Artikel

Authentic Happines: Kritik terhadap Standar Sosial dalam Menentukan happiness

×

Authentic Happines: Kritik terhadap Standar Sosial dalam Menentukan happiness

Sebarkan artikel ini
Authentic Happines: Kritik terhadap Standar Sosial dalam Menentukan happiness
Khairil Anwar

Authentic Happines: Kritik terhadap Standar Sosial dalam Menentukan happiness

Oleh : Khairil Anwar
Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru

_________________________

Pendahuluan

LIMADETIK.COM – Kebahagiaan adalah salah satu tujuan hidup yang paling universal dan didambakan oleh manusia di seluruh dunia. Namun, dalam masyarakat modern, definisi dan pencapaian kebahagiaan sering kali dikendalikan oleh konstruksi sosial yang berlaku. Konstruksi sosial menciptakan serangkaian norma, nilai, dan harapan yang dianggap ideal dan patut dikejar, yang kemudian menjadi standar bagi individu dalam menentukan kebahagiaan mereka.

Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan teori tentang bagaimana kebahagiaan seharusnya tidak distandarisasi oleh konstruksi sosial, dampak negatif dari penyeragaman tersebut, serta menekankan pentingnya kebahagiaan individu yang sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan pribadi.

Konsep Konstruksi Sosial dan Happiness

Konstruksi sosial adalah sebuah konsep dalam ilmu sosial yang menjelaskan bagaimana realitas, norma, nilai, dan harapan dalam masyarakat dibentuk melalui interaksi sosial dan budaya. Menurut teori konstruksi sosial, apa yang kita pahami sebagai kebenaran dan kenyataan sering kali merupakan hasil dari kesepakatan kolektif dan bukan sesuatu yang inheren atau alami. Dalam konteks kebahagiaan, masyarakat menetapkan standar tertentu tentang apa yang seharusnya membuat seseorang bahagia, seperti kesuksesan finansial, status sosial, atau penampilan fisik.

Berbagai teori psikologi menawarkan perspektif yang lebih mendalam tentang kebahagiaan. Salah satunya adalah teori kebutuhan Maslow, yang mengajukan hierarki kebutuhan manusia. Menurut Maslow (1943), kebahagiaan dicapai melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar hingga kebutuhan aktualisasi diri yang berbeda-beda bagi setiap individu. Pada tingkat tertinggi, yaitu aktualisasi diri, individu mencapai kebahagiaan melalui pencapaian potensi maksimal mereka dan realisasi diri.

Teori kesejahteraan subjektif, yang dikembangkan oleh Diener (1984), menunjukkan bahwa kebahagiaan ditentukan oleh persepsi individu terhadap kehidupannya sendiri, bukan oleh standar eksternal. Teori ini menekankan pentingnya pengalaman subjektif, seperti kepuasan hidup, emosi positif, dan rendahnya tingkat emosi negatif, sebagai indikator kebahagiaan. Dengan demikian, kebahagiaan adalah pengalaman yang sangat personal dan subjektif.

Kritik Terhadap Standarisasi Kebahagiaan Berdasarkan Konstruksi Sosial

1. Reduksi Kebahagiaan ke dalam Bentuk yang Sempit:

Ketika kebahagiaan distandarisasi oleh konstruksi sosial, makna kebahagiaan sering kali direduksi menjadi indikator-indikator tertentu yang dianggap universal, seperti kekayaan, popularitas, atau prestasi akademik. Reduksi ini mengabaikan aspek-aspek lain dari kebahagiaan yang bersifat pribadi dan tidak dapat diukur secara objektif, seperti kepuasan batin, hubungan yang bermakna, dan pencapaian personal yang unik. Kebahagiaan yang direduksi ini menjadi semacam produk homogen yang tidak lagi mencerminkan keragaman pengalaman manusia.

2. Tekanan Sosial dan Stres:

Standarisasi kebahagiaan dapat menimbulkan tekanan sosial yang besar bagi individu yang merasa harus memenuhi ekspektasi masyarakat. Mereka yang tidak dapat mencapai standar tersebut mungkin merasa gagal atau tidak berharga, yang pada akhirnya dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi. Penelitian oleh Twenge dan Campbell (2002) menunjukkan bahwa tekanan untuk memenuhi standar sosial dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, menciptakan lingkaran setan di mana individu terus merasa tidak memadai dan tertekan.

3. Pengabaian Keberagaman Individu:

Setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan nilai-nilai yang berbeda. Standarisasi kebahagiaan tidak mempertimbangkan keberagaman ini, dan cenderung memaksakan satu ukuran untuk semua. Hal ini mengabaikan fakta bahwa apa yang membuat seseorang bahagia mungkin tidak relevan atau bahkan bertentangan dengan kebahagiaan orang lain. Dengan demikian, standarisasi kebahagiaan yang kaku dapat merusak pluralitas dan kekayaan pengalaman manusia, menghapuskan identitas unik yang dimiliki setiap individu.

4. Komodifikasi Kebahagiaan:

Dalam masyarakat kapitalis, kebahagiaan sering kali dikomodifikasi dan dijadikan alat untuk mendorong konsumsi. Produk-produk dan layanan dijual dengan janji bahwa mereka akan membawa kebahagiaan, yang pada akhirnya menciptakan siklus konsumerisme tanpa akhir. Penelitian oleh Kasser dan Ryan (1996) menunjukkan bahwa fokus yang berlebihan pada tujuan-tujuan materialistik dapat mengurangi kesejahteraan dan kebahagiaan individu. Individu terus-menerus mengejar kebahagiaan melalui pembelian barang dan jasa, yang sebenarnya hanya memberikan kebahagiaan sementara. Komodifikasi kebahagiaan ini menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan dapat dibeli, yang pada akhirnya memperdalam ketidakpuasan dan frustrasi.

Mengembangkan Authentic Happiness

Kebahagiaan autentik adalah kebahagiaan yang didasarkan pada nilai-nilai dan tujuan pribadi, bukan pada standar eksternal yang dipaksakan oleh konstruksi sosial. Kebahagiaan ini dicapai melalui refleksi diri, pemahaman akan diri sendiri, dan pengejaran tujuan-tujuan yang sejati bagi individu tersebut. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat membantu individu mengembangkan kebahagiaan autentik:

1. Refleksi Diri:

Mengambil waktu untuk merenungkan apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri adalah langkah pertama menuju kebahagiaan autentik. Ini melibatkan pemahaman akan nilai-nilai, minat, dan tujuan pribadi, serta mengevaluasi apakah tindakan dan keputusan sehari-hari sudah selaras dengan hal-hal tersebut. Penelitian oleh Lyubomirsky et al. (2005) menunjukkan bahwa refleksi diri dan kesadaran akan tujuan hidup dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan individu.

2. Menetapkan Tujuan yang Bermakna:

Menetapkan tujuan yang bermakna dan realistis dapat membantu individu merasa lebih puas dan terpenuhi. Tujuan-tujuan ini harus mencerminkan nilai-nilai dan aspirasi pribadi, bukan hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial. Penelitian oleh Sheldon dan Elliot (1999) menemukan bahwa individu yang menetapkan dan mengejar tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.

3. Menghargai Hubungan yang Bermakna:

Hubungan yang bermakna dengan orang lain adalah salah satu sumber kebahagiaan yang paling kuat. Menghabiskan waktu dengan keluarga, teman, dan komunitas dapat memberikan dukungan emosional, rasa keterikatan, dan kepuasan sosial. Penelitian oleh Diener dan Seligman (2002) menunjukkan bahwa individu yang memiliki hubungan sosial yang kuat dan bermakna cenderung lebih bahagia dan puas dengan hidup mereka.

4. Praktik Syukur:

Syukur adalah praktik yang dapat meningkatkan kebahagiaan dengan mengarahkan perhatian pada hal-hal positif dalam hidup. Penelitian oleh Emmons dan McCullough (2003) menunjukkan bahwa individu yang secara rutin mempraktikkan syukur cenderung memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dan lebih mampu mengatasi stres.

5. Mengembangkan Keterampilan Emosional:

Keterampilan emosional, seperti empati, regulasi emosi, dan resiliensi, dapat membantu individu menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Pendidikan emosional dan dukungan psikologis dapat menjadi alat penting dalam pengembangan keterampilan ini. Penelitian oleh Salovey dan Mayer (1990) menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berhubungan dengan kesejahteraan yang lebih baik dan kemampuan untuk menghadapi tekanan hidup.

Kesimpulan

Kebahagiaan adalah pengalaman yang sangat pribadi dan subjektif yang tidak seharusnya distandarisasi oleh konstruksi sosial. Standarisasi kebahagiaan mengurangi makna kebahagiaan menjadi indikator – indikator yang sempit, menciptakan tekanan sosial yang besar, mengabaikan keberagaman individu, dan mengarah pada komodifikasi kebahagiaan. Sebaliknya, kebahagiaan autentik, yang didasarkan pada nilai-nilai dan tujuan pribadi, dapat memberikan kepuasan dan kesejahteraan yang lebih mendalam dan bertahan lama.

Dengan menghargai keberagaman pengalaman manusia dan mendukung pencarian kebahagiaan yang autentik, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai kekayaan identitas individu.