MALANG, Limadetik.com – Kemensospolkumham dan Kemendikbud Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) Unisma Malang menggelar acara sebagai upaya mengingat kembali peristiwa yang terjadi bertepatan tanggal 30 september.
Diyaul Hakki (Menteri Kemensospolkumham) dan M. Afnani Alifian (Menteri Kemendikbud) sebagai pembicara melakukan diskusi singkat dan pembacaan puisi. Acara yang diberi nama ‘Diskusi Duo Gondrong’ ini dimulai pukul 19.30 (30/09/2020) melalui siaran langsung di instagram @bemunismamalang.
Pada pembukaan acara Presiden mahasiswa Unisma, Ahmad Faruuq mengemukan jika acara ini sebagai upaya menjadikan sejarah sebagai pembelajar. “Jika kata bung Karno Jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah, maka juga harus jas hijau, jangan sekali kali hilangkan jasa ulama” katanya.
Ia menegaskan jika diskusi ini mengulas dari dua sudut pandang. “Dari segi politik, hukum dan HAM akan dinarasikan oleh Deky sebagai menteri yang bertugas untuk menekan pentingnya substansi akan hal tersebut. Sementar dari sudut pandang kebudayaan, dan sosial di kemukakan oleh Dani sebagai mendikbud Bem Unisma. Siaran langsung ini saya beri nama sebagai ‘Bincang Duo Gondrong'” jelas presiden mahasiswa.
Pada awal diskusi Deky menyatakan jika sebutan G30 S PKI akan lebih etis disebut sebagai peristiwa 30 september. “Karena kita sama sama tidak tahu pasti siapa yang ada di balik peristiwa itu, benar PKI atau justru Orba. Jadi diksi PKI lebih baik jika dikemukakan sebagai peristiwa saja” tutur Mensospolkumham.
Dani, sapaan akrabnya memberi pehaman tentang sudut pandang masyarakat umum terkait kronologis kejadian 30 september.
“Sekarang kita tidak baik untuk mengulik ngulik lagi perkara yang sudah lampau. Terlepas dari siapa yang salah, sejarah adalah sebuah pelajaran agar di masa mendatang bisa lebih baik. Kebudayaan mengajarkan agar bahwa sejarah yang baik adalah yang dapat di rekonstruksi, dipelajari, dan menjadi bahan reflektif,” ungkap Mendikbud.
Pada akhir diskusi ‘Duo Gondrong’ ditutup dengan pembacaan tiga puisi guna mengenang para pihak yang telah gugur sebagai pahlawan, dan sebagai refleksi untuk mengingat peristiwa 30 september.
Diyaul Hakki membacakan puisi berjudul Mata Luka Sengkon Karta karya Deny JA dengan menggelora. Sementara, M Afnani Alifian membacakan puisi Sajak Sebatang Lisong karya WS Rendra dan puisi Sebuah Jaket Berlumur Darah karya Taufiq Ismail. (red)
Pewarta: Jhey (Biro Jurnalistik Kemenkominfo BEM Unisma Malang)