Kesadaran Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menanggulangi Kekerasan Seksual di Kalangan Remaja
Oleh : Adenata Deasya Nanda
Fakultas: Teknik
Prodi : Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan
Universitas Negeri Yogyakarta
___________________________________
OPINI – Agustiani (2007), menyatakan masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak menjadi masa dewasa. Pada masa ini mengalami berbagai perubahan, baik fisik maupun psikis. Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, dimana tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai berkembangnya kapasitas reproduktif.
Saat ini, meningkatnya kasus kekerasan seksual yang terjadi dikalangan remaja mengharuskan kita menyoroti peran pendidikan kewarganegaraan sebagai salah satu kunci untuk menanggulangi permasalahan ini.
Pendidikan kewarganegaraan tidak hanya membentuk pemahaman tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, tetapi juga membekali remaja dengan dasar pemahaman yang kokoh tentang nilai-nilai etika, saling menghormati, dan kesetaraan gender dalam membentuk perilaku sosial yang sehat dan aman.
Pendidikan kewarganegaraan dapat memperkuat pemahaman remaja tentang hak-hak dasar mereka. Selain itu, pendidikan kewarganegaraan juga dapat membekali remaja dengan pengetahuan tentang konsekuensi hukum dari kekerasan seksual. Memahami bahwa tindakan kekerasan seksual bukan hanya pelanggaran moral tetapi juga tindak pidana yang dapat dikenai hukuman.
Aspek yang terdapat di pendidikan kewarganegaraan yaitu pengembangan empati dan kesadaran sosial. Remaja yang mendapatkan pendidikan kewarganegaraan akan lebih mampu memahami dan merasakan dampak emosional dari kekerasan seksual pada korban. Ini akan memotivasi mereka untuk bersikap lebih peduli dan mendukung korban kekerasan seksual.
Tidak hanya itu, pendidikan kewarganegaraan juga mencakup pengajaran tentang cara melindungi diri dan cara mendapatkan bantuan di mana mereka bisa mencari bantuan jika mereka atau teman mereka mengalami kekerasan seksual.
Pengetahuan ini memberikan mereka alat praktis untuk menghadapi situasi tersebut dan mencari dukungan yang mereka butuhkan. Dan pendidikan kewarganegaraan harus diintegrasikan dengan kurikulum sekolah dan dilakukan secara berkelanjutan.
Program pendidikan yang sekali jalan tidak akan cukup untuk membangun kesadaran yang mendalam dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pengajaran tentang kekerasan seksual dan hak-hak warga negara harus menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari di sekolah.
Keterlibatan orang tua dan masyarakat juga sangat penting dalam mendukung pendidikan kewarganegaraan ini. Sekolah, orang tua, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan kekerasan seksual. Hal ini akan memperkuat pesan bahwa kekerasan seksual tidak dapat diterima dalam masyarakat kita.
Kita juga harus menyadari bahwa pendidikan kewarganegaraan yang efektif tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga melibatkan simulasi dan latihan yang relevan. Melalui simulasi kasus dan diskusi, remaja dapat lebih memahami situasi nyata dan belajar bagaimana bertindak dalam situasi yang mungkin mereka hadapi.
Mengevaluasi efektivitas program pendidikan kewarganegaraan dalam mencegah kekerasan seksual dengan menilai hasil dan dampaknya secara berkala, dapat memastikan bahwa pendidikan ini benar-benar efektif dan mampu memberikan perubahan yang signifikan dalam masyarakat.
Dengan adanya program ini secara komprehensif dan terencana, pendidikan kewarganegaraan bisa menjadi alat yang kuat dalam melawan kekerasan seksual di kalangan remaja.