SUMENEP, Limadetik.com – Pada musim panen tembakau tahun ini, petani mulai was-was. Sebab, harga tembakau kerap kali kurang menguntungkan para petani.

Menanggapi persoalan itu, Ketua Komisi II DPRD Sumenep, Jawa Timur, Nurus Salam menyarankan adanya kemitraan antara petani tembakau dengan pihak pabrikan. Hal itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi rendahnya harga tembakau rajangan.

“Harga tembakau rajangan ini memang tidak tentu, karena memang belum ada patokannya. Maka dari itu, kami rasa perlu adanya pola kemitraan antara petani dengan pabrikan,” katanya, Rabu (8/8/2018).

Politisi Gerindra menjelaskan, pola kemitraan yang bisa dicoba adalah, harus ada MoU antara pabrikan dengan petani tembakau sebelum melakukan penanaman. Isi dalam MoU itu diantaranya, bagaimana pola penanaman, pemupukan, lokasi penanaman dan harga minimal.

Sehingga, apabila sudah ada bentuk kerjasama seperti itu, maka petani tidak akan was-was saat mulai masuk pasa panen tembakau seperti saat ini.

Disamping itu, pria yang karib disapa Uyuk, berharap pemerintah juga turun tangan untuk menginisiasi harga yang kurang menguntungkan petani. Sebab, petani tembakau ini membutuhkan modal yang banyak saat menanamnya. Kalau sudah mengeluarkan modal banyak, pasti petani mengharapkan hasil yang maksimal pula.

“Pemerintah harus ada ditengah-tengah, bagaimana tidak penyakiti pabrikan dan juga tidak mengorbankan petani tembakau,” tukasnya.

Sebagaimana diberitakan limadetik.com,  dibeberapa kecamatan petani tembakau sudah melakukan panen. Harganya pun sangat variatif, seperti di Kecamatan Guluk-guluk harga tembakau rajangan kering antara Rp 35 Р45 ribu per kilogram, di Kecamatan Pasongsongan berkisar Rp 45 Р50 ribu per kilogram dan di Kecamatan Manding Rp 45-49 ribu per kilogram. (hoki/rud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here