DENPASAR, Limadetik.com – Polisi gagalkan penyelundupan bibit lobster sebanyak 8.250 ekor yang dibawa dari Lombok akan dikirim ke Surabaya, Jawa Timur pada Minggu 28 Januari 2018.

Kasubdit Penegakan Hukum (Gakkum) Dit Polair Polda Bali, AKBP Edhi Cahyono mengatakan, penggagalan penyeludupan bibit lobster tersebut berawal dari adanya informasi dari masyarakat bahwa akan ada pengangkutan bibit lobster dari Lombok menuju Surabaya dengan menggunakan kendaraan truck dengan plat nomor N 8992 UH.

Kemudian anggota Dit Pol Air Polda Bali melakukan pencegatan dan penangkapan di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana.

Kemudian pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan truck dengan plat nomor N 8992 UH yang dikemudikan oleh Eko Junaedi.

“Dari hasil pemeriksaan itu kami temukan 2 dus bibit Lobster masing- masing berisi 28 ( dua puluh delapan ) dari 27 ( dua puluh tujuh ) bungkus plastik berisi bibit lobster yang dibawa dari Lombok, NTB menuju Surabaya,” terangnya, di Denpasar, Senin 29 Januari 2018.

Sebelumnya dilakukan pengembangan kepada penerima barang bibit lobter di Pelabuhan Ketapang wilayah Banyuwangi dengan cara melakukan undercover.

Pada saat bibit lobster tersebut dipindahkan dari truck berplat nomer N 8992 UH keatas kendaraan Avanza DK 1630 GV.

Dimana kedua kendaraan sudah diparkir berdekatan hendak melakukan pemindahan ke 2 dus tersebut langsung dilakukan penangkapan oleh anggota Dit Pol Air Polda Bali.

“Kedua kendaraan itu kami amankan, beserta supir dan isinya,” ujarnya.

Dia menerangkan, bahwa lobster yang akan diselundupkan tersebut jenis lobster pasir sebanyak 4.200 ekor yang nilai jualnya mencapai Rp 252 juta, dan bibit lobster mutiara 4.050 yang nilai jualnya sekira Rp 526.500 juta.

“ Secara keseluruhan kalau bibit lobster itu dijual sekitar Rp778. 500. 000,” terangnya.

Dia menerangkan, bahwa modus operandinya dalam kasus ini adalah dengan mengangkut atau memperjual belikan bibit lobster dengan jaringan terputus dan tujuanya antar pulau.

Saat ini ada empat orang pelaku yang diiamankan diantaranya ada Eko Junaedi, Aman Santoso,

Wahyu Bahtiyar Arifi, dan Setiawan.

“ Mereka telah melanggar pasal 88 jo pasal 16 ayat (1) juncto pasal 7 ayat (2) huruf J jo pasal 100 undang-undang RI No 45 tahun 2009 tentang perubahan UURI No 31 Tahun 2004 tentang perikanan,” terangnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here