Pers Lawan Banjir Hoaks, PWRI Sumenep Dorong Budaya Baca di Sekolah
LIMADETIK.COM, SUMENEP – Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap tak terverifikasi, Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Wartawan Republik Indonesia (DPC PWRI) Sumenep turun langsung ke ruang pendidikan akar rumput.
Melalui kegiatan Mimbar Jurnalistik bertajuk “Membangun Budaya Baca dan Nalar Kritis di Era Informasi”, PWRI menegaskan peran pers sebagai benteng literasi dan akal sehat publik.
Kegiatan yang digelar di Lembaga Pendidikan Islam Arroqy, Desa Gadu Barat, Kecamatan Ganding, Selasa (2/2026) siang itu dirangkai dengan penyerahan hibah buku secara simbolis, sebagai upaya konkret mendorong budaya baca dan daya kritis pelajar, khususnya di wilayah pedesaan.
Hibah buku diserahkan oleh Tenaga Ahli (TA) Bupati Sumenep Bidang Kebudayaan dan Iptek, Ibnu Hajar, didampingi Ketua DPC PWRI Sumenep Rusydiyono, serta Kepala Sekolah LPI Arroqy, Kiai Subaidi Mukhtar.
Ketua DPC PWRI Sumenep, Rusydiyono, menegaskan bahwa mimbar jurnalistik bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang edukasi strategis untuk membekali generasi muda menghadapi banjir informasi digital.
“Hari ini, tantangan terbesar bukan kekurangan informasi, tapi limpahan informasi yang belum tentu benar. Karena itu, budaya baca dan nalar kritis harus ditanamkan sejak dini agar pelajar tidak mudah terjebak hoaks dan disinformasi,” ujarnya.
Menurutnya, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memilah, menguji, dan memahami informasi secara rasional.
Sementara itu, Ibnu Hajar menekankan bahwa penguatan literasi merupakan fondasi utama peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah.
“Budaya baca harus menjadi gerakan bersama. Literasi yang kuat akan melahirkan masyarakat yang cerdas, kritis, dan siap menghadapi tantangan zaman,” katanya.
Ia juga berharap sinergi antara insan pers, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan terus diperkuat untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di Kabupaten Sumenep.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Kehadiran insan pers di lingkungan pendidikan dinilai menjadi pemantik lahirnya gerakan literasi yang lebih luas, terutama di sekolah-sekolah berbasis keagamaan dan wilayah pedesaan.












