SUMENEP, limadetik.com – Peristiwa tidak biasa terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Fenomena alam berupa api yang keluar dari dalam tanah muncul di Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget.

Tanah tegalan di belakang rumah milik warga bernama Siti Fatimah tiba-tiba mengeluarkan hawa panas luar biasa. Kabar tersebut pun langsung tersebar dan membuat warga penasaran.

“Awalnya saya tidak percaya saat menerima laporan dari warga, jika di belakang rumah Siti Fatimah terjadi fenomena alam, yakni adanya bara api,” kata Sekdes Kalianget Barat Mistoyo, Kamis (18/10/2018).

Menurutnya, kejadian ini berawal pada hari Senin (15/10/2018) sore saat suami Fatimah hendak mencari rumput untuk pakan ternak sapinya, saat lewat dilokasi tersebut tiba-tiba kakinya merasa panas seperti menginjak api.

“Berdasarkan informasi itu, saya ke lokasi, hawanya memang terasa panas, dan saat tanah digali dengan kayu, bara api itu semakin nampak, dan daun kering juga terbakar saat ditaruh di sekitar bara api,” bebernya.

Mistoyo berharap, kejadian alam ini tidak berbahaya kepada warga sekitar, dan ada tindak lanjut dari Pemerintah Daerah untuk menelitinya. Sehingga, masyarakat bisa tahu apakah itu berbahaya atau tidak.

“Semoga tidak terjadi apa-apa, dan saya harap segera ada tindak lanjut dari kejadian alam ini, agar warga tidak resah dan tahu apa sebenarnya yang terkandung di dalam tanah tersebut, sehingga mengeluarkan bara api,” tukasnya.

Sementara itu, Kabag ESDM Pemkab Sumenep, Abd Kahir terkesan ‘jual mahal’. Buktinya, saat dihubungi via telepon untuk dimintai ketengan soal peristiwa itu tidak ada respon. Begitu juga saat media ini hendak konfirmasi secara langsung, meskipun yang bersangkutan ada di ruang kerjanya, namun enggan menemui awak media.

“Maaf mas, bapak lagi ada kerjaan, tidak bisa ditemui,” kata salah satu stafnya yang keluar dari ruangannya.

Untuk sekedar diketahui, dalam beberapa kesempatan, Kahir memang kerap berusaha menghindar dari pertanyaan wartawan mengenai banyak hal terkait tupoksinya, seperti persoalan energi dan masalah migas. Akibatnya tidak sedikit rekan media sering merasa kesulitan untuk mengurai informasi dari Kabag ESDM.

“Kabag ESDM ini sering kali jual mahal. Tiap kali teman-teman media hendak konfirmasi selalu saja menghindar. Kalau tidak mau dimintai keterangan oleh media jangan jadi pejabat. Jadi petani saja,” kesal salah satu wartawan online yang berkantor pusat di Pamekasan usai gagal menemui Kahir. (hoki/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here