Antara Cinta, Luka dan Pilihan Untuk Tetap Pulang
LIMADETIK.COM – Tulisan ini bukan untuk mencari pembenaran apalagi simpati. Ini adalah bentuk kegelisahan yang selama ini terpendam. Tentang cinta yang tidak selalu ramah, perasaan yang terus dipaksa bertahan di antara marah dan sayang.
Mencintainya itu tidak pernah bisa di sangkal. Tapi di saat yang sama ada begitu banyak hal yang melahirkan kemarahan. Kata-kata yang menusuk, sikap yang berulang kali melukai, dan perasaan seolah tidak pernah benar-benar dipahami. Saya sering bertanya pada diri sendiri, kenapa mencintai justru terasa begitu melelahkan?.
Pertengkaran menjadi kebiasaan yang tidak kami rencanakan. Ada banyak hari ketika emosi lebih cepat berbicara daripada akal sehat. Marah bukan karena benci, tetapi karena terlalu peduli.
Ada bagian dari dirinya yang sulit untuk terima sebagaimana saya sadar ada bagian dari diri saya yang juga dia benci. Di situlah kami sama sama terjebak antara ingin pergi dan takut kehilangan.
⁰PPKegelisahan ini seringkali menjelma menjadi diam yang panjang sehingga memilih menahan kata, menekan emosi dan berharap semuanya reda dengan sendirinya. Tapi semakin lama dipendam kemarahan itu justru tumbuh menjadi beban. Ingin dimengerti, tetapi sering kali yang didapatkan hanyalah jarak.
Meski begitu, setiap kali amarah mencapai puncaknya ada satu hal yang selalu menggagalkan niat untuk menyerah, yaitu ingatan tentang kebersamaan dan tawa yang pernah dibangun bersama sama dan tentang janji yang pernah diucapkan tanpa keraguan. Memaafkan bukan karena luka itu kecil tapi karena perasaan ini terlanjur dalam.
Sebagai laki-laki yang sering dituntut untuk kuat dan tenang, untuk tidak terlalu sering banyak mengeluh. Di balik itu semua, ada kemauan yang nyata. Yaitu ingin mencintainya dengan jujur tanpa harus terus-menerus melawan amarah diri sendiri. Sehingga hubungan ini menjadi tempat pulang bukan arena pertarungan emosi.
Tulisan ini adalah pengakuan bahwa cinta tidak selalu romantis dan lembut. Kadang ia hadir dalam bentuk kegelisahan, kemarahan, dan kelelahan yang tidak terlihat. Tapi selama rasa sayang masih lebih besar daripada ego yang ada maka memilih bertahan adalah hal yang sangat baik walaupun dengan hati yang sering luka dan perasaan yang terus diuji.
Sumenep, 30 Januari 2026
Penulis: Jesss










