak bisa hanya terp aku dengan strategi yang itu itu saja, sebagai seorang yang peka akan itu hendaknya kita mempertimbangkan beberapa faktor yang ada, dengan begitu kita dapat mengetahui hal apa saja yang dapat kita lakukan dalam mempertahankan suatu usaha yang sedang di jalankan.
[ Catatan : Seluruh isi artikel bukan tanggun jawab redaksi Limadeti.com ]