Lima Tahun Merger Pelindo, Produktivitas Melonjak tapi Standardisasi Layanan Masih Diuji

- Penulis

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lima Tahun Merger Pelindo, Produktivitas Melonjak tapi Standardisasi Layanan Masih Diuji

LIMADETIK.COM, SURABAYA – Lima tahun merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo membawa perubahan besar dalam pengelolaan terminal peti kemas. Produktivitas disebut melonjak lebih dari 70 persen, waktu singgah kapal dan barang semakin efisien, serta pengelolaan terminal mulai bergerak dalam satu standar.

Namun, capaian tersebut belum otomatis membuat kualitas layanan antarterminal seragam. Persoalan kesiapan peralatan, karakteristik geografis pelabuhan, hingga konsistensi operasional masih menjadi pekerjaan yang harus dituntaskan.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan proses transformasi yang dilakukan sejak merger pada 2021 telah memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas terminal.

“Alhamdulillah, produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya produktivitas, dampaknya pelanggan mendapatkan value yang lebih baik. Port stay juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien,” kata Widyaswendra saat dihubungi Rabu (30/9/2026).

Menurut dia, peningkatan tersebut tidak hanya ditopang perubahan struktur organisasi, tetapi juga standardisasi proses kerja, sistematisasi pengelolaan terminal, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Dari 32 terminal yang dikelola Pelindo Terminal Petikemas, hampir seluruhnya disebut telah menunjukkan perbaikan kinerja.

“Karena merger sudah dilakukan sejak 2021, peningkatan kompetensi dan knowledge secara otomatis distandardisasi. Dari total 32 terminal, hampir semua perbaikannya sudah terlihat secara nyata,” ujarnya.

Merger Bukan Sekadar Penyatuan Organisasi

Transformasi pascamerger juga digunakan untuk mengatasi ketimpangan fasilitas antarterminal.

Widyaswendra menjelaskan, penggabungan pengelolaan membuat Pelindo lebih leluasa mengoptimalkan aset. Peralatan dari terminal yang memiliki kecukupan dapat dialihkan ke terminal yang membutuhkan.

“Beberapa terminal sebelumnya punya masalah terkait alat. Dengan merger, ada terminal yang kami modernisasi. Alat yang ada sebelumnya bisa diberikan kepada terminal yang membutuhkan,” jelasnya.

Optimalisasi tersebut berdampak pada kinerja operasional. Waktu kapal berada di pelabuhan maupun waktu barang berada di terminal disebut ikut membaik.

“Dampaknya, port stay dan cargo stay menjadi lebih baik,” katanya.

Peningkatan produktivitas juga mulai membuka ruang bagi ekspansi layanan. Pelindo melihat peluang kerja sama antarkorporasi serta pembukaan rute dan layanan baru seiring meningkatnya kemampuan terminal.

“Dari situ kami melihat banyak peluang, mulai dari pengembangan bisnis dengan kerja sama antarkorporasi sampai pembukaan rute-rute atau service baru. Banyak rute baru yang diperoleh karena produktivitas masing-masing terminal sudah tinggi,” ujar Widyaswendra.

Bagi Pelindo, peningkatan produktivitas tersebut pada akhirnya harus bermuara pada efisiensi ekosistem logistik.

“Pada akhirnya ketika terjadi peningkatan produktivitas dan kinerja operasional diharapkan juga memberikan dampak pada biaya operasional kapal. Fokus kami adalah bagaimana ekosistem maritim bisa berkontribusi terhadap penurunan biaya logistik, sekaligus konektivitas yang semakin baik,” katanya.

Pengguna Jasa Minta Kepastian, Bukan Sekadar Perbaikan

Dari sisi perusahaan pelayaran, perubahan layanan Pelindo selama lima tahun terakhir memang disebut telah terasa. Namun, industri pelayaran masih meminta agar pembenahan tidak berhenti pada peningkatan kinerja di sejumlah terminal.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto, mengatakan perbaikan layanan Pelindo telah dirasakan di berbagai wilayah.

“Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan perbaikannya di semua area Pelindo,” kata Carmelita saat dihubungi Rabu (30/9/2026).

Menurut dia, pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan layanan semakin terintegrasi dan memberikan kepastian kepada perusahaan pelayaran.

“Sampai sekarang Pelindo terus berbenah mengembangkan layanannya untuk lebih terintegrasi di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Bagi perusahaan pelayaran, kualitas terminal berkaitan langsung dengan produktivitas kapal. Setiap keterlambatan bongkar muat maupun gangguan peralatan dapat berpengaruh terhadap jadwal dan biaya operasional.

Karena itu, INSA meminta perbaikan maupun penggantian peralatan bongkar muat dilakukan secara lebih cepat.

“Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik,” katanya.

Carmelita menegaskan, pelaku usaha membutuhkan layanan yang bukan hanya semakin baik, tetapi juga memiliki kepastian.

“Yang kami harapkan tentu layanan semakin baik, semakin terintegrasi, dan bisa memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” ujarnya.

Standardisasi layanan pun dinilai penting karena perusahaan pelayaran mengoperasikan kapal pada banyak pelabuhan dengan karakteristik berbeda.

“Bagi perusahaan pelayaran, kepastian layanan itu penting. Kami membutuhkan pelayanan yang bisa mendukung produktivitas dan kepastian operasional kapal,” kata Carmelita.

Rupiah Melemah, Efisiensi Pelabuhan Makin Krusial

Tuntutan efisiensi menjadi semakin penting ketika industri pelayaran menghadapi tekanan nilai tukar.

Pelemahan rupiah berdampak pada komponen biaya yang menggunakan dolar AS, termasuk sejumlah kebutuhan perawatan dan suku cadang kapal.

“Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar,” ujar Carmelita.

Dampaknya tidak hanya terasa pada biaya operasional harian, tetapi juga dapat memengaruhi rencana investasi perusahaan.

“Jadi bukan hanya biaya operasional sehari-hari, tetapi juga perencanaan investasi perusahaan ikut terdampak,” katanya.

Karena itu, efisiensi menurut INSA tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada perusahaan pelayaran.

“Efisiensi dari sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar struktur biaya industri tetap kompetitif,” tegas Carmelita.

Standardisasi Sistem Belum Menjamin Layanan Seragam

Pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, melihat merger Pelindo telah membawa perubahan penting dalam tata kelola terminal.

Standardisasi proses bisnis, penggunaan Terminal Operating System (TOS), hingga indikator kinerja kini berada dalam kerangka yang lebih terpusat.

“Standardisasi layanan petikemas Indonesia lima tahun terakhir berada pada jalur yang tepat. Arsitektur proses bisnis, sistem operasi atau TOS, dan indikator kinerja telah terstandarisasi secara terpusat,” kata Saut.

Namun, persoalan justru muncul pada tahap implementasi.

Standardisasi sistem belum otomatis menghasilkan kualitas layanan yang sama di seluruh terminal.

“Namun, konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya tercapai. Yang terjadi saat ini adalah segmented consistency, konsisten di dalam tier masing-masing, tetapi belum homogen secara nasional,” ujarnya.

Artinya, sistem boleh sama, tetapi kondisi lapangan belum tentu seragam.

Perbedaan geografis menjadi salah satu faktor. Terminal di wilayah sungai yang dipengaruhi pasang-surut, misalnya, menghadapi batas waktu operasional kapal yang berbeda dengan pelabuhan laut dalam.

“Terminal di wilayah sungai pasang-surut seperti Musi, Barito, atau Kapuas memiliki tidal window yang membatasi konsistensi kedatangan dan keberangkatan kapal. Ini berbeda dengan pelabuhan laut dalam,” jelasnya.

Karena itu, membandingkan kinerja terminal hanya berdasarkan satu angka produktivitas dinilai tidak cukup. Infrastruktur, kondisi geografis, karakteristik kapal, dan dukungan hinterland juga menentukan.

TOS Sama, Hasil Bisa Berbeda

Persoalan lain berada pada kesiapan peralatan.

Menurut Saut, penggunaan TOS yang sama tidak otomatis menghasilkan produktivitas yang sama jika kualitas alat bongkar muat berbeda.

“TOS yang sama jika dijalankan di terminal dengan STS berkecepatan tinggi akan menghasilkan output berbeda dibanding terminal yang hanya mengandalkan HMC tua atau derek kapal,” katanya.

Karena itu, standardisasi ke depan harus bergerak lebih jauh dari sekadar penyamaan sistem digital dan proses bisnis.

Pelindo juga dituntut memastikan ketersediaan serta keandalan peralatan bongkar muat di setiap terminal.

“Tingkat kesiapan alat atau equipment availability dan mean time between failures di terminal luar Jawa masih belum merata,” ujar Saut.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fase berikutnya pascamerger bukan lagi sekadar menyatukan pengelolaan terminal, melainkan memastikan hasil integrasi benar-benar terasa secara konsisten oleh pengguna jasa.

Lima tahun merger telah memberikan fondasi baru bagi Pelindo. Produktivitas meningkat, sistem semakin terintegrasi, dan peluang rute baru terbuka.

Tetapi ukuran keberhasilan berikutnya akan ditentukan oleh pertanyaan yang lebih konkret: seberapa konsisten kapal mendapatkan layanan yang cepat, peralatan yang andal, dan kepastian operasional di setiap terminal yang disinggahinya.

Sebab, bagi industri pelayaran, efisiensi bukan hanya soal angka produktivitas. Efisiensi juga berarti kepastian waktu, minim gangguan, dan biaya logistik yang dapat diprediksi.

Facebook Comments Box

Penulis : Yuni

Editor : Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Raih Tiga Juara FES 2026, Sumenep Bidik Ekonomi Syariah yang Membuka Akses Ekonomi Warga
Berkasus! Pelantikan Rektor UINSA Disambut Gelombang Penolakan
Kapolresta Sumenep Raih Penghargaan Ketik.com, Dinilai Penggerak Transformasi Institusi
SMSI Jatim Jajaki Kerjasama dengan Anggota DPRD Surabaya
BEM SI Kerakyatan Jatim Buka Lembar Baru, Uniba Madura Pimpin Gerakan Mahasiswa 2026–2027
GP Ansor Jatim Apresiasi Bea Cukai Juanda Gagalkan Penyelundupan Narkotika: Negara Tak Boleh Kalah dari Jaringan Internasional
Triv Group dan Gabriel Rey Borong Lima Penghargaan Bergengsi dalam Setahun, Perkuat Posisi sebagai Pemimpin Industri Aset Kripto Indonesia
Pererat Silaturahmi dengan Kejati, SMSI Jatim Support Program Jaksa Jaga Desa
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:18 WIB

Lima Tahun Merger Pelindo, Produktivitas Melonjak tapi Standardisasi Layanan Masih Diuji

Senin, 28 September 2026 - 09:18 WIB

Raih Tiga Juara FES 2026, Sumenep Bidik Ekonomi Syariah yang Membuka Akses Ekonomi Warga

Rabu, 16 September 2026 - 10:12 WIB

Berkasus! Pelantikan Rektor UINSA Disambut Gelombang Penolakan

Kamis, 10 September 2026 - 06:58 WIB

Kapolresta Sumenep Raih Penghargaan Ketik.com, Dinilai Penggerak Transformasi Institusi

Rabu, 9 September 2026 - 11:43 WIB

SMSI Jatim Jajaki Kerjasama dengan Anggota DPRD Surabaya

Berita Terbaru

Noris Soleh

Opini

Sudut Pandang Dinamika Perkembangan Pendidikan

Kamis, 1 Okt 2026 - 22:41 WIB