Opini

UPPL Tak Kunjung Berbenah, Copot Ketua UPPL UPI Sumenep Sekarang Juga

×

UPPL Tak Kunjung Berbenah, Copot Ketua UPPL UPI Sumenep Sekarang Juga

Sebarkan artikel ini
UPPL Tak Kunjung Berbenah, Copot Ketua UPPL UPI Sumenep Sekarang Juga
Ilustrasi

UPPL Tak Kunjung Berbenah, Copot Ketua UPPL UPI Sumenep Sekarang Juga

Oleh : Subaydi
Mahasiswa UPI Sumenep

______________________________

OPINI – Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan bagian penting dalam proses pendidikan calon guru. Kegiatan ini memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan teori pedagogik yang dipelajari di perkuliahan ke dalam praktik pembelajaran nyata di sekolah. Penyusunan laporan akhir menjadi bentuk refleksi akademik sekaligus pertanggungjawaban ilmiah atas pengalaman tersebut.

Pelaksanaan PPL di Universitas PGRI Sumenep berada di bawah pengelolaan Unit Praktik Pengalaman Lapangan. Unit tersebut memiliki kewenangan dalam pengaturan teknis pelaksanaan, koordinasi dengan sekolah mitra, serta pengelolaan administrasi laporan akhir mahasiswa.

Kebijakan administrasi yang diterapkan oleh UPPL Universitas PGRI Sumenep memunculkan kritik dari kalangan mahasiswa. Mahasiswa diwajibkan menyerahkan laporan akhir PPL dalam dua bentuk sekaligus, yaitu hardcopy dan softcopy yang disimpan dalam flashdisk. Kebijakan tersebut dipandang kurang relevan dengan perkembangan teknologi digital yang telah berkembang pesat pada tahun 2026.

Diskusi mengenai penggunaan flashdisk sebagai media pengumpulan laporan PPL telah berkembang di ruang diskusi mahasiswa, termasuk di media sosial. Mahasiswa mempertanyakan relevansi kebijakan tersebut di tengah kemudahan sistem penyimpanan berbasis cloud yang memungkinkan dokumen dikirim melalui satu tautan digital tanpa memerlukan perangkat penyimpanan fisik.

Perkembangan terbaru menunjukkan respons administratif dari UPPL Universitas PGRI Sumenep berupa penerbitan dokumen “Bukti Penyetoran Laporan Akhir Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)”. Dokumen tersebut menegaskan kembali kewajiban penyerahan laporan dalam bentuk hardcopy dan softcopy, lengkap dengan formulir identitas kelompok serta tanda tangan petugas sebagai bukti penerimaan laporan.

Langkah administratif tersebut dapat dipahami sebagai upaya memperjelas prosedur penyerahan laporan. Perspektif kritis justru melihat adanya kecenderungan penambahan lapisan birokrasi tanpa disertai pembaruan sistem yang lebih modern dan efisien.

Skala pelaksanaan PPL tahun ini memperlihatkan kompleksitas persoalan tersebut. Surat Edaran Nomor: 005/SUM/B.2/UPPL/UPI-PGRI/I/2026 tentang Pemetaan dan Penempatan Kelompok Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) mencatat keberadaan 66 kelompok PPL. Mekanisme pengumpulan laporan menggunakan flashdisk berarti akan menghasilkan 66 flashdisk yang dikumpulkan bersamaan dengan laporan cetak.

Situasi tersebut memperlihatkan ironi administratif di lingkungan pendidikan tinggi. Wacana digitalisasi kampus terus didorong melalui berbagai kebijakan pendidikan modern. Praktik administrasi yang dijalankan oleh UPPL Universitas PGRI Sumenep masih mempertahankan metode yang terasa konvensional, jadul, dan kurang selaras dengan semangat transformasi digital.

Respons terhadap kritik mahasiswa belum mengarah pada inovasi sistem digital seperti repository laporan daring, pengumpulan melalui Google Drive, atau platform akademik berbasis cloud. Penambahan dokumen administratif baru justru memperpanjang prosedur manual dalam proses pengumpulan laporan.

Kondisi tersebut menunjukkan kesenjangan antara perkembangan teknologi akademik dengan praktik birokrasi yang berjalan. Transformasi digital dalam pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran, tetapi juga menyangkut pembaruan tata kelola administrasi akademik agar lebih efisien, transparan, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Fokus utama laporan PPL seharusnya terletak pada substansi akademiknya, yaitu kualitas refleksi mahasiswa terhadap praktik pembelajaran di sekolah, analisis terhadap dinamika pendidikan di lapangan, serta kontribusi pemikiran terhadap pengembangan proses belajar mengajar. Mekanisme administratif yang tidak adaptif berpotensi mengalihkan perhatian mahasiswa dari esensi akademik tersebut.

Momentum kritik mahasiswa seharusnya menjadi ruang refleksi bagi UPPL Universitas PGRI Sumenep dalam mengevaluasi sistem administrasi PPL secara lebih progresif. Pengumpulan laporan melalui tautan digital atau repository daring memberikan alternatif yang lebih efisien, praktis, dan selaras dengan perkembangan teknologi pendidikan.

Realitas era digital menunjukkan bahwa satu tautan penyimpanan daring mampu menggantikan puluhan perangkat penyimpanan fisik. Mekanisme pengumpulan puluhan flashdisk disertai formulir bukti penyetoran memperlihatkan praktik administrasi yang masih bertumpu pada pola lama di tengah kemajuan sistem cloud computing.