Sumenep, 25 September 2019 Limadetik.com — Oleh: Ubaidillah An Nasiqie
OPINI — Dalam beberapa literatur kitab menyebutkan, “ilmu” sebagai permata tiada tara, dan itu mampu mengangkis manusia dari redaman kejahilan pada indahnya ilmu pengetahuan. Ilmu juga dapat membedakan kreativitas berpikir manusia (dinamis) dengan hewan (statis), dari dahulu hewan belum pernah mengalami rekonstruksi, hanya berkutat dalam hal yang menoton saja, yang itu ditandai dengan kekurangannya tidak bisa berpikir.
Berbeda dengan manusia yang mempunyai otak dan bisa meggunakan otaknya dengan berpikir, sehingga beberapa cara berpikirnya selalu berkembang dengan produktif dan efektif. Akan tetapi dalam berpikirnya manusia perlu ada garis batasan untuk meredamnya, agar tidak terjebak di demensi Ilahiah karena terkadang sering manusia memberontak terhadap otoritas Tuhan yang sudah final.
Manusia hidup di dunia pada hakikatnya dituntut untuk membaca, mengkaji dan membuat keputusan terhadap apa yang dibaca dan ditemukan. tentunya butuh pengalaman-pengalaman terhadap yang dilihat sebagai media agar kita sampai, yakni “belajar”, merenung dan mencari kebenaran apa yang sudah dilihatnya.
Makanya tempat yang tepat mencari kebenaran itu ialah di lembaga pendidikan. karena di sana ada komunikator aktif (guru) dengan muridnya (komunikan) yang paling dapat berinteraksi langsung, sehingga target pencarian ilmu di raih sempurna.
Namun ada beberapa persoalan dan itu sangat bersiko apabila tujuan mencaari ilmu hanya ingin namanya populer dan merasa dirinya paling sempurana. Sehingga yang menjadi tujuan akhir adalah seberapa bernilaikah kita belajar sesuatu didepan banyak orang.
Nilai bagi mereka merupakan target primordial dalam membumikan reputasinya agar terlihat elite dan mendapat apresiasi dihadapan teman, guru, orangtua, lebih-lebih bagi mereka yang memiliki pacar maka kesombonganlah yang pertama akan ditampakkan sehingga karakter seorang pelajar tercedarai maka tidak salah jika kemudian dalam mencari ilmu tidak diniatkan semata-mata karena Allah SWT.
Namun di sisi lain, ini juga akan mendapatkan respon positif bagi orangtua apabila anaknya selalu berprestai di lembaga pendidikan. Akan tetapi sebaliknya, jika anaknya sering berbuat masalah tawuran antar teman sering bolos sekolah bahkan berbuat tidak baik terhadap gurunya. maka orang tua dan masyarakat memandang tidak baik, sehingga beranggapan bahwa anak tersebut hanya mencari prioritas dan buruknya moral.
Dengan demikian orang tua dan guru merasa khawatir, sedih terhadap kondisi yang melanda buah hatinya dan merasa gagal membina dan mengarahkan apabila tujuan mencari ilmu hanya mencari prioritas bukan ingin menjadi orang baik, baik cara berpikirnya dan baik budi pekertinya.
Menurut Dr. Maimun, “di Negara Australia, penilaian kegagalan anak bukanlah karena faktor ia memiliki nilai rendah dalam pendidikan sekolahnya, tapi kegagalan bagi dia yang tidak mampu membuang sampah pada tempatnya.”
Konservatisme yang berkembang di bumi kita, nampaknya bukan masalah yang harus di panjang lebarkan. Karena problematika yang mengkhawatirkan saat ini adalah campur tangan modernitas yang masuk ke dalam budaya kita, utamanya membudayakan teknologi.
Meskipun ribuan pakar telah menuangkan pemikirannya yang solutif ke jutaan karyanya, kelihatannya belum mampu merespon gerak laju perkembangan zaman yang begitu mengerikan, bahkan modernitas ini hanya membawa kita pada “dekadensi moralitas peradaban manusia.”
Di samping itu dapat kita ketahui adalah ketidaksadaran kita, bahwa karakter pendidikan di sekolah kita terhegemoni modernitas. Awalnya lembaga pendidikan menjadi pedoman mutlak tempat belajar, tapi kini lembaga pendidikan terkadang tercederai dari para elit pemerintah yang mengintervensi berbagai aturan yang ada di lembaga pendidikan, apalagi tidak jarang sekarang orang tua menyekolahkan anaknya bukan murni ingin mencari ilmu akan tetapi yang terpenting lulus dapat ijazah, hal inilah yang mengurangi nilai luhur dalam prioritas utama mencari ilmu.
Seharusnya, kendati nilai pendidikan merupakan hal yang sudah tidak ada penawaran lagi, setidaknya kita meraihnya tanpa ketidak “akrobatik manipulator” akan tetapi menjalaninya secara sportivitas, mengerjakannya tanpa ada sumbangsih orang lain yang itu hanya melemahkan proses belajar kita. Apalagi jangan sampai kita menjadi generasi menunduk menurut Andre (Ben Kasyafani) dalam “Republik Twitter”, “lihatlah generasi menunduk. Kerjanya Cuma nunduk aja melototin gadget. Nggak di jalan, di masala.” Bukan seperti dulu menunduk karena memang tawaduk. Tapi sekarang menunduk karena mengaji gadget. Ini yang menjadi virus bagi pelajar.
Apalagi indonesia pada tahun 2008 di kenal sebagai pengakses Facebook terbanyak mengalahkan pengguna di China dan India. Sedangkan di dunia, Indonesia tergolong negara ke-2 setelah Serikat. Jadi terbukti ini yang bermasalah di tanah air kita, oleh karena itu jadi pelajar harus memantapkan niatnya dan jangan sampai tergoda kepada kenyaman yang itu tidak ada manfaatnya. Wallahu a’lam.
Penulis adalah, Santri PPA. Lubagsa Utara, kru majalah infitah MA Tahfidh Annuqayah sekaligus Ketua Komunitas Porsi (pordapor Berkreasi/YT).