Oleh: Hasin Abdullah
Hampir dua tahun kurang 8 bulan Irjen Pol. Boy Rafli Amar memimpin Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Suksesi kepemimpinannya di lembaga antiteror tidak diragukan lagi karena pernah menjadi Kepala Unit Negosiasi Subdetasemen Penindak Detasemen Khusus 88 yang merupakan mitra Polri dalam memberantas radikalisme, dan terorisme.
Sebelum menahkodai lembaga yang fokus pada pencegahan paham radikal-teror. Kepemimpinan Boy Rafli adalah gransi politik besar yang menjadi tantangan serius pemerintah untuk membuktikan komitmennya dalam upaya memberantas gurita radikalisme, dan terorisme. Di sisi lain, melestarikan imporisasi ideologi trasnansional yang mengancam keutuhan negeri ini.
Indonesia sebagai salah satu negara yang relatif masif mendapat pelbagai ancaman, fenomena kekerasan terjadi di mana-mana hingga terror kian tersebar luas membuat masyarakat semakin resah, dan takut. Namun, di tengah persoalan itu, pemerintah tidak perlu bersikap khawatir secara berlebihan karena kinerja Boy Rafli mampu membalikkan situasi, dan kondisia.
Selain ia memiliki kedekatan emosional dengan pemeritah, juga tampak akrab bersama ulama. Jalinan ulama dan ulil ‘amri ini menjadi momentum tepat baginya untuk mengawasi potensi intoleransi, dan radikalisme. Rekam jejaknya semenjak berkarir di Densus 88 antiteror telah menghasilkan prestasi kongkret dalam konteks pemberantasan terorisme.
Dilansir Jawapos.com pakar komunikasi Aqua Dwipayana mengatakan, optimis Boy Rafli sukses memimpin BNPT. Sangat tepat Kapolri Jenderal Idham Azis memberikan amanah yang sangat mulai dan strategis itu kepada mantan Kapolda Papua tersebut. Baginya, ia mendapat penilaian baik karena kemampuannya dalam berkomuniasi, dan kelebihan kelebihannya.
Jejak Kepemimpinan
Kedatangan Boy Rafli menggantikan pucuk kepemimpinan Suhardi Alius telah menghadirkan hawa baru di tubuh BNPT. Oleh karenanya, pengalamannya sangat kompleks mulai dari memimpin Densus 88 antiteror, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Wakelamdiklat Polri, Kapolda Banten, dan Kapolda Papua, hingga posisi struktural seperti sekarang.
Perubahan demi perubahan bangsa kian bertumbuh kembang karena kiprahnya yang belum lama di BNPT. Sekalipun paham intoleransi, dan radikalisme belakangan ini kembali marak, serta aksi teror terjadi di setiap rumah ibadah. Tentu, peristiwa ekstrem tersebut tidak memupus harapannya untuk membersihkan negeri ini dari arus deras aksi radikal-teror.
Dalam kunjungan silaturahmi kebangsaan Boy Rafli ke Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang [20/10] menegaskan, ia mengajak ulama dan mengajak masyarakat untuk belajar agama demi negara guna menangkal radikalisme, dan terorisme sekaligus mencintai Indonesia. Bahkan, bersama generasi mudalah kita harus memimpin negara Indonesia di masa yang akan datang.(sumber: republika).
Ajakannya merupakan sinyal positif bahwa ulama, dan pesantren harus berperan penting membantu BNPT menanggulangi radikalisme, dan terorisme. Dengan kata lain, memberikan informasi atau ilmu tentang bagaimana belajar agama dengan rahmatan lil ‘alamin. Kepemimpinannya yang demokratis, dan akomodatif ini dapat memperkuat tali persatuan bangsa.
“Menurut hemat saya, kepemimpinan Boy Rafli menjadi ajang politik kebangsaan yang orientasinya terhadap menguatnya persaudaraan kemanusiaan (ukhwah basyariyah), persaudaraan antar umat Islam (ukhwah Islamiyah), dan persaudaraan kebangsaan (ukhwah wathaniyah). Kesadaran inilah yang menunjukkan kepemimpinannya yang etis, dan berintegritas”
Komitmen
Misi Boy Rafli fokus terhadap pendekatan konten-konten kreatif sebagai bentuk soft approach untuk mencegah radikal terorisme: Pertama, soft power. Kedua, smart power. Gaya penanganan ini sebagai role model, agar aksi radikal teror tidak lagi mengulang kejadian serupa. Misalnya, konten Indonesia damai yang tujuannya adalah pendekatan kontra narasi.
Semua kebijakan itu memang dalam rangka mendorong deradikalisasi di BNPT. Deradikalisasi merupakan agenda strategis yang menjadi fokus utama kepemimpinan Boy Rafli bahwa ia memiliki komitmen optimis untuk menangkal intoleransi, radikalisme, dan aksi teror. Alhasil, tidak ada lagi bahaya laten yang menggerogoti suasana batin kebangsaan.
Di sisi yang bersamaan, kepemimpinannya menjadi hal yang paling krusial karena mendorong pengentasan radikalisme melalui konten narasi damai di media sosial. Dalam konteks ini, nasionalisme Boy Rafli tentu tidak dapat diragukan lagi terhadap masa depan negara kesatuan republik Indonesia, dan wawasannya sebagai benteng pertahanan bagi ideologi negara.
Ditambah lagi, latar belakang karirnya Boy Rafli adalah dari kalangan aparat penegak hukum alias polisi penjaga stabilitas keamanan dalam negeri. Pengalaman dan kemampuannya merupakan senjata yang sangat kompleks sebagai alat efektif untuk menjaga eksistensi Pancasila, dan toleransi dari bahaya radikal. Bila perlu, memproduksi peraturan-peraturan baru.
Gaya kepemimpinan Boy Rafli yang lemah lembut mampu merevitalisasi dialog antar agama yang hasilnya terhadap imunitas persatuan bangsa, ialah terkait pesannya yang mengajak tokoh lintas agama untuk menangkal intoleransi, dan radikalisme. Ia pun relatif optimis mendorong semua elemen supaya menebar narasi damai secara santun, dan masif.
Olah kepemimpinannya mencerminkan karakteristik yang etis, bermoral, dan menjunjung tinggi hukum negara. Selain itu, memang ia memakai pendekatan persuasif, tetap juga menggunakan langkah-langkah pendekatan edukatif. Adalah berupa penguatan sosialisasi deradikalisasi, dan literasi digital kebangsaan ke setiap pondok pesantren, dan lembaga formal.
Boy Rafli memimpin dengan visi-misi yang menjadikan BNPT sebagai lembaga yang transformatif, dan mampu membersihkan negeri ini dari gangguan-gangguan ideologi transnasional. Reformasi BNPT kali ini adalah langkah kongkret dalam menjaga eksistensi negara, dan Pancasila. Karena itu, kepemimpinnya yang visioner merupakan teladan masa depan yang harus dipertahankan.
Penulis, adalah Fungsionaris Gerakan Indonesia Optimis.